
Naina tidak percaya kalau papanya akan bertanya seperti itu. "Pah, maksud papa apa? Naina tidak mengerti." Naina merasa tidak pernah menjadi wanita penggoda, apalagi terhadap Rama yang menurutnya tidak perlu di goda.
"Alina yang bilang seperti itu. Tolong jawab saja, Nai. Apa benar kamu mendekati Rama? Jika tolong kamu jauhi Rama, dia itu pria yang adikmu cintai." Tatapan Devan begit lekat menatap mata anaknya.
"Naina tidak merasa mendekati Rama. Ya aku akui kalau kami sering bicara, bukan berarti Naina mendekatinya, Pah."
"Tapi karena Naina dan Rama sudah nikah diam-diam, jadinya kami sering bersama," batin Naina."
"Apa kamu serius?" tanya Devan masih kurang puas atas jawaban Naina.
"Papa tidak percaya sama Naina? Setiap kali Alina bicara Papa lebih mempercayainya dibandingkan aku. Apa dari dulu Naina selalu terlihat salah dimata Papa? Bahkan sekarang juga Papa lebih mempercayainya dibandingkan aku. Padahal aku hanya bicara dan dekat seperti pada seorang teman, tapi Papa seakan menuduhku yang tidak-tidak. Kalau aku keterlaluan mungkin dari dulu sudah membuat Papa malu." Naina mengutarakan semua perasaan yang ia rasakan. Ini bukan kali pertama Papanya menyudutkan dia atas perkataan Alina. Bukan hanya sekali, tapi juga berkali-kali Naina sering mendapat tuduhan yang tidak pernah ia lakukan.
"Naina bukan begitu maksud papa. Papa hanya tidak ingin ada ..."
"Ada apa? Ada kesalahan terjadi? Sedangkan Papa tidak pernah menegur kesalahan Alina. Justru Papa terlihat lebih menyayangi alin daripada aku. Apa karena Alina terlahir prematur dan hampir tiada sampai Papa lebih memperhatikan Alina?" tidak terasa air matanya menetes begitu saja.
Devan dan Kania sampai terhenyak, baru kali ini mereka melihat Naina menangis mengenai hal ini. Sikap Naina yang terlihat biasa saja jika di marahi, selalu terlihat menerima meski di bilangin ini dan itu, tapi kali ini terlihat sorot mata terluka bercampur kecewa.
"Naina, Papa tidak pernah merasa begitu, kamu salah paham."
"Tapi sikap Papa membuktikan kalau Papa lebih berpihak pada Alina. Terus sekarang, aku dekat dengan Rama Papa tuduh aku menggodanya atas perkataan Alina. Papa percaya begitu saja sampai Papa bilang begitu. Apa salah kalau aku dekat dengan siapa saja? Apa salah kalau aku berteman dengan siapapun termasuk Rama? Rama muridku, Rama juga sering bertemu denganku di rumah ini, dan dia hanya menyapa dan bicara layaknya para remaja biasa meski ada kata-kata gombalan, tapi bukan berarti aku yang menggodanya kan? Terus apa Papa pernah menegur Alina ketika dia selalu bersikap kurang ajar pada orang lain? Papa hanya cukup bicara dia masih anak-anak, tapi padaku? Papa langsung menegurku dengan cara memarahiku."
__ADS_1
Devan terdiam dengan apa yang Naina ungkapan. Semua perkataan putrinya memang benar semua.
"Oh iya, bukannya Papa tahu Alina dan Rama sudah putus, aku sudah putus juga dengan Mario, lalu kenapa ini jadi masalah di saat tidak ada lagi hubungan apapun diantara mereka? Mau aku dekat dengan Rama ataupun bukan itu bukan urusan Papa. Kali ini Naina tidak akan pernah mengikuti semua permintaan Papa termasuk menjauhi Rama."
"Nai, Papa bicara seperti ini karena tidak mau kamu menyakiti Alina, dia itu adik kamu. Kamu tahu kan kalau Alina itu ..."
"Lagi-lagi Papa lebih membela Alina. Aku tahu dia adikku, aku tahu Alina cinta sama Rama, tapi bukan berarti setiap ada apapun aku yang harus mengalah!" Naina berdiri, ia meluapkan kekesalan yang selama ini ia rasakan seorang diri. Kerap kali mengalah demi adiknya membuat Naina lebih banyak di mintai papanya untuk mengalah. Namun kali ini ia tidak ingin lagi mengalah. Apalagi Rama sudah menikahinya dan lambat lain Naina mulai terbiasa dengan Rama dan semakin nyaman berada di dekat pria yang usianya lebih muda darinya.
"Apa kamu tidak malu bicara seperti itu? Dia itu muridmu, dia lebih muda dari kamu, tapi ucapan kamu menunjukan kalau kamu menyukai Rama, Nai." Kata Devan membuat Naina tersenyum miris. Naina sudah yakin kalau papanya lebih membela Alina.
"Mas, lebih baik kita sudahi saja masalah ini, jangan buat Naina marah. Selama ini sikap kamu lebih berpihak pada Alina."
"Aku tidak ingin ada perebutan diantara mereka. Aku hanya tidak mau Alina melakukan hal yang di luar dugaan, Kania."
Devan di buat bingung. Benarkah sikapnya menyakiti salah satu putrinya? Benarkah apa yang dilakukannya salah?
"Jadi kamu meminta Naina mengalah lagi, Devan?" ujar Erna baru bergabung setelah bangun dari tidurnya. Pas sudah sampai di ruang tamu ia mendengar sebagian pembicaraan dan bisa menebak permintaan putranya.
"Mah."
"Kamu meminta Naina mengalah lagi dan kamu masih menuduh Naina melakukan hal yang tidak mungkin ia lakukan? Lagi-lagi kamu membela salah satu. Mama kecewa sama kamu, Devan."
__ADS_1
"Mah, Devan ... Devan bingung harus berbuat apa." Pada akhirnya Devan kebingungan. Ia terduduk lesu di atas sofa dengan pikiran yang kacau.
"Aku kecewa sama Papa. Selama ini Naina merasa tidak pernah di sayang Papa. Papa lebih sayang Alina, Papa lebih banyak percaya sama Alina, Papa lebih banyak mengabulkan permintaan Alina, Papa selalu saja memilih salah satu diantara kami dan selalu berpihak pada Alina. Naina kecewa." Naina berlari ke luar rumah dengan tangis tanpa suara.
"Naina tunggu! Nai ..." Kania dan Devan panik, mereka ingin mengejarnya, tapi Erna menghalangi.
"Kali ini kalian sudah keterlaluan. Jangan salahkan mama kalau mama memihak Naina. Kali ini Mama tidak akan membiarkan Naina terus mengalah, dia berhak bahagia dengan kehidupannya dan berhak memilih tanpa harus mengalah pada Alina!"
"Mah Naina pergi, aku harus mengejarnya." Devan tidak ingin putrinya kenapa-kenapa.
"Biarkan dia pergi agar lamu mikir tentang sikap kamu!"
"Tapi Mah ..."
"Mama bilang jangan kejar dia! Paham!" sentaknya membuat Devan terhenyak melihat kemarahan mamanya yang baru kali ini Devan lihat lagi.
*****
Naina berlari keluar rumah sambil menangis. Ia ingin menenangkan diri dan ingin sendiri. Namun tiba-tiba tangannya di tarik seseorang. Saat menoleh, Naina terkejut siapa orangnya.
"Rama, kamu ..."
__ADS_1
"Ayo ikut aku." Rama menarik tangan Naina dan membawanya pergi dari sana. Entah kemana Rama akan membawanya, tapi Naina menurut saja. Hatinya sedang kacau dan tidak menolak ketika suami berondongnya membawa dia.