Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 19


__ADS_3

"Tetap saja Papa malu dengan segala kelakuanmu. Kamu dan Gilang jauh berbeda, Gilang lebih mudah Papa atur dan membanggakan, tidak pernah sekalipun terdengar isu buruk mengenainya. Tapi kamu, kamu selalu saja bikin ulah dan buat Papa malu. Mau di taruh di mana muka Papa jika orang-orang tahu kalau kamu bikin onar terus? Nilai jelek, bandel, keluyuran, sekarang berurusan polisi. Papa malu, Rama. Papa malu!" Restu mengeluarkan kekesalannya atas apa yang Rama lakukan. Baginya keluarga dia harus sempurna tanpa adanya kesalahan yang di lakukan. Itulah sebabnya Restu selalu melakukan ini itu agar kedua anaknya menurut dan mengikuti keinginan nya. Tapi tidak dengan Rama yang memang lahir berbeda.


"Kalau Papa malu kenapa tidak menutup muka papa dengan jaring saja, beres kan?" Rama malas harus mendengar ocehan papanya. Sering banget ia mendengar ceramah dari papanya, rasanya sudah kebal tuh telinga.


"Kamu di kasih tahu malah makin melunjak. Sebagai hukumannya, motor kamu Papa sita, dan selama liburan sekolah, kamu diam di rumah!" sambung Restu memberikan sebuah keputusan yang menurutnya benar.


"Kok gitu, Rama tidak mau, Pah." Rama yang tadinya duduk menjadi berdiri karena tidak mau motor nya di sita.


"Gilang tidak pernah membantah Papa, jadi kamu yang harus nurut sekarang. Mana kunci motornya!" sentak Restu menengadahkan telapak tangannya meminta kunci motor.


"Pah ..."


Tanpa banyak bicara, Restu menggeledah saku celananya Rama dan mengambil paksa motor gede miliknya.


"Pah, jangan dulu di ambil, sore nanti Rama akan tanding." Rama hendak mengambil lagi kuncinya, tetapi Restu segera mengamankan nya.


"Tidak ada tanding-tandingan. Papa tidak suka kamu bermain balapan!" Lalu, Restu pergi dari sana.


Rama menghempaskan tubuhnya ke sofa, "naik apa kesannya jika motor gue di ambil?"


*****


Kediaman Devano


"Assalamualaikum." ucap Devan dan Alina bersamaan memasuki rumah.


"Waalaikumsalam salam," balas Kania, Naina dan juga mama Erna.

__ADS_1


Ketiga wanita beda usia yang sedang ngobrol itu menoleh, namun ketiganya terbelalak kala melihat tangan Devano di perban


"Ya Allah, Mas! Tangan kamu kenapa?" tanya Kania langsung berdiri menghampiri Devano.


"Iya, Devan. Kok tangan kamu diperban kayak gitu? Apa yang terjadi? Bukannya kaku mau ke daerah Kuningan?" timpal mama Erna.


"Pah, Alina, kalian Kenapa? Itu tangan Papa kenapa terluka begitu?" tanya Naina yang juga khawatir.


"Alhamdulillah sekarang Devan baik-baik saja, Mah. Tadi pas di jalan menuju Kuningan, mobil kami dicegat oleh begal. Untungnya ada Rama yang menolong kita. Kalau tidak, mungkin saja aku sudah kerampokan." Jelas Devan sambil duduk.


"Ya Tuhan! Tapi Alina dan kamu tidak apa-apa kan?" Mama Erna sangat khawatir.


"Tidak, Mah. Semua barang-barang kami selamat berkat Rama. Tapi Papa terluka," ucap Alina.


"Rama yang menolong kalian?" seru Mama Erna.


"Polisi? Tapi Rama tidak kenapa-kenapa kan? Dia terluka lagi?" Mendengar Rama di pukuli dan sampai terlibat dengan polisi membuat Naina ikut khawatir juga.


"Tidak Kak, Rama baik-baik saja. Udah pulang juga di jemput Papanya."


"Untung saja ada orang baik yang menolong kalian berdua. Mama harus berterima kasih kepada Rama karena sudah membantu kalian. Kemarin Naina yang di tolongin, sekarang Devan dan Alina, sungguh anak itu sangat baik sekali," kata Mama Erna.


"Iya, Mas. Aku juga mau berterima kasih karena berkat dia kamu jadi selamat." Kania pun tidak tinggal diam. Ia harus mengucapkan terima kasih kepada pria yang bernama Rama.


"Sekarang dimana Ramanya?" tanya Naina.


"Dia sudah pulang, Na. Tapi Papa merasa bersalah karena kita Rama di marahi oleh papanya."

__ADS_1


"Alina juga kasihan melihat Rama di marahi, padahal tidak salah. Alina yang pacarnya saja tidak bisa membuat Rama senang," lirihnya.


"Seberapa banyak penderitaan yang Rama alami? Aku jadi penasaran dengan kehidupan sehari-harinya."


*****


Waktu semakin berjalan mendekati sore, sedangkan Rama masih terkurung di dalam rumah dan kunci kendaraannya pun disita oleh Papanya.


Pria tampan dengan tinggi 165 cm, dan memiliki kulit putih bersih dengan gaya rambut gaya cepak samping, sedang kebingungan mondar-mandir mencari cara agar segera datang ke tempat pertandingan.


Rama terus memperhatikan jam yang ada di pergelangan tangannya, maupun yang ada di dinding yang terus bergerak seakan berjalan cepat.


"Waktu semakin berlalu tinggal menunggu beberapa jam pertandingan akan dimulai. Tapi gue kesana naik apa? Mana kunci motor diambil bokap, rumah dikunci, orang-orang pergi entah ke mana meninggalkan diri sendirian dalam rumah semegah ini." Gumam Rama masih belum menemukan titik terang cara lepas dari sangkar burung emasnya.


Ponselnya pun terus berdering, Rama pun mengangkatnya.


"Halo, Ram. Lo dimana? Gue sama Heru dan nyokap bokap gue sudah berada di area pertandingan, lo di mana? Gue tanya ke beberapa tim lo, Lo belum juga datang."


Terdengar sekali ada kebingungan serta rasa khawatir yang ditunjukkan Deni lewat suaranya. Tiba-tiba Rian merebut ponsel Deni dan gantian dia yang bicara. Deni membutakannya serta mendengarkan apa yang akan Rian katakan.


"Halo, Rama. Lo dengar gue 'kan? Buruan ke arena sirkuit sebelum lo di take down dari daftar anggota peserta. Semua orang sudah berkumpul di sini tinggal lo saja yang belum datang. Waktu tanding di majukan menjadi jam lima sore," sahut Rian memberitahukan perihal pertandingan. Bukan tanpa alasan Rian berkata seperti itu. Ini merupakan hasil mencari tahu ke timnya Rama.


"Lo serius, Ian? Kalau nggak salah pertandingannya itu dimulai pukul tujuh malam, kenapa tiba-tiba di majukan? Mana ini sudah jam empat sore." Rama seketika menjadi panik mendengar kabar yang Rian sampaikan. Dan dia berlarian mencari celah untuk keluar dari rumahnya. Rama berharap ada jendela kaca yang mampu di buka agar dia bisa keluar dari sana. Ini adalah pertandingan pertama Rama setelah melewati setiap seleksi. Karena biasanya, Rama dan rekan-rekannya sering bermain balap liar. Karena orangtuanya Deni takut terjadi sesuatu kepada anak-anak, maka mereka mendaftarkan Rama beserta rekan-rekannya ke salah satu MotorGP yang seringkali diadakan di kotanya khusus anak berusia 15 hingga 20 tahun. Dan sekarang, waktu Rama menunjukan kehebatannya mewakili antar Kecamatan. Dari sekian ribu peserta di seleksi lagi hingga menjadi 20 besar dan kini sedang memperebutkan juara satu, dua, dan juara tiga.


"Gue serius, barusan gue sudah menanyakan semua ke tim lo. Dan itu murni keputusan dari pusatnya. Gue udah minta sama mereka untuk menunggu sebentar dan gue juga udah bilang kalau lo sedang berada di dalam perjalanan dan terjebak macet di jalan. Jadi lo harus buruan datang kesini sebelum lo di nyatakan gugur sebelum berjuang." Lagi-lagi Rian berkata dan mencoba membantu Rama agar lelaki itu segera tiba di area pertandingan.


Deni mengambil alih ponselnya, lalu dia menekan speaker agar suara Rama terdengar oleh semua orang. "Lo masih dimana? Tidak biasanya lo ngaret kayak gini."

__ADS_1


__ADS_2