
Demi bisa mendapatkan maaf dari Naina, Mario sampai meninggalkan wanita yang menempel padanya dan selalu mengancamnya. Lebih baik ia kehilangan Lusi daripada kehilangan Naina yang telah menemaninya dari sejak awal masuk kuliah. Namun, karena kecerobohannya yang hanya ingin menyalurkan hasrat terlarangnya, dia sampai harus bertindak bodoh yang mengakibatkan kehancuran pada dirinya sendiri.
"Gue tidak akan pernah membiarkan Naina pergi begitu saja. Gue cinta dia, dan seharusnya dari dulu gue bertindak lebih tegas kepada wanita sialan itu. Bodoh, semuanya kacau." Mario mencari suara tadi yang berteriak. Ia meyakini kalau itu adalah Naina.
"Tadi suaranya ada di sekitar sini, tapi dimana Naina?" Mario telah sampai ke jembatan gantung, menyusuri jalanan setapak dan sawah demi bisa berbicara dengan Naina.
"Tidak ada." Mario mengedarkan pandangannya berharap orang yang ia cari bisa ketemu. "Naina ... kamu dimana? Naina ... dengarkan penjelasan ku!" pekiknya berteriak di dekat jembatan. Namun, tidak ada orang yang mendengarkannya.
Tidak menyerah, Mario terus mencari tanpa rasa lelah sampai ia bertemu dengan pria yang sedang mencangkul tanah sawah.
"Pak apa kau melihat seorang wanita lewat sini? Dia memakai baju abu-abu ..." Mario menyebutkan ciri-ciri Naina.
"Kamu nanya atau apa? Tidak sopan sekali sama orang tua." Sebenarnya bapak itu mengenali ciri-ciri yang di sebutkannya, tapi berhubung sedang bersama Rama dan berpikir jika Mario akan berbuat aneh-aneh, jadinya bapak ini terdengar sewot.
"Saya nanya pak, bapak tidak dengar kalau saya ini bertanya. Makanya punya telinga pasang baik-baik."
"Hei! Jangan mentang-mentang kamu anak kota seenaknya bicara tidak sopan sama saya. Saya tidak tahu, lebih baik kamu pergi dari sini! Buruan pergi atau saya pukul kamu pakai cangkul!" Bapak itu membentak Mario sambil mengangkat cangkulnya ke atas.
"Ok, ok, saya pergi. Nanya saja sewot banget, dasar orang kampung sialan." Mario menggerutu sambil menjauh dari sana.
"Dasar bocah gila, tidak ada sopan-sopa nya sama orang tua." Gerutu bapaknya dan kembali melanjutkan kegiatannya.
"Sialan, kemana lagi gue cari Naina." Di saat sedang berjalan, Mario tidak sengaja menginjak tanah licin dan ...
Bruk...
Dia terjatuh dengan kaki nyungsep ke sawah. "Akkhhh ... sialan! Apes banget hidup gue. Bisa-bisanya jatuh begini, memalukan sekali." Mario berdiri dengan hati-hati supaya tidak terjatuh lagi. Ia menunduk memperhatikan kakinya yang berlumur tanah sawah.
"Ihhh kotor banget, gue harus cari kali di sekitar sini." Dan Mario mencari aliran sungai di sekitar sawah. Sampai ia menemukan sungainya dan yang membuat ia senang bisa menemukan wanita yang ia cari dari tadi. Naina yang sedang menerima telepon tidak menyadari adanya seseorang di sana.
__ADS_1
"Naina, akhirnya aku menemukanmu juga." Mario berdiri di depan Naina. Nampak Naina mendongak dengan wajah terkejutnya.
"Mario! Kamu ... Ngapain kamu di sini?" Naina segera berdiri. Rama yang sedang memandikan si Jalu terkejut melihat Mario. Namun, ia tidak langsung ikut campur dan membiarkan dulu keduanya bicara.
"Nai, aku ingin bicara sama kamu." Mario ingin menggenggam tangan Naina, tapi Naina menghindarinya.
"Tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan. Hubungan kita sudah berakhir dan aku tidak mau bertemu kamu lagi." Naina membuang mukanya enggan melihat wajah Mario.
"Tapi Nai, sungguh itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Kamu juga salah karena ..."
"Aku? Kamu bilang aku juga salah? Salahnya dimana? Semenjak kita mencari hubungan tidak pernah aku melakukan kesalahan sedikitpun kepadamu, tapi kamu ... kamu selalu melakukan setiap kesalahan, baik kebohongan kecil amarahmu yang selalu meluap tanpa alasan, tinggi sebuah perselingkuhan yang cepat jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Masih bilang aku yang melakukan kesalahan? Dimana letak kesalahan aku, Mario?" Naina tidak percaya kalau semua yang Mario lakukan seolah-olah dirinya yang salah. Naina tidak merasa karena selama menjalin hubungan dia yang selalu mengalah.
"Karena kamu tidak pernah mau mengerti keinginanku. Kamu selalu menolak saat aku ajak ..."
"Berciuman? Melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kamu lakukan bersama wanita selingkuhanmu? Pikir dong, Aku seorang perempuan dan aku memikirkan masa depanku. Aku bukan wanita bodoh yang mau menyerahkan tubuhku begitu saja kepada orang yang bukan mahram ku. Jadi ini alasan kamu berkhianat? Jadi ini alasan kamu melakukan tindakan yang menjijikan itu? Ck, aku bersyukur karena Allah menunjukkan sifatmu yang kurang ajar. Dan aku bersyukur tidak termakan bujuk rayumu. Sekarang kamu pergi dari hadapanku atau aku teriak memanggil orang-orang?" Naina menatap tajam penuh kebencian. Rasa cinta kepada Mario berubah menjadi rasa benci yang entah kapan datangnya. Kini ia hanya menatap benci, tidak ada lagi tatapan lembut yang selalu ia tunjukan pada Mario.
"Mamam tuh cinta!" seru Rama menggebu menyiram Mario menggunakan air.
"Hei! Apa-apaan ini?" Mario baru sadar ada seseorang di sana. Ia pikir hanya ada Naina saja. Ia di kejutan oleh orang yang menyiraminya yang ternyata pria yang ia kenal sebagai pacarnya Alina. "Kau ..."
"Apa? Masalah?Gue dari tadi ada di sini, tapi lo tidak melihatnya." Rama asik memandikan kerbau akinya dengan sesekali melirik Mario.
"Naina, apa ini? Dari tadi kamu dengan anak ingusan ini?"
"Bukan urusanmu!" Naina mendekati Rama. Ia tidak mau dekat Mario lagi.
"Gue bukan anak ingusan ya, gue udah baligh, udah dewasa, umur gue sudah 19 tahun, dan gue sudah punya KTP serta kerjaan, jadi gue bukan anak ingusan lagi," jawab Rama.
"Gue tidak peduli! Naina, ayo kita pulang." Mario juga mendekati Naina, namun di hadang oleh Rama.
__ADS_1
"Jangan ganggu Naina lagi! Apa lo tidak dengar, tadi Naina nyuruh lo pergi dari sini. Lo tuli?"
"Minggir!" sentak Mario.
"Tidak akan!"
"Gue bilang Minggir! " Mario makin kesal dan ia melayangkan pukulan pada Rama, tapi ...
Bruk...
Justru Mario yang tersungkur ke belakang. "Mooo."
"Jalu!" ujar Rama dan Naina bersamaan.
"Kerbau sialan!" sentak Mario berdiri lagi.
"Moo... mooo..." tatapan Jalu sangat tajam, hidungnya kembang kempis dan terlihat bersiap menyeruduk orang yang mengganggunya.
"Eh .. eh ... Kerbau sialan kau mau apa?" Mario mundur kebelakang ketika kerbaunya maju. "Jangan aneh-aneh kerbau!"
"Hajar dia, Jalu! Dia sudah ganggu aku, kalau perlu seruduk saja dia!" ucap Naina tidak kasihan kepada Mario.
"Moooo..."
"Tidak ..." Mario berlari ketika kerbaunya mengikuti perintah Naina. Saat hendak naik dari kali, kaki Mario terpeleset dan jatuh tengkurap.
Duk...
Mario terbelalak kesakitan ketika bokongnya di seruduk kerbau. "Akkkhhhh...."
__ADS_1