
"Kalian sudah sampai, ayo masuk." Tidak ada sambutan ketua yang diperlihatkan drama kepada mertuanya, tapi malah sambutan sopan dan juga terlihat menyambut kedatangan mereka.
"Ini beneran rumah kamu, Ram?" tanya Devan.
"Iya, Pah. Kalau mau mampir ke tempat kerja aku juga boleh. Tidak jauh dari sini, kok." Rama mulai terang-terangan tentang pekerjaannya.
Devan diam dengan segala pikiran yang ada di kepalanya. Dia berpikir apa kerjaan Rama seorang pembuat game? Begitu pikirnya. Devan pernah mendengar pembicaraan Rama dengan teman-temannya waktu di kota B kemarin. Devan juga sempat tahu penghasilan Rama setiap bulan.
"Tapi tumben kalian mau mampir ke sini? Ada apakah gerangan?" tanya Rama sambil menggandeng tangan Naina karena merasa tidak nyaman dengan adanya Alina yang terus saja berdiri di sampingnya dan juga menatapnya.
Rama menarik pelan Naina buat masuk kedalam rumah. Di ikuti juga oleh Devan dan juga Kania.
"Rama kenapa lo gue kalau lo itu memiliki rumah sendiri dan pekerjaan sendiri?" tanya Alina mengikuti Rama dari belakang.
"Alina, jangan coba-coba berbuat ulah jika tidak ingin berhadapan dengan ku!" kata Rama tegas.
"Kenapa? Gue hanya ingin bertanya saja. Kalau gue deketin Lo lagi kan itu memang gak gue, dan di sini yang sudah merebut lo dari gue adalah KaK Naina. Dan sudah jelas bukan kalau kak Naina itu perempuan gatal!"
Rama berbalik menatap tajam. "Tidak ada yang merebut gue dari siapapun. Om, Tante, jika kalian masih membiarkan Alina mengganggu kehidupan saya dan Naina, maka saya tidak akan segan-segan mengirim dia ke pulau terpencil!"
"Emangnya kamu berani melakukan itu pada ank saya?" tanya Devan, Kania mencekal lengan suaminya supaya tidak terpancing emosi.
__ADS_1
"Pah.."
"Ini kelakuan suami kamu, Nai. Tidak ada sopan santunnya. Pantas saja penampilannya urakan sekali, dia memang terlihat kurang ajar. Untung Alina tidak menikah dengannya." Devan malah berbuat ulah. Bukannya meminta maaf pada Naina malah memperkeruh suasana.
"Maaf, Om. saya akan berperilaku sopan jika orang itu sopan juga dan diajarkan untuk bertutur kata baik kepada orang lain dan tidak mencoba merusak hubungan orang lain. Apa Om pernah mengajari anak untuk menghargai orang lain? Dan apa Om mengajarkan Alina untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain? Saya memang berandalan, saya memang tidak pernah dididik oleh orang tua saya, tapi saya tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi Om, Anda lebih terlihat sekali membiarkan Alina bertindak semaunya. Apa begini cara Anda mendidik putri bungsu Anda?" Perkataan Rama tidak lagi sesopan biasanya. Terlihat sorot mata tidak suka ketika menatap Alina. Ia tidak peduli jika mertua mau marah, tidak peduli di cap sebagai seorang anak kurang ajar, tapi jika ada yang jauh lebih kurang ajar maka Rama akan menghadapinya.
"Kalau kedatangan kalian hanya ingin berbuat ulah lebih baik kalian pergi saja dari sini!" kata Erna datang bergabung.
"Mah, kita itu ..."
"Bawa pulang suami dan anakmu, Kania! Mama tidak mau mereka berdua terus saja melakukan kesalahan kepada Naina dan juga Rama. Mama memutuskan akan tinggal di sini selama sikap Devan dan Alina tidak berubah. Mama tidak habis pikir dengan kamu Devan, bisa-bisanya berubah begini? Sejak kapan kamu menilai seseorang dari penampilan? Dan sejak kapan kamu jadi begini?"
"Kalau Om masih berpikir Naina tidak bisa menjaga harga dirinya itu salah, karena kau sudah membuktikannya sendiri jika Naina masih suci. Kalau Om bersikap seperti ini karena merasa gagal menjadi seorang ayah, seharusnya perbaiki lagi, bukan hanya menyalahkan dan bersikap seperti musuh pada anaknya sendiri. Om kan pria, sudah dewasa, tapi pikiran Om sungguh seperti anak kecil. Rama tahu Om, kalua Om sangat menyayangi kedua putrimu, tapi kalau cara bersikap yang seperti ini maka Rama tidak akan menjamin jika salah satu dari anak kalian merasa sakit hati."
"Lo ini bicara apa sih hah? Gue itu ..."
"Rama ... Gue datang bersama para pekerja kita." Teriak Deni dan Rian tiba-tiba datang.
Baik Alina, Naina, Kania, Devan dan Erna langsung menoleh ke arah suara mereka. Terlihat sekali para pekerja datang ke sana dan orang-orangnya pun begitu menyeramkan.
"Lihat, ini hanya sebagian orang saja, masih ada banyak lagi para preman di luaran sana yang akan memberikan hukuman kepada orang-orang seperti Alina." Rama sengaja menakuti Alina supaya tidak lagi berbuat jahat dan berkata seenaknya.
__ADS_1
"Ja-janganlah, gue takut di keroyok preman gitu." Alina segera bersembunyi di balik tubuh Papanya.
"Seberapa berkuasa kamu sampai mereka takluk sama kamu, Rama?" tanya Devan yang dari tadi terus memikirkan perkataan drama. Devan diam saja karena ia mulai menyadari setiap perlakuannya yang memang terbilang keterlaluan. Dan apa yang dikatakan Rama ada benarnya kalau dia hanya merasa bersalah sebab tidak bisa berperilaku adil kepada dua putrinya. Jadinya Devan marah-marah tapi lebih terlihat menyalahkan Naina saja.
"Jangan ditanya seberapa berkuasanya Rama di antara kita. Rama itu Bos, saudara, sahabat, rekan, dan juga seperti orangtua yang selalu memberikan nasihat kepada anak-anaknya. Bagi saya, Rama adalah pria terbaik selama ini. Dan jika dia yang mengganggu dia ataupun keluarga yang disayanginya, maka kami kedua akan turun tangan membantunya. Bukan hanya preman yang ada di sini, tapi preman yang ada di luaran sana pun mengenal siapa Rama. Jadi, Anda jangan coba-coba mengganggu bos kita, paham!" ujar seorang pria bernama Hendra. Pria bertubuh besar dan paling terlihat sangat.
"Santai Bang. Jangan bawa emosi, kalau mereka buat ulah ya terpaksa sih ..." Rama menyeringai.
"Mantu sialan, kamu mengancam papa?" Sebenarnya Devan tidak marah, dia hanya mengeluarkan ekspresi terkejut saja karena kekagumannya pada sosok Rama yang terlihat biasa namun punya daya pemimpin yang luar biasa.
"Ya bisa dianggap gitulah, Pah. Jadi jaga baik-baik Alina supaya tidak berbuat ulah pada Rama dan Naina. Kalau bisa antarkan saja dia ke pesantren supaya otaknya di ruqyah dan syetan yang ada dalam tubuhnya pergi jauh-jauh."
"Hei! Kurang ajar sekali. Pah, pokoknya Alina tidak mau ada di sini. Kita pulang saja, lama-lama Rama dan Kak Naina ngeselin abis."
"Ya sudah tinggal pulang. Gitu saja kok repot. Sekarang Kakak tidak akan lagi mengalah sama kamu." Naina merangkul lengan Rama. "Kami sudah menyatu satu sama lain, dan mungkin saja tidak lama kemudian kami akan punya anak."
"Apa? Jadi kalian sudah ..." pekik Kania dan Devan.
"Tentu saja," jawab Rama dan Naina.
"Putrimu masih perawan," kata Rama bangga.
__ADS_1
"What! Luar biasa tidak tahu malu!" pekik Alina menutup kedua telinganya.