
Waktu beranjak siang, Rama terbangun dari tidurnya. Rama pun mandi terlebih dulu di kamar mandi yang memang ada dalam kamar. Keluarga mamanya cukup berada, jadi untuk kamar mandi pun ada yang di dalam kamar dan juga ada yang di dapur.
Setelah mandi, Rama makan terlebih dulu. Baginya sudah hal biasa langsung makan tanpa penghuninya. Meskipun ia kadang tidak suka tinggal di rumah kakeknya, tapi Rama tetap selalu bertindak sesuka hatinya dan merasa berada di rumah sendiri.
"Aki dan Emak pasti sedang di kebun." gumam Rama sambil mengunyah makanannya. Kakek Soleh memiliki sepetak kebun di sana, jadi sudah tidak asing lagi jika kegiatan sehari-hari mereka berkebun.
Kakek Soleh memang memiliki balan yang luas yang sering kali ditanami berbagai aneka macam tanaman. Sawahnya pun luas dan tidak kekurangan apapun.
Setelah selesai makan, Rama berniat keliling kampung sambil menyusul Aki dan emaknya. Dia berjalan sendiri dengan penampilan urakan. Leher pakai kalung, kaos hitam, tangan menggunakan aksesoris gelang dan jam tangan, serta celana jeans robek dan mengenakan sendal gunung.
Banyak pasang mata memperhatikan Rama, mereka yang kenal tersenyum ramah menyapa. Rama pun membalasnya.
"Siang Bu, pak, permisi ya," ucap Rama melewati para orang tua yang sedang duduk.
"Mangga silahkan."
Langkahnya pun terus maju hingga kini berada di jalan dengan pemandangan sisi kiri dan kanan sawah terbentang luas. Namun, di saat asik menikmati keindahan alam, tiba-tiba ada sepeda motor melaju.
"Awasss ... minggir!" pekik orang yang ada di atas motor seraya berteriak ke Rama.
__ADS_1
Bruk ....
*****
Saat sedang berkendara, motor Naina tidak sengaja melindas sesuatu sampai ia merasa ban motonya bermasalah dan juga bergerak tidak menentu.
"Eh, kok gini rasanya? Sepertinya ban motorku bocor." Naina menunduk mencoba melihat ban motor depannya. Ternyata benar, ban motornya kempes. Pas Naina mendongak melihat ke depan, ia melotot karena motornya mengarah ke orang yang sedang berjalan.
"Awasss ... minggir!" pekik Naina yang sedang ada di atas motor seraya berteriak agar pria itu minggir di saat tak terkendali.
Namun, belum juga Rama menghindar, motornya sudah menyerempet dan ia terjatuh. Pun dengan Naina yang juga sama-sama terjatuh dengan motor menindih bagian kakinya.
Bruk ....
Rama bangun dan marah, "Woi, kalau menjalankan motor itu hati-hati! Gak lihat apa ada orang jalan di sisi. Kalau gak becus menjalankan motor mending lo diam di rumah saja main boneka!" pekik Rama sembari mengusap tangannya. Ia belum melihat wajah si penabrak
Naina bangun, lalu ia sedang mencoba membangunkan motornya menoleh. Dia yang tadinya merasa bersalah mendadak kesal mendengar ucapan pria berandalan itu. Bagaimana tidak berandalan, celana robek di bagian lutut, tangan memakai gelang, leher memakai kalung, dan kuping memakai anting-anting, ya, meskipun anting magnet. Karena posisi Rama membelakanginya, Naina tidak bisa melihat wajahnya.
"Gue udah becus menjalani motor. Malah sudah punya SIM, tapi yang namanya musibah mana gue tahu. Lagian ngapain lo ada di jalan sana yang jelas-jelas berlawanan arah? Berarti lo yang salah!" jawab Naina tidak mau kalah dan juga sewot. Rama memang salah juga, bukannya jalan di bagian kiri malah jalan di bagian kanan. Ya, Naina tentunya menjalankan motor ke kiri.
__ADS_1
"Lo yang salah bawa motornya tidak becus. Gue di sisi aja malah lo serempet, dasar salah gak mau salah malah nyalahin orang, gak waras lo." Rama masih belum menoleh, ia sibuk mengusap sikutnya yang tergores aspal dan terluka.
"Apa lo bilang? Gak waras?" pekik Naina bertolak pinggang sembari melototkan matanya tidak terima dirinya di katai tidak waras. Dia berjalan terpincang-pincang mendekati Rama.
"Iya, lo emang gak waras. Salah nyalahin orang lain, itu namanya gak waras!" balas Rama menengok ke belakang.
Mata keduanya terbelalak. "Kamu!" pekik keduanya terkejut. "Lo ngapain di sini?" ujar keduanya secara bersamaan.
"Gue dulu yang bertanya, lo ngapain berada di sini?" tanya Naina.
"Liburan sekolah, mau ngapain lagi. Terus lo juga ngapain di sini Kak?" Rama bingung.
"Gue ada urusan di sini, urusan liburan juga. Eh, lo ganti rugi dong, motor gue jatuh tuh." Naina menunjuk motornya yang masih tergeletak.
"Ganti rugi apaan, lo yang salah jalan mau nabrak gue. Harusnya lo yang ganti rugi."
"Rama, bisa tidak sih jangan ngeselin? Ini nih yang tidak gue suka dari lo, Lo ngeselin banget tahu." Sebenarnya Rama dan Naina memang tidak akur. Jika bertemu pun suka ada saja percekcokan antara keduanya. Alina yang sering mengajak Rama ke rumah sering banget bertemu Naina, dan sering juga berantem begini.
"Ayolah Kak, jangan bikin drama deh. Lo yang salah juga. Kalau tidak tidak bisa menjalankan motor mendingan diam di rumah!" meskipun ngomel, tapi Rama membantu membangunkan motor Naina.
__ADS_1
"Tahu ah, bisa-bisanya gue ketemu lo di sini." Naina mencebik kesal ia menaiki motornya dan berkata, "dasar gila, sinting, edan, muka preman, lo yang salah nyalahin gue. Motor gue kempes ban bukan gak becus menjalankan. Lo yang sialan sudah menghalangi jalan gue." pekik Naina sambil memaksakan motornya melaju.
Rama mengerutkan keningnya. "Dia kenapa marah-marah gitu? Lagi kesambet setan apa? Dasar gila!"