Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 70 - Persiapan Nikah


__ADS_3

"Pokoknya gue mau semuanya beres malam ini juga. Pastikan penghulunya datang, dan pastikan pernikahan gue dan Naina lancar. Gue tidak mau ada halangan meskipun itu datang dari Alina." Rama tengah berdiskusi dengan beberapa orang yang akan membantunya, ialah tim dia di kalangan kerjaan.


"Itu mah bisa di atur, Ram. Kebetulan gue ada kenalan yang bisa membantu kita menyelesaikan masalah ini. Apalagi lo punya uang dan itu memudahkan semuanya berjalan dengan lancar."


"Kalau masalah Alina, itu mah biar gue yang kerjakan. Gue akan memantau pergerakan dia di sana," kata Deni.


"Ok, kerja yang bagus."


"Tapi apa lo yakin kalau Naina di ..." Rian sengaja menggantung ucapannya.


"Di sentuh pria itu?" Rama seakan mengerti ke mana arah pembicaraan Rian.


"Ya, begitulah."


"Kagaklah, emangnya kalian pikir gue bodoh? Gue tidak sebodoh itu sampai bisa tertipu oleh trik murahan yang di berikan Mario. Gue hanya diam dan pura-pura tidak tahu demi kelancaran pernikahan ini saja. Itu artinya gue tidak usah susah payah membujuk orangtuanya Naina untuk merestui pernikahan rahasia kita, dan itu artinya gue juga tidak perlu memberitahukan perihal pernikahan rahasia itu pada mereka karena yang mereka tahu, gue menikahi Naina atas dasar keinginan gue sendiri."


"Waahhh, ide yang bagus. Ini baru Rama, cerdik dan juga gerak cepat. Terus sekarang kita mau apa?" tanya Rian.


"Siap-siaplah pea. Kita akan datang kesana satu jam lagi."


"Baiklah. Sekarang kita bersiap." Orang-orang yang Rama kenal akan ikut menyaksikan pernikahan dia. Tidak ada pesta, tidak ada undangan, dan hanya ada keluarga dan rekan-rekan kerja Rama. Lebih tepatnya anak buah yang kenal dengan Rama dan juga yang bekerja di bawah naungannya.


"Hei bocah ingusan," Gilang memanggil Rama. Gilang baru saja keluar dari ruang namun matanya di suguhkan oleh pemandangan yang di luar dugaannya. Ada satu mobil pickup berisi barang seserahan itu isinya pun tidaklah kaleng-kaleng.


"Ada apa?"


"Lo seriusan mau nikah malam ini juga?"


"Menurut lo? Ya serius lah. Gak lihat kalau gue sudah mengumpulkan semua seserahan buat nikahan gue?" Rama membuka lebar tangannya seakan menunjukan kalau dia sudah siap. Dan di sana sudah ada macam-macam seserahan untuk Naina. Mulai dari tas, baju, sepatu, alat rias, dan lain sebagainya.


"Darimana kamu mendapatkan uang buat beli semua ini? Jangan-jangan kamu merampok?" seru Restu yang juga sudah keluar rumah melihat semua yang ada di luar.


"Ck, Papa pikir aku ini kriminal? Tidaklah. Selama ini Rama kerja, balapan. Apa Papa lupa kalau aku pernah memberikan piala penghargaan ku pada Papa? Dan uangnya aku belikan pada semua ini." Restu terdiam, ia teringat kembali pada kejadian yang dimana dirinya membuang Piala pemberian Rama.

__ADS_1


"Berapa hadiahnya?" hanya itu yang di tanyakan Restu pada sang putra. Gilang juga ingin tahu hadiah balapan yang Rama hasilkan kemarin. Ia hanya mendengar dari cerita papanya kalau Rama ikutan balapan namun tidak tahu hasilnya berapa.


"Satu miliar."


"Apa? Satu miliar?" Restu dan Gilang terkejut. Mereka baru tahu hadiahnya sebesar itu.


"Lalu uangnya kamu kemanakan? Kenapa tidak kamu berikan pada Papa?" tanya Restu.


Rama mengerutkan keningnya. "Lah, bukannya Papa menolak hadiah dari aku sampai pialanya saja Papa lempar? Dan hadiahnya sudah aku belikan sesuatu, tuh di mobil." Rama menunjuk mobil pickup berisi barang seserahan.


"Lo gak ngasih gue hadiah gitu?" celetuk Gilang.


"Kan lo udah dapat dari, Papa. Mobil keluaran terbaru. Gue? Kagak dapat apa-apa, tuh. Jadi, untuk apa gue kasih lo hadiah sedangkan hadiah dari Papa saja lebih banyak. Gue mana pernah di kasih hadiah? Mau motor juga uang jajan gue Papa potong." Balas Rama sambil masuk ke dalam mobil.


"Giliran dengar punya uang sok kaget, pas ada apa-apa gue yang disalahkan," batin Rama mendengus kesal.


"Anak itu benar-benar tidak tahu terimakasih. Minimal kasih uang sama bapaknya, malah di makan sendiri. Tahu di kasih uang Papa minta dulu, dah." Restu menyesal tidak bertanya tentang hadiahnya. Kini ia tidak dapat apa-apa dari hasil balapan kemarin.


"Jangankan Papa, aku aja sebagai kakaknya tidak dikasih. Pelit amat jadi adik, mentang-mentang punya duit." Gilang ikutan mencibir.


"Ya maulah, mana ada orang tidak mau duit," balas Gilang sewot.


"Kerjalah," jawab Deni dan Rian bersamaan terkekeh puas."


"Sialan kalian berdua."


*****


Kediaman Devano.


"Ini seriusan malam ini Rama akan nikahin Naina?" tanya Kania.


"Katanya serius. Kalau hanya sebagai akad saja sih tidak masalah, kan ini hanya pernikahan siri dulu. Kalaupun mau resmi harus membutuhkan waktu dan banyak berkas yang harus di urus, tidak akan keburu." Devan yang menjawab sambil menunggu kedatangan Rama dan keluarganya tiba.

__ADS_1


Alina yang ada di sana tengah memikirkan cara untuk menggagalkan pernikahan mereka. Naina sendiri sedang dilanda kegugupan dan juga masih dalam masa bersedih. Kalau Erna, dia sedang dalam fase tenang karena Naina akan menikah dengan orang yang tepat.


"Itu ada suara mobil." Mereka mendengar suara mobil berhenti di pekarangan rumah. Devano, Kania, dan Alina segera keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Nenek, Naina takut. Apa Rama sungguhan akan nikahi aku yang sudah ..."


"Kamu tidak usah takut, kamu harus percaya sama Rama kalau dia tidak akan mempermasalahkan tentang apapun. Buktinya dia mau menikahi mu meskipun tahu kalau kamu sudah tidak suci lagi."


"Aku takut Rama menyesal," lirih Naina ada hal yang ia takutkan.


"Sudah, jangan banyak pikiran."


Sedangkan diluar, Devano dan yang lainnya melongo tak percaya Rama datang membawa rombongan. Dan setiap orang terlihat membawa seserahan.


"Ini?"


"Mas, ini seriusan? Rama tidak main-main."


"Mas juga juga tidak percaya dia sungguh membawa orangtuanya dan rombongan kemari."


"Selamat malam, Om. Sesuai ucapan aku tadi siang. Malam ini aku datang bersama keluargaku dan rombonganku untuk menikahi putri mu. Aku juga membawa penghulu sekalian juga orang kantor agama yang sudah mengurus surat-surat nikah aku dan Naina.


"Apa? Jadi ini nikah seriusan, bukan nikah siri?" pekik Alina.


"Seriuslah, masa bohongan. Nikah bukan permainan," jawab Rian sewot.


"Diam kau pentul korek! Gue tidak bicara sama lo."


"Gue tidak mau ada keributan di sini, ok! Jadi buat Alina yang terhormat, tolong jangan berulah. Gue males harus ngadepin lo."


"Rama, kamu jahat."


"Dih, gak jelas. Udah ah, gue mau masuk. Pak penghulu, rombongan, ayo masuk!" Tanpa di perintahkan, Rama masuk duluan.

__ADS_1


"Eh!" Kania dan Devan saling lirik, mereka tidak percaya ini terjadi begitu saja.


__ADS_2