
Drrrtt ... drrrtt ....
Ponsel Naina berdering.
"Mama." Lalu Naina mengangkat panggilan tersebut, tapi sebelumnya menghapus air matanya dulu dan kembali menatap Mario yang sudah pergi dari sana.
( "Halo, Mah." )
( "Naina kamu dimana? Kok lama sampainya?" )
( "Naim lagi di bengkel, Mah. Motor Naina bannya kempes gara-gara paku. Ini lagi di bengkelnya Bang Agus. Ada apa, Mah?" )
( "Oh, Mama kira kamu keluyuran. Ini, Mama hanya minta tolong, tolong kamu cari Papa kamu ke ladangnya Kakek Soleh. Bawa daun yang Papa ambil, daunnya mau Mama gunakan." )
( "Sekarang juga, Mah" )
( "Iya, sekarang. Masa tahun depan. Jangan lupa ambil daunnya saja. Mama tunggu sekarang juga!" )
Dan telponnya di matikan. Hal itu membuat Naina menghela nafas. "Untungnya dari sini tidak jauh, dan sejenak aku harus melupakan Mario. Kalau bertemu lagi dengan dia aku akan memutuskan hubunganku dengannya," gumam Naina.
"Bang, Naina titip sebentar ya motornya. Mau ambil daun pisang dulu ke kebun."
"Ok, Na. Siap. Kamu hati-hati, ya."
"Siap, bang." Dan Naina pun berlalu dari sana menuju sawah.
*****
"Aki Rama istirahat dulu, capek tahu dari tadi panas-panasan." Rama menggerutu dan beranjak mendekati gubuk. Dia duduk lalu merebahkan tubuhnya saking lelah memilih mentimun yang bagus.
Kakinya masih menjuntai ke tanah dengan tubuh terlentang menatap langit-langit atas yang terbuat dari jerami padi. Kemudian, Rama mengambil ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh yang ia rasakan.
__ADS_1
Rama membuka sosmed gula melihat postingan orang-orang. Pas sedang mengscroll ke bawah, ia melihat status seseorang "Status Alina galau terus. Maafkan aku Al." Dan kemudian dia kembali melihat status orang-orang dan juga bertukar pesan dengan rekan-rekannya, Deni dan Rian.
"Rama, bantu Pak Devan mengangkat mentimun yang sudah dikarungin!" ujar Kakek Soleh membuat Rama menoleh.
Rama pun bangun dan menyimpan ponselnya. Sedangkan Nek Ijah sedang memetik tomat yang hendak di panen juga.
"Itu timunnya mau di kemanakan?" tanya Rama menghampiri Kakeknya yang sedang mencoba mengangkat satu karung plastik besar mentimun terbaik.
"Bawa ke pinggir jalan saja. Kamu kuat 'kan membawa satu karung?" tanya Kakek Soleh memastikan cucunya bisa memanggulnya atau tidak.
"Kecil, bukan Rama namanya kalau Rama tidak mampu mengangkat satu karung mentimun."
"Baiklah, Aki coba." Lalu, kakek Soleh membantu Rama mengangkat ke pundaknya. Dan ternyata benar, tenaga Ram cukup kuat untuk usia segitu.
"Wow kau kuat juga rupanya. Sana, antarkan ke sisi jalan."
"Rama gitu, loh. Siap, tapi nanti Rama minta upahnya ya, Ki." Pria itupun meminta bayaran dari hasil kerjanya.
"Bisa di pikirkan."
Nai a sudah sampai di ladang Kakek Soleh, dia mencari Papanya. Ketika sudah menemukannya Naina segera menghampiri.
"Papa," panggil Naina kepada Devan yang baru saja sampai di sisi jalan. Devan menoleh.
"Eh, kamu. Kenapa?"
"Naina disuruh Mama mengambil daun pisang. Katanya daunnya mau digunakan sekarang." Naina memberitahukan tujuannya datang ke sana.
"Oh, itu daunnya ada di gubuk. Kamu ambil saja di sana. Papa lagi mau menyusun ini dulu."
Naina melihat pekerjaan kakeknya dan ia mengangguk mengerti. "Baik, Pah." Lalu Naina berjalan menuju gubuk.
__ADS_1
Pas sedang berjalan, Rama terus menunduk tidak menyadari ada orang yang juga berjalan satu arah dengannya. Naina yang juga menunduk tidak menyadari ada orang. Saking tidak hati-hatinya, mereka malah bertabrakan dan membuat timun yang Rama panggul terjatuh berbarengan dengan mereka yabg ikut jatuh.
Dug ...
Bruk!!
"Aduh," Naina meringis memegangi bokongnya.
"Jalan lihat-lihat, dong!" sentak Rama yang juga terjatuh dan mendongak. Naina pun ikut mendongak. Mereka sama-sama terkejut bertemu lagi dengan orang yang sama
"Lo lagi!!" pekik keduanya kaget.
"Lo lagi, lo lagi, apes banget gue ketemu lo terus!" ujar Rama mendengus kesal.
"Lo pikir gue juga tidak apes? Lihat nih, bokong gue sakit gara-gara lo, jalan gak pakai mata!" balas Naina tak kalah sengit tidak ingin mengalah. Ia yang sedang marah pada Mario melampiaskan kekesalannya pada Rama.
"Aduh, jangan berantem! Ayo bangun!" Devan terlebih dulu membantu Rama bangun, hal itupun membuat Naina kesal karena Papanya malah memperdulikan orang lain dulu bukan dirinya.
"Papa, kok malah bantu dia sih bukan aku? Biarkan dia mah, Naina juga harus di bantu, Kek!" Naina mengulurkan tangannya meminta Papanya membantu dia untuk membangunkannya.
"Kamu bangun sendiri, Rama kasihan jatuh ke sawah dan juga tertimpa mentimun," ujar Devan sambil menarik kedua tangan Rama dan membantunya berdiri.
"Terima kasih, Om. Dia emang salah, jalan gak lihat-lihat malah nabrak orang. Bukannya minta maaf, tapi malah marah-marah gak jelas." Ujung-ujungnya Rama jadi kesal juga.
"Lo yang harusnya minta maaf! Lo yang nabrak gue sampai jatuh, dan lo juga yang seharusnya lebih dulu minta maaf," sahut Naina sembari berdiri mendengus sebal.
"Sudah-sudah, jangan berantem! Ini namanya kecelakaan tidak sengaja. Kamu Naina, kamu yang salah karena tidak hati-hati berjalan. Sudah tahu ada orang mau lewat malah seenaknya menghalangi. Rama ini sedang membantu Papa dan jalannya menunduk terhalangi karung mentimun. Harusnya kamu yang mengalah menyingkir dari jalannya." Devan memberikan pengertian kepada anaknya sebab Naina memang salah tidak ingin menyingkir dari jalan yang memang cukup hanya di lewati satu orang saja.
"Kok Papa jadi nyalahin Naina sih? Anak papa itu Naina atau dia? Ngeselin banget," balas Naina menghentakkan kakinya dan manyun dengan mata mendelik ke arah Rama.
Gala tersenyum mengejek seraya diam-diam menjulurkan lidah merasa menang di bela.
__ADS_1
"Ishh ngeselin banget tuh cowok, awas ya, nanti ku kasih pelajaran," gumam Naina dalam hati sambil ia berlalu mengambil daun yang ada di saung. Namun, tak terasa air matanya menetes begitu saja. "Semua cowok sama-sama menyebalkan."
Rama yang terus memandang Naina tertegun melihat Naina menangis. "Dia kenapa menangis? Apa aku sudah keterlaluan sampai menyakiti hatinya?" Rasa bersalah pun timbul di hatinya.