Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 92


__ADS_3

Selepas kepergian Rama dari rumahnya, Restu mendadak diam seribu bahasa memikirkan setiap perkataan putranya. Dia termenung seorang diri, duduk di sofa dengan tangan kanan memijat keningnya.


Ucapan Rama begitu menohok, ia tak pernah membayangkan kalau Rama akan mengatakan itu semua. Ia kembali teringat perdebatan mereka tadi.


"Papa tidak butuh anak-anak pembangkangan seperti kalian."


"Saat ini papa memang tidak membutuhkan aku dan juga Gilang, tapi suatu hari nanti papa pasti akan membutuhkan kita. Papa itu sudah tua, seharusnya memikirkan kesehatan Papa dan juga mengumpulkan amal baik termasuk berbuat baik kepada anak-anaknya. Kita sudah tidak punya mama lagi, kita hanya hidup bertiga tapi papa selalu bersikap semaunya saja. Rama bosan keluarga kita terus dalam pertengkaran. Rama ingin sekali kita hidup damai di masa-masa tua yang seharusnya saling mendukung satu sama lain."


"Pah, Hilang sudah dewasa, dia sudah memilih jalannya sendiri dan tidak mau mengikuti setiap perintah Papa, pun dengan Rama yang juga sudah memiliki kehidupan baru dan mungkin sebentar lagi kita bakalan semua akan memiliki kesibukan masing-masing dengan keluarga masing-masing. Rama hanya ingin, masa-masa tua Papa rukun dengan anak-anaknya, bahagia dengan menantu dan cucunya. Apa papa tidak mau merasakan itu semua? Apa Papa ingin terus egois oleh sikap Papa yang selalu ingin mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan anak-anaknya? Pah, Rama hanya ingin kita hidup damai tanpa harus saling menyakiti. Rama hanya ingin Papa me dukung apa yang Rama dan Hilang inginkan, hanya itu. Meskipun Rama dan Gilang nakal, tapi kita juga menginginkan keluarga yang harmonis."


"Apa Papa tidak merindukan kehadiran kita berdua di rumah ini? Apa papa tidak ingin melihat keberhasilan Gilang dalam mengelola usahanya sendiri meski hanya seorang penjual martabak? Apa Papa tidak ingin tahu menahu tentang ruang tangga Rama yang saat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja? Pah, sekali saja pikirkan kebahagiaan kita. Sejak Mama tiada, rumah ini berubah tak lagi ada yang namanya keharmonisan, tak ada lagi yang namanya canda tawa, tak ada lagi keceriaan berada di rumah ini. Yang ada hanyalah bentakan, pertengkaran satu sama lainnya, kesibukan masing-masing. Rama rindu keluarga kita yang dulu terlepas dari perbuatan papa yang selalu membandingkan Rama, terlepas dari sikap Rama yang suka melawan papa."


"Kalau Papa terus bersikap seperti ini Rama yakin tidak akan ada kebahagiaan dan akan hanya ada kesunyian dan kekosongan di relung hati papa. Dan ih iya, Rama kesini hanya ingin melihat papa apakah baik-baik saja atau tidak? Saat sudah melihat Papa yang kelihatan baik-baik saja, Rama merasa lega. Sesungguhnya Rama dan Gilang merindukan Papa. Kami rindu berkumpul dan kami juga menyayangi papa. Kalau Papa ingin bertemu dengan Gilang, dia berada di jalan raya rindu atas nama toko martabak Manis bikin candu."


Dan Restu tak sedikitpun menyela setiap ucapan Rama yang terdengar lirih bersifat kesedihan.


Kepala Restu semakin pusing, ia terus memijat keningnya sambil berpikir atas sikap dirinya yang keterlaluan terhadap kedua putranya.


"Apa aku terlalu jahat untuk mereka berdua? Apa aku ini benar-benar egois? Rama memang benar kalau aku sebenarnya merasa kesepian di rumah sebesar ini. Kadang aku udah juga merindukan keberadaan mereka tanpa mereka sadari," lirih Restu.


******


Tiada hari terlewatkan oleh Naina saat kata Rinti terus menyapa, namun ia tidak ingin bertemu Rama karena malu dan juga kesal suaminya pergi tak ku Jung kembali. Sudah satu Minggu lamanya mereka tidak bertemu dan tidak berkomunikasi.


Rasa sesak kembali datang mengingat Rama benar-benar dalam ucapannya. Ia ingin sekali mencari sosoknya memarahi Rama yang pergi membawa kerinduan untuknya.


"Nek, Mah, Pah. Aku tidak bisa begini terus, aku ingin ketemu Rama tapi dia tidak mau ketemu aku. Aku harus bagaimana?" Naina menatap lirih silih berganti tiga sosok yang disayang.


"Temui dia dan bilang padanya kalau kamu merindukan dia dan tidak mau berpisah dengannya. Rama tidak akan menemui kamu dulu selama kamu belum mengerti apa yang kamu inginkan dan dia tidak akan kesini sampai kamu membatalkan keinginan kamu untuk bercerai," kata Erna yang pernah mendapatkan pesan dari Rama

__ADS_1


"Iya, Naina, kamu yang harus mengejarnya. Jangan ragu untuk berkata jujur sama isi hati kamu. Jangan sia-siakan sosok pria yang sudah bikin itu sempurna karena di luaran sana banyak wanita yang mengincar pria muda seperti Rama. Apa kamu mau jika Rama beneran di ambil wanita lain?"


Naina cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Aku belum siap kehilangan dia, Mah. Aku sudah terlanjur mencintainya. Kebersamaan kita membuat aku merasakan perasaan itu dan ketidak adaan dia di sini membuat aku semakin yakin kalau aku menginginkannya di sisiku." Mata Naina berkaca-kaca.


"Maka dari itu kembali lah pada Rama. Dia ada di kedai martabak manis bikin candu," kata Devano sang papa.


******


Kedai Martabak.


Selain sibuk mengerjakan tugas kerjaannya meluncurkan beberapa game baru, Rama juga sering mampir ke tempat kakaknya berada.


Gilang tidak main-main dalam ucapannya, ia serius untuk membangun usahanya sendiri dan kini kedai martabak yang ia bangun sangatlah ramai pengunjung meski baru berdiri dua bulan lalu.


Kedai Martabak yang buka dari jam sepuluh siang sampai jam sembilan malam itu menjual aneka jenis martabak. Peminatnya pun sudah banyak dan cukup untuk menghidupi kebutuhan Gilang sehari-hari dan menabung buat masa depannya serta mencicil utang pada adiknya.


"Gue sih mau, Bang. Namun gue memberikan. Naina kesempatan untuk memikirkan segalanya secara sendirian. Gue tidak mau gegabah mengikuti keinginannya yang menginginkan berpisah, gue tidak mungkin segoblokk itu melepaskannya."


"Tapi kasian bini lo, Ram. Mungkin dia sedang menangis menyesali semuanya," kata Rian.


"Sesekali hubungi dia, lah. Siapa tahu dia gengsi mau mengakuinya. Yang namanya perempuan itu kadang tidak bisa mengungkapkan keinginannya, hanya bisa menangis dan diam sebagai tindakan yang sering dilakukannya. Mendingan lo duluan yang hubungi dia dan tanya baik-baik lagi. Kalau lo tidak berbuat sesuatu tidak akan ada kemajuan, yakinlah," kata Deni menasehati Rama.


"Kata Deni benar, Ram. Cewek itu sulit di mengerti. kadang tidak mau tapi mau, kadang cuek tapi diam-diam ingin di perhatikan." Gilang menimpali.


"Kalau dia sampai beneran menyerah bagaimana? Apa lo siap kehilangan dia di saat lo sudah mengambil segalanya? Lo enak gak ada bekasnya, lah cewek? Kalau udah hilang gak bisa kembali, dan gue yakin di luaran sana banyak pria yang bakalan ngantri jandanya," sahut Rian.


"Termasuk gue," kata Deni membuat Rama melototkan matanya.


"Sialan kau, enak saja bicara seperti itu. Gue tidak akan menjanda kan dia."

__ADS_1


"Makanya lo pulang dan bicara baik-baik sama dia. Lo bujuk dia supaya tetap berada di sisi Lo karena gue yakin dia juga menginginkan lo di sisinya," kata Deni.


"Nanti gue pulang habis selesai makan." Namun tiba-tiba ponselnya Gilang berdering.


"Papa nelpon, tumben sekali?" kata Gilang penasaran dan juga mengangkat telpon dari papanya. Gilang tidak percaya Papanya menghubungi duluan.


( "Hallo, Pah. Ada apa?" )


( "Apa Rama saat ini sedang bersama kamu, Gilang?" )


( "Rama? Ada, dia lagi duduk dengan Gilang. Kenapa?" )


Rama mengerutkan keningnya ketika Papanya mencari dia, tumben? begitu yang Rama pikirkan.


( "Papa ingin bicara sama dia, berikan ponselnya pada Rama!" )


Gilang pun menyadarkan ponselnya. "Mau bicara sama lo."


( "Iya, Pah." )


( "Anak kurang ajar, kamu. Istri lagi hamil malah di biarkan menangis sendirian di jalan. Mau lari dari tanggungjawab, kamu?" ) sentak Restu di balik telpon.


( "Apa? Istri lagi hamil? Maksudnya apa?" ) Rama belum mengerti kemana arah pembicaraan Papanya. Deni, Rian, Gilang terkejut, mereka saling pandang satu sama lain seakan pikirannya sama.


( "Naina menangis mencari kamu yang pergi tidak pulang-pulang, dia pingsan dan sekarang ada di rumah sakit. Naina hamil, bodoh! Gak tahu diri banget jadi suami, sudah menghamili malah kabur gitu saja!" )


Deg.


"Naina hamil!?"

__ADS_1


__ADS_2