
Naina terus mendorong motor maticnya ke bengkel terdekat. Sepanjang jalan ia menggerutu kesal pada Rama.
"Mimpi apa gue nikah sama cowok rese kayak dia? Dia yang salah malah nyalahin orang, bikin kesel aja tuh orang. Kalau ketemu lagi, awas ya, gue kasih pelajaran tuh cowok rese." Naina pun telah sampai ke bengkel.
"Assalamualaikum, Bang."
Orang yang sedang mengerjakan tugasnya sebagai montir menoleh.
"Waalaikumsalam," jawab mereka dengan kompak.
"Eh Naina, tumben sekali mampir ke bengkel Abang? Kapan kamu datang kesini?" tanya pemilik bengkel menghampiri Naina. Dia tersenyum senang melihat gadis cantik yang ia taksir. Karena sering berkeliling desa Naina cukup di kenal banyak orang.
"Kemarin siang Bang. Oh iya ini, Bang. Motor Naina kempes bannya. Sepertinya melindas paku." Naina menunjukkan ban motornya yang terlihat kempes parah.
"Oh, kamu duduk dulu biar ini Abang yang urus." Naina pun mengangguk, dan gadis itu duduk di bangku yang ada di sana.
Pria yang seringkali di sapa Abang ini memeriksa kendaraan milik Naina. Dia berjongkok melihat ban motornya.
"Ada pakunya gak, bang?" tanya Naina sambil melihat Abang memutar ban depan.
"Ini dia," ujar Abang menunjukan paku yang memang ternyata menempel di bannya. Meskipun kecil, tapi mampu membuat bannya kempes.
"Ada apa?"
"Ini pakunya ketemu, Na. Kecil sih, tapi juga mampu buat ban motor kamu kempes. Di tambah ban bagian depan sudah gundul, meskipun Abang tambal ban dalamnya, kemungkinan akan mudah cepat kempes lagi." Pria itu menjelaskan pengetahuannya mengenai masalah yang sedang motor Hasna hadap.
Naina ikut berjongkok dan memperhatikan ban motornya. "Terus bagusnya diapain, Bang?"
"Menurut Abang, kamu hanya perlu ganti ban luarnya saja. Kalau untuk ban dalam 'kan masih baru." Ia tahu karena Hasna baru ganti ban dalam di bengkelnya juga. Dan itu belum lama, baru sekitar satu bulan yang lalu.
"Oh, gitu. Emangnya ban luar berada harganya?"
"Paling bagus seratus lima puluh ribu. Tapi kalau buat Nain, Abang kasih diskon menjadi seratus ribu saja."
__ADS_1
"Tapi Naina ingin motornya di benerin semuanya biar bagus dulu. Sudah lama nih motor belum di benerin. Soal harga bisa nawar kan?"
"Tenang, itu mah bisa diatur. Yang penting sekarang motor Naina di modifikasi." Naina tersenyum senang, ini motor adalah kendaraan yang seringkali menemaninya jika berkeliling di sekitar puncak.
"Siap, Abang ganti dulu ban motornya." Lalu, Abang mengambil peralatan bengkel dan mulai mengerjakannya.
Naina pun kembali duduk. Ia yang sedang duduk pun mengambil ponselnya dari dalam saku mulai membuka setiap sosmed yang ia miliki. Banyak sekali pertemanan masuk dan kebanyakannya seorang pria. Namun satu hal yang ia kecewakan, Mario tidak menghubunginya.
"Dari kemarin Mario tidak memberiku kabar, kemana dia? Apa liburan di kota saudaranya sangatlah susah sinyal?"
Helaan nafas berat keluar dari mulut Naina. Ingin sekali dia menghubungi calon tunangannya, tapi no Mario tidak bisa di hubungi. Naina kembali memasukkan ponselnya ke saku, ia menunggu motornya selesai di modifikasi. Matanya pun celingukan memperhatikan sekelilingnya yang terasa asri.
Namun, ada sesuatu yang menarik perhatian matanya. Dari jauh ia seperti melihat sosok yang ia rindukan. "Mario? Apa itu Mario?"
Naina langsung berdiri memastikan penglihatannya tidak salah. Bengkel yang terletak tidak jauh dari pemukiman warga dan juga tidak jauh dari kebun teh hijau di sekitarnya mampu membuat mata orang terpana akan keindahan kebun teh.
Naina yang ada di sana melihat jelas sosok pria yang ia kenal tengah berjalan diantara hamparan kebun teh sambil menggandeng tangan seorang wanita begitu mesra.
"Tidak mungkin, itu tidak mungkin Mario. Aku harus memastikannya lagi." Naina kembali mengambil ponselnya, ia terus menghubungi no Mario dengan mata terus memperhatikan dia orang yang sedang Selfi mesra.
"Dia tidak mengangkat nya." Tapi Naina tidak menyerah, ia kembali menghubungi Mario.
Orang yang sedang di hubunginya hanya memperhatikan ponselnya. "Naina, bagaimana aku harus mengangkatnya sedangkan di sini ada Lusi? Aku takut Naina mendengar suara Lusi."
"Kamu kenapa sayang?" Lusi merangkul lengan Mario. Ia memperhatikan ponselnya Mario. "Dari Naina? Angkat saja."
Mario menghela nafas berat, lalu ia menggeser tombol warna hijau. ( "Halo sayang." )
Naina yang ada di sebrang jalan terpaku dengan pikiran yang sedang hadir. "Dia memang Mario." Dadanya terasa sesak mengetahui jika orang itu adalah pacarnya.
( "Kamu sedang dimana? Kenapa ponsel kamu sulit ku hubungi dan kenapa kamu tidak memberiku kabar?" ) Naina mencoba menahan emosi dan sakit yang ia rasakan hanya demi memastikan Mario bohong atau tidaknya.
( "Sayang, maaf. Aku lagi bersama saudara ku jadinya tidak bisa menghubungi mu dan di sini sinyalnya sangat jelek." )
__ADS_1
( "Saudara kamu cewek apa cowok? Dan kamu sedang berada di mana?" )
( "Tentu cowok dong, kan kamu tahu aku sedang ada di kota A, di rumah saudara papa." )
Naina mengepalkan tangannya menatap tajam pria yang sedang di peluk mesra oleh wanita. "Kamu bohong Mario, kamu berbohong."
( "Boleh aku minta kamu Selfi dengan saudara mu" )
Deg.
Mario terkejut. ( "Se-selfi?" ) Dia bingung harus apa? Mana mungkin dirinya Selfi bersama Lusi nanti Naina marah.
( "Kamu tidak percaya sama aku?" )
( "Aku hanya ingin tahu saja, tapi jika kamu tidak mau pun tidak apa-apa." )
Tut.
Naina mematikan sambungan teleponnya.
Mario kaget. "Dia marah padaku? Aduh, bagaimana ini? Pasti Naina marah karena aku membuat ia tidak percaya."
"Sudahlah sayang, jangan pikirkan Naina dulu. Mendingan kita nikmati liburan bareng ini. Ayo."
"Ini semua gara-gara kau Lusi, aku tidak mau mengikuti keinginan mu lagi." Mario melepaskan tangan Lusi hendak pergi meninggalkan Mario.
"Jika kamu menolakku maka aku akan memberikan video intim kita pada Naina."
Deg.
Langkah Mario terhenti, ia menoleh ke belakang. "Jangan kau coba-coba memberikan video itu padanya!"
Lusi mendekati Mario lalu mengusap dadanya. "Makanya sayang, ayo kita main lagi di hotel. Aku menginginkan kamu dan di saat kita berdua jangan ada Naina! Paham."
__ADS_1
Naina semakin di buat geram, matanya memanas dan ia menangis diam memperhatikan dua orang yang terlihat mesra dari jauh. "Brengsek, jadi kamu bermain api di belakang ku."