
Ada kecanggungan terjadi antara Naina dan Rama. Di saat makan bersama pun Naina menunduk tidak berani mengangkat wajahnya karena masih malu kepada Rama. Sama halnya dengan Rama yang masih saja berdebar tidak menentu kala bayangan tubuh Naina terus saja terpikir di benaknya.
"Sial, bisa-bisanya gue kepikiran hal mesum begini? Baru kali ini gue berdebar melihat tubuh wanita." Yang biasanya suka ilfil jika melihat wanita berpakaian mini, tapi kali ini berbeda ketika melihat Naina.
"Nai, bukannya kamu akan mengajar ya? Emangnya mulainya kapan?" tanya Kania.
"Lusa, Mah. bareng dengan hari masuk semua sekolah." Namun Naina masih menunduk.
"Syukurlah kalau memang kamu sudah mulai mengajar. Papa harap kamu bisa mengamalkan ilmu yang kamu dapatkan dari sekolahmu. Tapi dimana sekolah yang akan kamu kunjungi?"
"Aku juga tidak tahu, Pah. Gimana lusa saja."
"Kamu mau ngajar dimana? Semoga saja di sekolahku supaya bisa dekat," celetuk Rama. Dan seketika mereka yang ada di sana menatap Rama.
"Ada apa?" Rama belum menyadari ucapannya.
"Kamu bilang apa? Supaya dekat? Maksudnya dekat dengan siapa?" tanya Alina menatap heran Rama.
"Eh!" Rama gelagapan memperhatikan mereka secara silih berganti. "Maksud aku ... biar kamu dekat dengan Naina."
"Naina? Sejak kapan kamu memanggil Naina dengan nama? Bukannya kamu selalu menyematkan Kakak saat memanggilnya?" tanya Devano.
"Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku malah keceplosan begini?"
"Aku yang nyuruh, Pah. Naina nyuruh Rama buat panggil nama supaya lebih akrab saja. Kakak sepertinya terlalu tua untuk di sebut. Jadinya aku nyuruh Rama manggil nama saja," jawab Naina.
"Ada yang aneh dengan mereka, tidak biasanya keduanya bersikap malu-malu kucing." Gumam Erna dalam hati yang menyadari adanya sesuatu diantara mereka. Ia yang seringkali memperhatikan sikap setiap cucunya dan orang yang dekat dengan cucunya tahu jika ada sesuatu yang di sembunyikan. Begitupun dengan Naina yang terlihat lebih banyak diam sejak adanya Rama di sana. Yang membuat Erna heran adalah, sikap keduanya yang terdengar lembut tidak seperti biasanya yang selalu bertengkar dan berbicara dengan nada tinggi.
"Tapi ada bagusnya juga sih, kalian berdua terlihat sangat akrab."
__ADS_1
Dan mereka semua menikmati sarapan bersama sampai semuanya selesai sarapan.
Rama sudah berada di depan Villa. "Om, Tante, terima kasih atas jamuan sarapannya. Rama pamit dulu."
"Kamu hati-hati ya, dan tolong sampaikan rasa terima kasih ku pada aki kamu yang sudah memberikan kami makanan," kata Devan.
"Sama-sama, Om." Dan Rama pun berpamitan pada kedua orangtuanya Naina.
Naina sendiri diam-diam memperhatikan Rama dan keluar lewat belakang. Ia ingin bicara sama Rama tentang kejadian tadi. Naina celingukan memperhatikan sekitarnya, merasa aman, Naina berlari keluar mengejar Rama yang berjalan kaki.
Namun tanpa Naina sadari Erna mengikutinya. Erna yang penasaran atas sikap Naina dan Rama mencurigai keduanya.
"Mau pergi kemana Naina? Dia mengendap-ngendap begitu seperti maling yang tidak ingin ketahuan saja. Aku harus memastikan sesuatu, ini tidak biasanya." Erna pun mengikuti Naina tanpa sepengetahuan Naina. Dia berjalan dengan jarak yang cukup jauh supaya Naina tidak sadar kalau ia ikuti.
Naina berlari mengejar Rama. "Rama tunggu!" pekiknya ketika jarak dari Villa cukup jauh.
"Aku mau bicara sama kamu soal yang tadi pagi. Kaku jangan mikir yang macam-macam tentang aku. Aku tadi baru bangun tidur dan tidak ..."
Rama tersenyum. "Oh masalah itu. Aku sih tidak memikirkannya karena memang itu hak kamu. Dan aku pun tidak keberatan karena memang kita sudah sah. Jadi tidak salah kan jika aku melihat apa yang ada di tubuh kamu?" tanya Rama sambil berjalan lagi. Naina juga mengikuti langkahnya.
"Kamu ngomong apa? Tidak begitu juga kali. Ingat ya, kita ini menikah rahasia, jadi jangan sampai mereka tahu dulu, aku belum siap."
Namun, tanpa mereka berdua sadari kalau mereka di ikuti oleh Erna dari belakang. Erna terkejut mendengar Naina dan Rama sudah menikah. Ia tidak percaya, tapi ingin tahu lebih jelas apa yang akan mereka bicarakan lagi.
"Aku tidak salah dengar kan? Naina bilang menikah rahasia? Apa itu artinya mereka berdua memang sudah menikah secara rahasia di belakang kita? Tapi kapan? Tidak mungkin itu terjadi."
"Naina, sekalipun nikah rahasia tapi kita sah tahu. Terus kamu ngapain mengejar aku?"
Naina memberhentikan langkahnya. Dia menunduk. "Apa kamu masih cinta sama Alina?" tiba-tiba Naina bicara seperti itu. Wajahnya kelihatan murung dan juga nada bicaranya terdengar bergetar.
__ADS_1
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
Mama Erna mencari tempat persembunyian di sekitar semak untuk mendengarkan pembicaraan keduanya. "Aku penasaran apa yang akan mereka bicarakan lagi?"
"Aku melihat Alina begitu menginginkan kamu lagi. Dia terlihat jelas masih menyukaimu, dan juga Alina selalu menunjukkan perhatiannya."
Rama menghela nafas berat. Kemudian memegang kedua pundak Naina, jari telunjuknya mengangkat dagu Naina.
"Dan Kamu berpikir aku juga masih memiliki perasaan yang sama, sama dia?" tanya Rama menatap lekat bola mata Naina yang juga menatapnya. Naina menganggukkan kepalanya.
"Nai, pernikahan bukanlah mainan yang seenaknya bisa dipermainkan dengan sesuka hati. Begitupun Dengan Cinta. Mungkin kemarin-kemarin Aku menyukai Alina sebagai pacarku, tapi sekarang aku tidak mungkin menyukainya lagi di saat ada hati seorang Istri yang harus aku jaga. Aku sudah pernah bilang sama kamu kalau aku akan menjalankan pernikahan ini secara serius. Jadi, Jangan pernah memiliki pikiran bahwa aku masih memiliki perasaan kepada Alina."
"Maksud kamu apa? Kamu sudah tidak menyukai Alina lagi?"
"Iya, dan seharusnya aku memang tidak mencintai Alina lagi karena ada kamu yang harus aku cintai."
Deg.
Naina tertegun, pun dengan Erna yang juga tertegun penuh keterkejutan kalau mereka memiliki hubungan secara diam-diam.
"Kenapa kamu mau mencoba mencintaiku?" tanya Naina tidak percaya kalau Rama ingin membuka hati yang untuk mencintai dia.
"Alasannya karena kamu istriku. Jadi hatiku, pikiranku, cintaku, memang seharusnya tertuju kepadamu bukan kepada wanita lain sekalipun itu adalah adikmu sendiri. Jadi, aku mohon untuk percaya sama aku kalau aku serius menjalankan ini semua dengan hati yang ikhlas. Sejak aku mengucapkan janji suci di hadapan para warga dan Pak kyai, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku. Aku tahu kalau hubungan kita tidak akan pernah mulus, tapi Aku percaya bahwa takdir yang mengikat kita adalah jalan kehidupan yang memang Allah tentukan untuk kita berdua."
"Jadi kalian sudah menikah!" sahut Erna keluar dari tempat persembunyiannya tidak tahan ingin menanyakan lebih jelas mengenai hubungan mereka.
Rama dan Naina menoleh, mereka terkejut ada Nek Erna di sana.
"Nenek Erna!"
__ADS_1