Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 54 - Ajakan menginap


__ADS_3

"Dia sudah menjadi suaminya Naina," kata Nek Erna namun dalam hatinya.


"Apa, Nek? Nenek bilang cucu mantu?"


"Ah tidak. Kalian jelaskan saja siapa Rama. Buruan!"


"Apa maksudnya Rama akan menikahi Alina? Bukannya mereka sudah putus.


"Masuk dulu aja, kita tunggu Rama di teras depan." Rian mengajak Nek Erna masuk.


*****


"Kamu mau mengajak ku kemana sih?" tanya Naina ketika di atas motor.


"Kerumah yang akan kita tempati."


"Rumah? Kita? Maksudnya kamu ngajakin aku tinggal bareng kamu, gitu?"


"Ya itupun kalau kamu mau. Masa udah nikah tidurnya terpisah."


"Hei, kita itu belum dapat restu dari semua orangtua kita. Lagian aku juga belum suka sama kamu."


"Lambat laun kamu juga akan terbiasa dan akan suka sama aku. Pesonaku kan luar biasa."


"Dih, pede sekali kau ini."


"Tidak apa-apa pede, itu membuktikan kalau aku memang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Kalau aku pemalu nantinya malu-maluin."


"Kamu memang malu-maluin tahu, buktinya saat bersama Alina suka melakukan hal aneh, seperti anak kecil."


"Tapi tidak dengan kamu," jawab Rama sambil menarik tangan Naina.


"Eh apa ini?" Naina kaget, namun ia malah membiarkan Rama menyentuh tangannya yang di arahkan ke pinggang Rama.


"Pegangan, takut jatuh. Aku mau menambah kecepatan motornya."


"Kamu modus 'kan? Bilang saja mau ku peluk." Tapi Naina malah melingkarkan tangannya ke perut Rama di saat Rama mempercepat laju motornya.


"Modus sama istri sendiri emangnya tidak boleh? Sah, sah saja kan? Toh udah cap halal. Dan satu lagi, kamu harus biasakan dekat denganku, ok."


"Dasar pemaksaan. Dari dulu kamu itu emang ngeselin ya."

__ADS_1


"Tapi ngangenin 'kan?"


"Enggak juga tuh."


"Masa? Nanti juga akan rindu kalau tidak bertemu." Rama dan Naina pun terus mengobrol sampai tidak terasa mereka sampai di halaman depan rumah.


Naina memperhatikan rumahnya. "Ini rumah siapa?"


"Rumah kita," jawab Rama sambil masuk melewati gerbang dan berhenti tepat di dekat teras rumah.


"Itu dia orang yang kita bicarakan, Nek." Ucap Rian.


Naina menoleh. "Nenek ada di sini juga?" tanyanya sambil turun dari motor.


"Loh, kok kalian jalan berdua?" tanya Deni yang terlihat heran Rama datang bareng kakaknya Alina.


"Nanti gue jelasin. Pasti kalian datang mau membicarakan tentang pekerjaan 'kan? Kita ke ruangan kerja gue saja."


Nek Erna terus menatap Rama dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun ia begitu kagum dengan perjuangan seorang Rama. Kagum dengan sikap Rama yang terlihat bandel, tapi ternyata ada hal yang luar biasa yang tidak pernah di ketahui orang.


"Nek, udah lama?" Rama menyalami tangan Erna.


"Lumayan, untung saja ada teman-teman kamu. Jadinya tidak bosan."


Naina mematung tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Nek, apa aku tidak salah lihat? Ini beneran rumah Rama atau bukan sih?" bisiknya pada Erna Yanga dan di samping Naina.


"Kayaknya seperti itu."


Deni dan Rian sudah masuk duluan, diikuti oleh Nek Erna yang juga memperhatikan ruangan yang ada di sana.


"Ayo, kamu tidak masuk?" ujar Rama pada Naina yang masih diam di tempat.


"Tapi ..."


Rama menghela nafas, lalu menggenggam tangan Naina. "Tidak usah khawatir, ini hasil kerja keras ku. Tidak akan pernah ku biarkan kamu makan dan menggunakan uang haram."


"Kamu itu kerja apa sih? Jangan-jangan ngepet?" Naina memicingkan matanya menatap curiga.


"Astaghfirullah. Aku tidak pernah melakukan itu, Nai. Amit-amit, jangan sampai. Nanti juga kamu akan tahu sendiri pekerjaan aku apa. Mendingan kita masuk aja yuk." Dan Rama pun menarik pelan tangan Naina untuk mengajaknya masuk.


Setibanya di dalam.

__ADS_1


"Rama, omset penyebaran game baru kita naik pesat. Hampir seluruh orang yang mendownload game kita memberikan ulasan bagus. Sudah ada 2 juta yang download dalam sepuluh hari," celetuk Rian tidak sabar memberitahu kabar bahagia ini.


Naina menatap Rama.


"Terus?" ujar Rama.


"Hanya itu saja yang ingin kita beritahu, sekalian mau memberikan ini." Deni menyerahkan berkas berupa desain game baru lagi.


"Kenapa tidak lewat email saja."


"Malas ngirimnya. Sekalian saja kita main kemari." Dan Rian pun duduk di sofa tanpa rasa sungkan. Di ikuti oleh Deni yang juga sudah duduk.


Nek Erna pun ikutan duduk, tapi tidak dengan Naina yang sedang memikirkan banyak hal tentang Rama.


"Rama, bisa lo jelaskan kenapa bisa lo dan kak Naina datang bersama?" tanya Rian.


Rama menatap Naina dan Nek Erna secara silih berganti. "Hanya kebetulan saja."


Namun, Deni menatap curiga. "Ada yang tidak beres dengan Rama."


"Nek, apa boleh Naina menginap di sini?" ajakan menginap membuat Naina, Deni, Rian terkejut.


"Kau seriusan?" seru mereka bertiga, tapi tidak dengan Nek Erna.


"Nek?" Namun Rama tidak mendengarkan mereka.


"Jangan sekarang, besok kamu harus sekolah dan Naina juga akan mulai masuk mengajar. Lain kali saja," kata Erna tidak menolak ajakan Rama dan terlihat membiarkan Naina menginap.


"Ini ada apa sih? Kalian menyembunyikan sesuatu? Kak Naina? Menginap? Ini tidak beres," ujar Rian.


"Nanti gue jelasin di sekolah."


"Nenek, kalau Papa dan Mama bertanya apa yang harus Nai jawab?"


"Biar itu menjadi urusan Nenek. Emangnya kamu mau nginap di sini?"


"Hmm anu ... aku ..."


Drrrtt ... drrrtt ...


Dan suara dering ponsel Rama berbunyi.

__ADS_1


"Pasti dari bokap lo," ujar Deni.


Rama mengangguk.


__ADS_2