Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 53 - Semakin dibuat Terkejut


__ADS_3

Erna yang tengah berada di ruang keluarga bareng Devan dan juga Alina mendengar ponselnya berdering.


"Dari Rama. Apa Rama sudah ada di kota?" batin Erna.


"Siapa yang menelpon, Nek? Kok wajah nenek kelihatan sesuatu," tanya Alina.


"Tidak, ini ada teman nenek yang menelpon dan ini baru ingat kalau hari ini ada pertemuan arisan." Nek Erna beranjak berdiri.


"Van, Mama keluar sebentar. Ada perlu."


Devano tidak curiga sedikitpun, ia hanya mengangguk membiarkan Mamanya pergi.


"Nenek mau pergi kemana? Aku malah tidak yakin kalau Nenek bakalan bertemu teman-temannya."


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, nenek kamu memang suka keluar bareng teman seusianya. Jadi biarkan nenekmu pergi dan kamu lanjutkan tugas mu mempelajari setiap pelajaran yang papa berikan."


"Pah, resep-resep kue ini bikin aku pusing. Nanti sajalah belajarnya sambil praktek."


"Ide yang bagus, Jadi sekarang juga kita praktek bikin kue."


"Pah!" Alina yang malas tentu saja kaget papanya memaksa dia melakukan hal yang tidak ia sukai. Alina beda dengan Naina. Naina lebih suka belajar banyak hal termasuk belajar memasak dan bikin kue, tapi tidak dengan Alina yang lebih banyak menyukai jalan-jalan bareng teman-temannya dan lebih suka menghamburkan banyak uang.


"Tidak boleh menolak! Ini papa lakukan supaya kamu pandai dalam segala hal."


"Ck, malas sekali belajarnya." Namun, Alina tidak bisa membantah jika Papanya sudah menyuruhnya.


*****


Nek Erna sudah berada di luar lebih tepatnya di dalam kendaraan taksi.


( "Halo, Rama." )


( "Nek, apa Naina ada di rumah? Aku hubungi dia dari tadi tidak kunjung diangkat juga." )


( "Naina sedang mengirimkan catering pesanan seseorang. Mungkin sedang sibuk jadinya tidak di angkat. Kamu mau mengajak Nenek dan Naina ke rumah kamu 'kan?" )


( "Iya, Nek. Tapi kalau Nainanya sedang bekerja bagaimana? Pasti ganggu dia." )


( "Nenek rasa sudah selesai. Soalnya Sudah dari tadi pagi Naina pergi. Kamu jemput saja dia di jalan xxx. Itu alamat orang yang memesan makanan pada kita." )


( "Ok, deh. Rama jemput Naina dulu. Nenek langsung ke alamat yang Rama kirimkan ya. Nanti kita ketemu di sana." )


Dan obrolan mereka berakhir dengan Rama yang mengirimkan lokasi rumahnya. Nek Erna memperhatikannya. "Perumahan elit ini mah. Apa Rama punya rumah di daerah sana? Ini rumah di tinggali oleh orang-orang kaya." Erna kaget saat tahu alamat yang di berikan Rams adalah perumahan orang kaya semua.


*****


Setelah mendapatkan alamat dimana Naina berada, Rama pun pergi. Sepanjang jalan ia menyusuri jalan menuju tempat yang di maksud.

__ADS_1


Jalanan yang sepi membuat Rama memudahkan dirinya menggunakan motor dalam kecepatan yang cukup kencang. Hingga apa yang ia cari bisa ia temukan tak jauh dari pinggir jalan.


"Itu dia orangnya." Lalu Rama memberhentikan motornya tidak jauh dari Naina dan Mawar yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Sebelum Rama datang, Naina masih syok dengan kenyataan yang ia dapatkan barusan. Ia masih tidak percaya Rama memberikan uang sebanyak itu.


"Nai, lo kenapa bengong gitu? Lo kesambet syetan atm?" ujar Mawar heran melihat Naina melamun. Ia melambaikan tangannya ke hadapan Naina.


"Hah! Tidak. Tadi aku hanya sedikit pusing saja, mungkin kelelahan dari semalam belum istirahat total."


"Hmmm gue sih percaya, lo kan mengerjakan tugas pesanan. Ih iya, makasih ya tipsnya. Sumpah banyak banget tahu. Baru ikutan udah di kasih dia juta. Lo baik banget sih jadi sahabat gue."


Naina tersenyum. "Sama-sama, itu hadiah karena lo sudah bantuin gue dalam banyak hal. Nanti kalau ada pesanan lagi lo harus jadi asisten gue."


"Pastinya dong, lumayan menambah uang jajan gue."


Tid.. tid ...


Naina menoleh kebelakang. "Rama."


"Itu kan pacarnya Alina, mau ngapain?"


"Mantannya, mereka udah putus."


"Oh, baru tahu gue. Tapi Lo juga udah putuskan sama di brengsekk Mario, kayaknya cocok tuh." Mawar menyenggol bahu Naina tersenyum usil.


"Kita ketemu di sini. Apa kamu sudah selesai? Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat, nenek sudah otw ke sana dan aku di suruh jemput kamu."


"Kemana?" Naina mengerutkan keningnya berpikir dulu, ia lupa pada janji yang sudah di sepakati.


"Nai, lo dan dia mau kemana? Kok Nenek lo ikutan juga?" tanya Mawar penasaran.


"Hmm gak tahu."


"Buruan, naik. Kak Mawar, aku pinjam Naina nya dulu ya."


"Nai, ini seriusan kamu mau ninggalin gue di mari? Tega banget sih, lo."


"Aduh, gimana ya. Gue juga harus segera ketemu nenek gue. Kalau beliau sudah bicara ya gue harus ikuti kemauannya. Sorry ya, gue pergi dulu." Naina pun menaiki motornya Rama.


"Ya sudahlah, dan lo," tunjuknya pada Rama. "Jagain sahabat gue, jangan biarkan dia lecet."


"Tenang saja, gue akan jaga dia dengan seluruh jiwa raga gue."


*****


Nek Erna sudah sampai di depan rumah yang Rama tunjukan. Ia menatap tidak percaya bangunan rumah yang terbilang mewah di antara rumah yang lainnya.

__ADS_1


"Ini beneran rumah Rama? Aku tidak mimpi di ajak ke rumah bocah ingusan itu? Sumpah, ini mah gede banget. Darimana dia dapat uang sebanyak itu?" gumam Nek Erna bertanya-tanya apakah ia mimpi atau tidak. Hingga suara seseorang mengalihkan perhatian dia.


"Nek, nenek cari siapa?" tanya anak muda.


Nek Erna menoleh. "Saya cari Rama. Ini beneran rumahnya Rama?"


"Oh Rama. Beneran ini rumah Rama, Nek. Kita juga mau ketemu Rama, Nek. Ayo masuk."


"Loh, kok kamu bisa masuk? Rama nya tidak ada."


"Nek, kita ini teman-temannya, Rama. Kalau hanya masuk kesini mah udah hal biasa. Soalnya kantor kita dekat dari sini. Kami kesini sekalian mau laporan soal kerjaan."


"Kerjaan? Kantor? Emangnya Rama kerja apaan sampai punya kantor segala?" Erna semakin di buat penasaran oleh sosok Rama.


"Nenek tidak tahu kalau Rama itu bos game? Nama kantornya GAME'S CORPORINDO. Rama juga seorang pembalap," kata orang itu memberitahu pekerjaan Rama.


"Apa? Perusahaan itu kan yang berdiri di jalan mangga, dan berdiri diantara perusahan property dan mall." Semakin terkejut saja mengetahui sebuah kenyataan tentang Rama.


"Rian, aduh! Ngapain lo bongkar rahasia Rama di depan nenek ini? Lo tahu kan dia siapa? Neneknya Alina." Dan yang datang kesana adalah Deni serta Rian. Mereka ingin bertemu sekaligus membicarakan tentang pekerjaan mereka.


"Tahu, lalu?" dengan tampang polosnya Rian tidak merasa bersalah.


"Ka-kalian teman-temannya Rama?"


"Iya, Nek. Aku Rian dan ini Deni."


"Tapi Alina bilang kalau kalian berdua itu suka ..."


"Suka nongkrong, ngajak Rama balapan, kadang jadi preman pasar, dan Alina pikir kita membawa pengaruh buruk?" celetuk Deni mencebik kesal jika menyangkut nama Alina.


"Iya, itu ..."


"Alina tidak tahu tentang kami bertiga. Justru cucu nenek itu terlalu mengatur-atur Rama dan juga egois, kecentilan pula, sok cantik, dan manja juga. Apa yang dikatakan Alina tidaklah benar."


"Deni, dia itu neneknya loh."


"Gue tidak peduli."


"Lupakan tentang Alina. Nenek ingin tahu tentang Rama. Tolong jelaskan siapa Rama yang sejelas-jelasnya."


"Tunggu Nek, kami tidak bisa seenaknya memberitahu siapa Rama."


"Rama itu cucu mantuku, jadi Nenek harus tahu siapa Rama."


"Maksud Nenek bilang cucu mantu apa? Rama menikah gitu?" ujar Rian.


"Dia sudah menjadi suaminya Naina," kata Nek Erna.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2