Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 9


__ADS_3

"Ya, jujur padaku dan ceritakan semuanya tentang kejadian yang kemarin! Aku ingin tahu Rama, aku mohon! Aku tahu kamu bukan orang yang suka berbohong, aku tahu kamu tidak akan menyembunyikan sesuatu dari ku. Kita sudah kenal sejak tiga tahun yang lalu semenjak kita sekolah, kita juga sudah pacaran satu tahun yang lalu dan aku tahu sikap kamu jika menyembunyikan sesuatu dariku." Alina terus menatap Rama dengan tatapan mata yang terlihat mengintimidasi.


Rama bungkam sejenak, dia bingung harus berkata apa pada Alina. Apa dia harus jujur atau menyembunyikan semuanya dari semua orang.


"Rama, jawab aku! Kenapa kamu malah diam saja?" desak Alina.


Rama menghela nafas berat, mau jujur tapi belum siap. Mau berbohong tapi merasa tidak bisa dan merasa bersalah pada Alina. "Apa aku harus berkata jujur pada Alina? Tapi aku tidak tega melihat dia sedih. Kalau berbohong pasti akan ada kebohongan lain yang akan terjadi di kemudian hari."


Rama bimbang, bingung, dan pastinya di lema diantara dua pilihan.


"Alina, sungguh tidak terjadi sesuatu diantara aku dan Kakak kamu. Kita murni saling tolong, menginap di rumah warga dalam keadaan rumah terpisah, dan paginya langsung pulang. Hanya itu saja kok, kamu harus percaya sama aku." Rama berusaha meyakinkan Alina supaya gadis itu percaya padanya dan Rama melakukan ini untuk menutupi kejadian semuanya.


"Maafkan aku Al, aku harus berbohong padamu. Aku bingung mau bicara darimana dulu supaya kamu tidak berlarut sedih," batin Rama.


"Kamu seriusan 'kan? Kamu tidak bohong 'kan?" Alina masih belum percaya sama Rama.


"Aku seriusan." Rama menatap Alina meyakinkan gadis itu. Barulah Alina mulai percaya sebab Rama menatapnya.


"Aku akan percaya karena kamu berbicara sambil menatapku. Aku senang kalau ternyata tidak terjadi sesuatu pada kamu dan Kakak ku, tapi aku tetap tidak tenang melihat kamu terluka begini." Alina menggeser kursi yang ia duduki ke dekat Rama, lalu Alina mengeluarkan obat luka yang ia beli dari apotik.


"Sini aku obati luka kamu dulu, ini kelihatan banget belum hilang lukanya." Bagaimana mau hilang jika baru satu hari, butuh waktu untuk menghilangkan luka memar di wajah.


"Ah tidak usah Al, nanti juga akan sembuh sendiri." Rama menolaknya, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Ayolah Rama, ini hanya mengobati luka saja. Tidak masalahkan kan?" Alina mengeluarkan krim yang ada di wadahnya, lalu mengoleskannya pada wajah Rama.

__ADS_1


Rama ingin menghindari, tapi malah diam mematung kata matanya tertuju ke pintu masuk yang dimana ada Naina beserta Mario yang juga tengah masuk kafe itu. Mata dia dan mata Naina saking beradu pandang, sampai Alina berhasil mengoleskan krimnya ke wajah Rama.


Naina menatapnya, lalu duduk di bangku yang kebetulan bisa terlihat oleh Rama.


"Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Mario masih belum menyadari adanya Alina dan Rama di sana. Orang yang di ajak bicara malah diam tidak menjawab, hal itu membuat Mario heran dan mendongak. "Sayang," panggilnya lagi pada Naina.


Merasa tidak ada respon lagi, arah pandangan Mario mengikuti kemana mata Naina memandang. "Loh, Alina!" ucapnya kaget ada Alina di sana.


Alina mendengar orang yang memanggil namanya, ia menoleh ke belakang. "Eh, Kak Naina, Kak Mario, kalian di sini?" Alina baru tahu ada kakaknya di sana.


"Ya ampun, aku kira siapa yang Naina lihat sedari tadi sampai menghiraukan perkataan ku, eh tak tahunya ada kamu dan pacarmu di sini." Barulah Naina menunduk memutuskan pandangan matanya pada Rama.


"Aku juga baru tahu ada kalian di sini. Mendingan kita gabung saja, biar seru aja," ujar Alina menawarkan bergabung meja makan.


"Ah, ide yang bagus itu." Mario menatap Naina. "Kita gabung bareng mereka ya sayang?"


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini. Dan untuk kamu Rama, makasih karena sudah menolong Naina pada waktu kemarin. Ya, sekalipun gue tidak tahu kejadian yang sebenarnya kayak apa, tapi gue yakin jika lo membantu Naina."


"Sama, Bang. Ini kewajiban gue sebagai manusia yang memang di tugaskan untuk saling tolong menolong." Rama terlihat santai meskipun hatinya sedang bimbang.


"Hmm ya ucapan lo ada benarnya juga. Gue salut sama daya berpikir lo yang begitu dewasa."


"Rama, kamu mau makan apa? Aku suapin ya?"


"Tidak usah, Al. Aku bisa sendiri."

__ADS_1


Naina yang tadinya menunduk seketika mendongak. Ia heran dengan tingkah adiknya yang terkesan berani pada pria.


"Aku ingin suapin kamu seperti biasanya, ini kan bukan hari ini saja kamu aku suapi, tapi juga sering. Malah di saat kamu sakit kadang aku suka buatin kamu masakan, di hari biasapun sering banget aku buatin kamu makanan dan suka menyuapi kamu. Sekarang ayo AA."


Naina mengerutkan keningnya. "Masakan?" lirihnya dalam hati. Ia jadi teringat ketika Alina merengek meminta di buatkan masakan enak untuk dirinya, dan itu Naina sendiri yang sering membuat bekal buat Alina.


"Kalian berdua so sweet banget sih, kian pasangan yang cocok, iya kan sayang?" tanya Mario pada Naina.


"Eh iya, cocok."


"Iya dong Kak, kita harus kelihatan cocok satu sama lainnya. Kan kita pasangan muda ter sweet." Alina tersenyum manis.


"Terus masakan yang kamu maksud apa?" tanya Naina.


"Oh itu buat Rama, iya kan Rama? Kamu suka saat aku bawakan makanan?"


"Iya, makanannya enak. Kamu yang masak kan?" Jawab Rama jujur dan beralih bertanya. Namun, pertanyaan itu membuat Alina terdiam dengan segala pikirannya.


"Hmm a-aku.." Alina gugup. "Apa yang harus aku katakan pada Rama? Sebenarnya itu masakan kak Naina bukan aku, tapi setahu Rama akulah yang memasak untuknya."


"Kamu yang masak?" Naina menatap Alina. Alina pun menatapnya dengan tatapan yang memohon.


"Oh, iya, itu Alina yang masak buat kamu. Dia sering banget buatin masakan untuk di bawa ke sekolah. Ternyata itu untuk pacarnya, baik sekali adikku ini." Sekarang Naina paham betul dan ia tidak mungkin mengakui jika makanan yang Alina bawa adalah masakannya.


"Dan itu salah satu hal yang membuat aku menyukai Alina, pandai memasak dan aku suka dengan masakannya," jawab Rama membuat Alina dan Naina mematung.

__ADS_1


"Aku jatuh cinta pada masakannya," kata Rama lagi.


Deg...


__ADS_2