Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 39 - Salah Sangka


__ADS_3

Rama masih menunggu Nek Erna dan Alina datang. Sambil menunggu, ia memperhatikan setiap mesin mobilnya memastikan lagi keadaan mobil tersebut. Dia serius memeriksa, tapi di saat tengah menunduk memperhatikan mesin-mesin, pundak Rama di pukul oleh seorang.


"Aduh!!" pekik Rama terkejut merasakan sakit di saat pundaknya kena hantaman benda yang entah benda apa yang digunakannya.


"Maling! Ada maling disini!" Naina berteriak agar orang-orang datang dan menangkap pria yang ia sangka maling. Di saat Naina berteriak dan siap memukulkan lagi kayunya, Rama menoleh.


"Hei!!!" Rama segera menoleh dan ia terkejut melihat Naina. Pun dengan Naina yang juga sama-sama terkejut. Naina segera membuang kayunya.


"Lo!" pekik keduanya terkejut.


"Ra-Rama!" Dia terbelalak mengetahui siapa orang yang sedang berusaha mengambil mobil seseorang yang ia kenal. Naina salah sangka.


"Apa? Lo mau bunuh gue? Lo mau bikin gue di amuk masa gara-gara teriakan cempreng lo itu?" ujar Rama menggeram kesal seraya mengepalkan tangannya menahan amarahnya. Namun, Rama tidak mungkin melakukan itu di saat ia tahu kalau Naina seorang wanita. Dan pantang baginya untuk memukul wanita.


"Bu-bukan begitu. Lo-lo yang ngapain disini? Gue kira lo itu maling, makanya gue berteriak dan tidak sengaja memukul pundak Lo." Naina merasa tidak enak hati kala tatapan Rama begitu tajam dengan delikan yang tajam pula.


"Sebelum bertindak bisa tidak lo cari tahu dulu siapa orang itu? Jangan main hakim sendiri. Lama-lama gue masukin lo ke penjara atas kekerasan yang lo lakukan kepada gue." Rama ingin sekali membuat Naina jera dan tangannya memegang pundaknya sendiri merasakan sakit di bagian tubuh belakang. Rama nampak meringis menahan sakit di punggungnya.


"Maaf," lirih Naina merasa bersalah telah melakukan tindakan kekerasan terhadap Rama. Ia menyesal telah main hakim sendiri, matanya pun berkaca-kaca dan segera menunduk. "Gue tidak sengaja. Jangan laporin gue sama polisi, gue takut."


"Maaf lo tiada guna. Dari awal bertemu sudah membuat gue repot dan apes. Sekarang malah terus-menerus bertemu dan bisa bikin gue darah tinggi." Rama masih kesal atas sikap Naina yang keterlaluan.


"Aku ..."


Tidtid.


Suara klakson mobil mengalikan mereka berdua. Mobil pickup itu terparkir di pinggir jalan dan turunlah Nek Erna dan Alina yang sambil membawa aki baru dengan harapan mobilnya menyala kembali.


"Rama, apa ini muat?" tanya Alina sambil menyerahkan aki baru.


Rama melihatnya dan ia mengangguk. "Ini pas." Kata muda itu mengambil akinya, lalu Rama mencoba membantu memasangkan.


Naina yang ada di sana semakin merasa bersalah karena ternyata ia salah sangka. Apalagi Rama bersikap cuek seperti marah padanya dan hal itu membuat Naina gelisah tidak menentu.


"Naina kamu mau kemana?" tanya Erna baru menyadari kehadiran Naina.


"Eh! Ini, Naina mau jalan-jalan sore, tapi ..." Naina mengusap air matanya dan ragu-ragu menceritakannya kejadian barusan.

__ADS_1


"Apa? Kakak memukul Rama? Kaka ini gimana sih? Kalau Rama kenapa-kenapa bagaimana? Kakak mau tanggungjawab? Jadi orang ceroboh banget sih." Alina marah pada Naina. Naina semakin merasa bersalah dan menundukkan kepalanya tidak berani menatap Rama.


"Kamu malah menuduh Rama maling dan memukul pundaknya pakai kayu," timpal Erna menatap sebentar ke arah Naina.


Naina menunduk tak berani mengangkat wajahnya saat Neneknya serius dalam menatapnya.


"Kau ceroboh, Naina. Bagaiman kalau Rama mendadak meninggal! Kamu mau di hantui dia setiap hari?"


Naina menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, Nek. Tidak usah di marahi wanita rese ini. Biarkan dia bertindak sesuka hatinya. Nanti juga Naina akan merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Sudah dewasa tapi tidak berpikir dulu, bagaimana jadinya kalau tinggal satu rumah dengan wanita aneh ini? Kadang baik, kadang lugu, kadang ngeselin, dan terkadang buat darah tinggi." Saking kesal dan marah, Rama meluapkan emosinya dengan sebuah Omelan.


Naina mendongak menatap mata Rama, mungkin sudah biasa dia mendengar Omelan Rama, tapi kali ini dadanya terasa sesak di marahi seperti itu. Apalagi ada Alina dan juga neneknya, di tambah perlakuan Alina pada Rama sangat jelas perhatian sekali bahkan merangkul lengan Rama.


Mata Rama juga tidak sengaja menatap Naina, ia tertegun kala menyadari bahwa dirinya sudah memarahi Naina.


"Gue minta maaf, tapi tidak perlu marah-marah di hadapan orang-orang," lirih Naina meneteskan air mata.


"Nai ..." Rama terhenyak.


Naina buru-buru menghapus air matanya dan berlari menuju motornya, kemudian pergi dari sana.


"Apa kamu tidak apa-apa?" Alina mengusap wajah Rama.


"Hah!" barulah Rama tersadar. "Maaf," ucapnya sambil melepaskan tangan Alina dari tangannya lalu memberi jarak.


"Apa Naina marah sama gue? Apa gue sudah keterlaluan? Apa dia juga salah paham sama sikap Alina pada gue? Akhh gimana ini? Bodoh sekali kau Rama."


"Nek, kalau gitu Rama pulang dulu. Mari." Rama segera pergi.


"Makasih ya Rama."


"Rama tunggu dulu!" Alina mengejar Rama.


"Apalagi, Al? Gue harus balik, udah mau magrib."


"Tapi ... gue khawatir sama lo."

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir gue, kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun dan jangan pernah bersikap seperti tadi lagi, gue tidak suka." Lalu Rama menyalakan mobilnya kemudian pergi.


"Kenapa, kenapa lo berubah secepat ini?"


*****


Setibanya di rumah aki, Rama masuk kedalam rumah dan segera merebahkan tubuhnya ke atas kursi. Pundaknya masih terasa sakit, tapi Rama tidak memperdulikannya.


"Pasti kamu lelah, ini emak buatkan susu jahe buat menjaga stamina kamu."


Rama bangun dan ia melihat minuman yang neneknya simpan. "Makasih, Mak. tahu saja kalau Rama suka minuman hangat ini."


"Sama-sama. Bagaimana harimu disini?"


Rama menyeruput pelan minuman yang sedang ia pegang cangkirnya. "Hariku cukup baik meski mengesalkan meski ada yang membuatku bikin emosi," ucap Rama menyebut nama Hasna.


"Emangnya ada kejadian apa?"


"Ya ada pokoknya," ucapnya sambil kembali menyeruput susu jahenya. Namun pikirannya tertuju pada Naina.


*****


"Nenek tidak suka cara kamu berbuat tindakan kasar, Naina! Orang yang kamu pukul tadi adalah orang yang membantu kamu, Nenek, papamu. Nenek merasa tidak enak kepada Rama atas kelakuan kamu."


Naina menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Gadis itu tengah duduk di hadapan Erna.


"Ada apa sih ribut-ribut? Datang-datang langsung memarahi Naina," seru Devan duduk di samping Naina.


"Iya, emangnya ada masalah apa?" Kania menyahuti sambil membawa nampan berisi minuman.


"Ini, Pah, Mah. Kak Naina sudah keterlaluan memukul Rama." Alina menceritakan apa yang terjadi tadi barusan.


"Ya Allah, Naina. Itu namanya kekerasan. bagaimana kalau nak Naina nuntut kamu?"


"Naina 'kan tidak sengaja, Pah."


"Sengaja atau tidak, tindakan mu membuat orang lain di rugikan, Kak!" seru Alina kesal.

__ADS_1


"Kamu harus minta maaf sama Rama, Nai!" kata Kania.


__ADS_2