Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 79 - Sisi Lain Rama


__ADS_3

Rama membelah jalanan kota menuju tempat tongkrongan dia. Hingga tidak berselang lama Rama tiba di daerah pasar yang akan ia kunjungi keamanannya. Rama memarkirkan motornya dan turun menghampiri Deni, Rian, dan beberapa preman pasar yang ada di sana.


"Wih Bos kita sudah sampai nih, apa kabar bro?" Kata salah satu kepala preman yang juga mengenal Rama dan dia adu tos dengan Rama.


"Alhamdulillah baik, Bang." Kata Rama tersenyum ramah. Dan mereka semua silih berganti menyapa Rama.


"Bagaimana keamanan pasar di sini Bang? Apa semuanya aman?" tanya Rama.


"Aman bos, tidak ada lagi preman pasar tukang palak, tidak ada lagi preman pasar yang suka menyopet, dan kalaupun ada tentu kita akan menangkapnya. Semuanya aman terkendali, Bos."


"Betul Ram. Tadi gue sama Rian dan anak-anak yang lainnya sudah berkeliling bertanya ke setiap pedagang tentang preman yang suka malak yang selalu merajalela, mereka bilang sudah tidak ada lagi sejak kita membentuk tim preman pasar soleh," kata Deni.


"Betul itu, malah sebagian orang ada yang mau bergabung dengan kita dan bertaubat serta ingin belajar mengenai agama," sambung Rian.


"Alhamdulillah, itu suatu peningkatan. Dan pastikan semuanya benar-benar bertaubat ajak mereka ke jalan yang benar dan berikan mereka pekerjaan yang layak. Meskipun tugas mereka hanya sekedar mengontrol keamanan, tapi mereka harus diberi apresiasi yang cukup agar mereka tidak kembali ke jalan yang salah lagi. Ya semisal bayaran atas kerja mereka menjaga keamanan pasar sini."


"Itu sih sudah kami persiapkan, dan rumah singgah yang lo bangun untuk mereka pun sudah beres. Tinggal lo ngecek apa saja kekurangannya," kata Deni.


"Benar, Bos. Tinggal Bos saja yang belum melihatnya. Dan sebelumnya kami ucapkan terima kasih kepada bos dan kawan-kawan yang sudah bersedia memberikan kami pekerjaan, memberikan kami tempat tinggal yang layak. Kalau bukan karena kalian bertiga mungkin kami masih menjadi gelandangan dan masih memalak orang-orang di sini. Sekali lagi terima kasih, Bos." kepala preman itu langsung memeluk Rama dengan mata yang berkaca-kaca.


Ramadhan Restu Al-kahfi , salah satu pengusaha muda yang memiliki perusahaan di bidang game yang di gelutinya beserta dua rekannya Deni dan Rian. Mereka membentuk sebuah komunitas preman-preman pasar maupun preman jalanan untuk bergabung dengannya, merangkul mereka, mengajak mereka bertobat secara bersama-sama sekaligus memberikan sebuah pekerjaan yang mungkin saja sederhana namun bermanfaat bagi semua orang.


Rama terlebih dulu mencari tahu alasan kenapa mereka sampai terjun ke ranah yang disebut kriminal, tapi juga tidak menghakimi orang-orang itu. Apa yang Rama lakukan awalnya begitu sulit dan tidak mudah menaklukkan kerasnya orang-orang di sana. Namun, dengan tekad dan kegigihan yang kuat membuat Rama berhasil membentuk sebuah komunitas preman soleh.

__ADS_1


Dia juga berhasil mendirikan rumah singgah untuk mereka yang tidak memiliki rumah. Baik para gelandangan, baik para preman, baik untuk para anak-anak yatim piatu. Dan kegiatannya itu didukung oleh teman-temannya serta orang tua teman-temannya. Meskipun orang tua Rama selalu tidak ingin tahu mengenai anaknya, tapi Rama tidak memperdulikan itu selama dia mampu berbuat baik terhadap sesama.


"Sama-sama, selama gue mampu membantu kalian, akan gue lakukan karena kita saudara. Kita sama dimata Allah."


"Insyaallah kita akan terus bersama mendirikan dan menyebarkan kebaikan untuk sesama," ucap kepala Preman bernama Jago.


Dari balik itu semua ada Naina yang mendengarkan. "Rama, satu hal yang baru aku tahu mengenai kamu, kamu seorang pria yang di sayangi oleh mereka. Aku kagum dengan apa yang kamu lakukan," batin Naina mendengar semua perkataan Rama dan kawan-kawan di balik warung yang tertutupi oleh poster besar


"Berhubung lo di sini, kita keliling lagi saja," kata Deni menyuarakan pendapatnya.


"Nah, hayu, gue siap." Balas Rian.


"Baik, Bos. kita mah akan selalu kompak mengontrol pasar di sini," kata Mang Jago kepala preman pasar.


"Ya sudah sekarang kita berpencar kembali keliling," kata Rama.


Lalu Rama, Deni, Rian, dan satu orang bernama Ubay berkelompok dan menghampiri kios minuman yang ada di sana.


"Assalamualaikum mang Joko, gimana nih mang aman tidak hari ini?" tanya Rama sambil masuk dan menyibakkan spanduk yang menutupi warung mang Joko.


Naina yang sedang duduk di sana belum berani menoleh ke belakang karena ingin tahu apa yang akan Rama lakukan selanjutnya. Dia yang tengah duduk membelakangi Rama terus menunduk seraya mengaduk-aduk minuman nya.


"Tentu pastinya aman dong, 'kan yang jagain juga kalian orang-orang baik dan tentunya jawara dalam menaklukkan mereka yang hendak berbuat jahat," kata mang Joko berkata jujur sekaligus memuji keberanian mereka dalam mendirikan suatu komunitas pembela kebenaran.

__ADS_1


"Ah mang Joko bisa saja, kita mah bukan jawara atuh. Kita mah hanya manusia biasa dan segelintir orang-orang yang berdosa. Nah, daripada terus berbuat dosa mendingan kita membantu sesama, setidaknya dengan saling bantu Mungkin saja bisa mengurangi sedikit demi sedikit dosa yang ada dalam diri kita," kata Rama merendah.


"Wih, kalau Bos sudah berkata rasanya adem didengarnya. Namun, yang dikatakan Rama itu benar, Mang." Rian menimpali dan kagum atas pemikiran sahabatnya itu.


Mang Joko tersenyum dan kagum kepada mereka terutama kepada Rama yang selalu saja merendah dan juga terdengar agamis. "Oh iya, ini ada beberapa bungkus minuman buat kalian," kata Mang Joko seraya memberikan beberapa kantong plastik ke Rama dan kawan-kawan.


"Eh, apaan ini, Mang? Gak usah repot-repot, aku dan yang lainnya bukan untuk minta ini kok," ujar Rama tidak enak harus dikasih begitu saja, sedangkan ia tahu kalau itu barang jualan yang seharusnya dijual.


"Enggak repot, Rama. Ini itu udah sengaja amang bungkuskan buat kalian sebagai tanda terima kasih Mang Joko kepada kalian atas keamanan yang sudah tercipta di lingkungan pasar sini." Mang Joko tetap memaksa memberikan beberapa bungkus minuman es cendol yang sudah ia sengaja bungkuskan buat Rama dan kawan-kawan.


"Wih, kalau rezeki gak usah ditolak nih, ambil saja," ujar Ubay mengambil satu bungkus bagian dirinya.


"Betul itu, rezeki gak boleh ditolak selagi Mang Joko ikhlas memberikannya. Ikhlas 'kan Mang, ya?" tanya Rian yang juga mengambil satu bungkus buat dirinya.


"Ikhlas atuh kalau tidak ikhlas mah sudah mamang ambil kembali dan tidak mungkin mamang siapkan buat kalian," kata mang Joko terkekeh.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Makasih ya mang. Kalau mang Joko ikhlas mah Deni juga mau atuh," kata Deni yang juga mengambil satu bungkus dan mereka duduk membelakangi Naina.


"Sok atuh mangga di nikmati. Gratis tanpa di pungut biaya sepeserpun ini mah," kata Mang Joko dibarengi dengan candaan membuat mereka terkekeh.


"Ah mamang mah bisa saja. Kalau gitu Rama ambil ya, sekali lagi terima kasih minumannya." Rama terdengar tulus mengucapkan kata terima kasihnya dan juga terdengar sopan.


"Sama-sama."

__ADS_1


Berhubung tempat duduk sudah penuh, Rama akhirnya menoleh ke belakang dan ia pun duduk di samping Naina. Naina yang ada di sana menoleh ke samping, pun dengan Rama yang sedang menoleh juga.


"Loh, kamu!" ujar Rama terkejut baru menyadari keberadaan Naina di sekitarnya.


__ADS_2