
Naina berlari sejauh mungkin menghindari kejaran Mario yang sempat ia lihat. Ia tidak mau bertemu lagi dengan pria itu dan sudah tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan pria yang tidak bisa menghargai sebuah hubungan.
"Gue benci air mata ini, gue benci pengkhianatan ini, gue benci lihat wajah menjijikkannya, gue benci ...."
Langkah yang cepat dengan jalan licin di area persawahan tidak membuat Naina menyerah untuk menjauhi Mario. Air mata yang sedari tadi menetes selalu ia hapus menggunakan tangannya. Entah kemana langkah kaki membawa, entah dimana ia berada, Naina tidak peduli. Terpenting baginya hilang dulu dari hadapan Mario dan ingin menenangkan diri.
Kemana arah tujuan yang ingin Naina tempuh tidak di ketahui oleh dirinya sendiri. Terpenting baginya menenangkan diri dulu. Melewati sawah, jalanan kecil, hingga tiba di jembatan kecil untuk melewati sungai yang mengalir. Naina diam berdiri di jembatan gantung. Dia menangis seorang diri mengeluarkan segala sesak yang menghampiri dadanya.
"Aaakhhhh ...."
Di sisi lain Rama menggerutu kesal mendapatkan hukuman dari Aki dan Emaknya yang paling tidak ia sukai. Memandikan si Jalu bukanlah hal yang di inginkan Rama. Memandikan si Jalu bukan seperti memandikan benda mati kendaraan beroda dua. Memandikan si Jalu butuh kesabaran, kekuatan, ketahanan dalam mengimbangi tenaganya.
Seperti yang sedang Rama lakukan saat ini, dia mencoba membujuk di Jalu yang tidak mau ia ajak jalan ke kali dekat sawah.
"Ayo Jalu, gue mohon lo nurut sama gue. Kali ini, Jalu. Lo kan baik, pintar, sehat, dan juga cakep, pastinya lo harus nurut sama gue, ya Jalu." Rama mencoba menarik tali yang mengikat di leher dan hidupnya si Jalu. Bukannya nurut ikut sama Rama, si Jalu malah anteng rebahan sambil mengunyah rumput tetangga dengan mata menatap pada Rama.
"Moooo." Suaranya begitu nyaring, warna hitam kecoklatan adalah warna kebanggaannya. Mata besar, hidung pesek dengan tanduk yang tajam menambah kegagahan di Jalu, hewan peliharaan kesayangan akinya Rama, yaitu Kerbau jantan.

"Jalu, Jalu, lo tega amat dah sama gue. Gue nangis nih Jalu, masa lo kagak mau nurut, ayo mandi ya Jalu. Nanti gue di omelin Aki sama Emak gue gara-gara tidak mandiin Lo." Rama terus membujuk kerbau jantannya agar mau berdiri.
Rama menghela nafas panjang karena si Jalu tak kunjung nurut. Matanya malah celingukan kesana kesana seakan menghindari tatapan Rama dan enggan mendengarkan Rama.
"Ok, kalau lo belum mau mandi, gue bakalan nunggu di sini bareng lo." Lalu Rama duduk di dekat batu yang ada di samping di Jalu. Keduanya malah duduk santai menikmati udara yang masih terasa segar.
Akhhhh ....
"Suara apaan itu?" Rama kaget tiba-tiba ada yang teriak di sekitarnya. Namun ia tidak menemukan orang di sekitar sana.
"Jalu, apa lo mendengar suara seseorang? Dia teriak-teriak gak jelas, Jalu." Rama berbicara pada kerbaunya, dan anehnya di kerbau malah berdiri nyelonong jalan kaki.
__ADS_1
"Jalu lo mau kemana? Jangan bikin gue dong, Jal. Gue ini harus mandiin lo. Eh lo malah nyelonong jalan sendiri, dasar hewan lo."
"Mmmooo."
Tapi, Rama mengikuti si Jalu dari belakang. Kerbaunya pun jalan santai tanpa mau berlari menjauh dari Rama.
Aaakkkhhh ... Kenapa ini terjadi padaku?
Lagi-lagi Rama mendengar teriakannya seseorang. Seiring dengan berjalannya si Jalu, Rama semakin jelas mendengar teriakannya seseorang. Dan kerbaunya pun berhenti di ujung sasak gantung. Pun dengan Rama yang juga berhenti melihat orang yang ia kenal.
"Naina! Ngapain dia sendirian di sini?" Rama celingukan kesana kemari, tidak ada siapapun di sana selain Naina seorang.
Naina yang sedang bersedih, berdiri di ujung jembatan sambil berpegangan tali jembatannya. Perlahan Rama mendekati Naina dan mendengarkan setiap keluhan yang Naina ucapkan.
"Kenapa mencintainya sesakit ini? Kenapa aku harus menyukai pria brengsek seperti Mario? Kenapa hatiku sakit? Kenapa? Hiks hiks hiks."
"Nai," panggil Rama. Naina menoleh, ia kaget ada Rama, tapi karena rasa sedihnya yang luar biasa Naina malah memeluk Rama. Ia terisak dalam dekapannya Rama.
Tangan Rama membalas pelukan Naina, lalu mengusap kepala Naina. Tinggi mereka cukup beda, Naina yang bertubuh mungil dengan tinggi badan 155 cm, sedangkan Rama tinggi badan sekitar 165 cm. Jika di lihat keduanya terlihat seumuran dan Naina tidak kelihatan lebih tua.
"Jadi kamu menyesali setiap kejadian yang menimpa mu?"
"Aku tidak tahu, hiks hiks hiks. Tadi, aku dan papa ketemu Mario di jalan. Aku melihat jelas apa yang dia lakukan dengan wanita tua itu. Dia ... dia bermain gila, Ram. Hiks hiks hiks. Hatiku sakit."
"Lalu bagaimana dengan aku yang juga sakit melihat kamu seperti ini?" ucap Rama ingin tahu jawaban Naina.
Naina sampai tertegun, dia bingung atas pertanyaan Rama padanya. Naina mendongak, "maksud kamu?"
"Aku suamimu, tapi kamu malah memikirkan pria lain di hadapanku. Setidaknya jangan ada pria lain ketika sedang bersama ku, tapi jika tidak ada aku, terserah kamu mau memikirkannya. Aku tidak peduli," jawab Rama enteng sambil menunduk menatap mata Naina.
"Kok gitu?" Naina melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Gitu gimana? Kamu sendiri sedang kepikiran Mario 'kan? Tapi kamu lupakan ada aku di sini, jadinya kamu malah curhat tentang dia."
"Ya gitu, bilang tidak peduli padaku." Naina melepaskan pelukannya."
Rama memegang pundak Naina, "memangnya kamu mau aku pedulikan?"
"Ya setidaknya hibur aku agar aku bisa menghilangkan kesedihanku ini, tapi kamu malah gitu." Naina merajuk
Rama mengerutkan keningnya merasa heran atas sikap Naina. Namun, Rama bisa mengerti jika Naina sedang sedih. Kemudian Rama mengusap air mata yang ada di pipinya Naina.
Naina sampai tertegun atas tindakan Rama. Ia mendongakkan kepalanya memandangi wajah Rama yang terlihat serius.
"Jangan bersedih, laki-laki seperti dia tidak pantas kamu tangisi. Sudah ku bilang kan, jangan memikirkan pria yang sudah menyakitimu dan putuskan hubunganmu dengannya."
"Sudah, aku sudah putus dengannya, tapi tetap saja aku sakit hati karena dia."
"Daripada mikirin dia mendingan kamu ikut aku."
"Baiklah daripada di sini sendirian tidak tentu tujuan, tapi kemana?" Naina penasaran.
"Memandikan si Jalu." Rama tersenyum.
"Si Jalu? Siapa si Jalu? Sejenis motor kah? Atau mobil?"
"Bukan, ini jauh lebih keren daripada mobil dan motor. Kesayangannya aki aku." Lalu Rama melihat ke arah dimana kerbaunya berada. Namun, matanya terbelalak ketika si Jalu tidak ada di sana.
"Jalu! Kemana si Jalu?" Rama panik.
"Kenapa sih?" Naina kebingungan
"Di Jalu hilang! Mati aku!"
__ADS_1