
"Apa!" Devano sampai tersedak minuman kala mendengar gaji anak muda di sampingnya. Tidak pernah Devano bayangkan gaji sebanyak itu dalam satu bulan. Dia saja yang hanya pedagang kue dan aneka sayur sebagai pemasok sayur ke para penjual, tidak pernah mendapatkan hasil segitu. Paling Devan mendapatkan untung sekitar ratusan juta perbulan, tidak sampai miliaran. Usaha yang di rintis Devan hanya berada di kota J, dan kota B, belum sampai ke seluruh kota. Tapi jika di tambah dengan catering milik sang istri mungkin bisa dapat segitu.
Ukhuk ... ukhuk ....
"Papa! Apa yang lo lakukan pada Papa gue, hah?" Naina memekik terkejut mendengar papanya memekik tersedak saat bicara dengan Rama.
Naina yang tadinya ingin memberikan minuman berlari mendekati Rama dan papanya dan terlihat khawatir melihat papanya batuk-batuk. Naina mengusap punggung papanya melotot tajam pada Rama.
"Ngapain lo nanya gitu dan melotot tajam? Gue tidak salah, ya." Rama berkata santai sambil membereskan peralatan kerjanya. Rama juga merasa tidak salah dalam berkata karena ia hanya berkata seandainya. Memang itu kenyataannya kalau apa yang ia kerjakan mampu menghasilkan ratusan juta malah pernah mencapai miliaran dalam satu bulan.
"Hei! Papa gue tersedak gara-gara bicara sama lo. Pasti lo yang ..." ucapan Naina tertahan sebab Devan menyahut.
"Ini bukan salah Rama, Hasna. Ini salah papa yang kurang hati-hati dalam memakan makanan sehingga Papa tersedak." Papa Devan tidak menyalahkan siapa-siapa dan ia hanya kaget saja mendengar pengakuan Rama.
"Papa beneran tidak apa-apa? Aku tidak mau ya, Papa kenapa-kenapa hanya gara-gara cowok rese itu," kata Naina mendelik tajam.
"Apaan sih? Gak jelas banget jadi cewek. Orang tidak ngapa-ngapain juga malah terus di salahkan. Aneh lo, Kak. Emang dasarnya lo rese, suka seenaknya nyerocos." Rama heran mengapa dirinya di pertemukan dengan wanita nyebelin seperti Naina. Dulu aja waktu pacaran sama Alina dia sering berantem dengan Naina, sekarang aja masih saja.
"Lo yang gak jelas datang-datang membuat gue terjatuh dari motor, jatuh tersungkur ke sawah, dan sekarang bikin papa gue tersedak."
"Astaga Kak, itu murni kecelakaan, gue saja tidak tahu kapan lo nongolnya. Terus sekarang malah nyalahin gue? Gak waras lo."
"Apa kamu bilang? Gue gak waras? Lo kurang ajar juga ya ngatain bini gak waras, dasar bocah ingusan." Naina bertolak pinggang memarahi Rama saking kesalnya di katai gak waras. Namun berbeda dengan Rama yang terbelalak.
"Aduh, ini anak keceplosan bilang bini. Bagaimana kalau om Devan curiga? Bisa berabe urusannya."
Devan menatap silih berganti pada Naina dan Rama. "Ada yang aneh, Naina bilang bini? Maksudnya apa?"
"Sudah, sudah. Jangan buat keributan lagi. Naina, Papa tersedak bukan salah Rama, tapi karena memang Papa yang tidak hati-hati dalam memakan sesuatu."
__ADS_1
"Tuh, dengerin kata papa kamu yang bilang kalau gue tidak salah." Rama turun dari kursi kayu dan mengambil tas berisi laptopnya. "Daripada di sini ada lo yang ngeselin banget, mending gue pulang saja. Om hatur nuhun buat jamuannya. Goreng singkongnya sangat enak dan mantul." Lalu Rama mengambil dua potong singkongnya. "Rama minta ya, Rama juga pamit pulang." Kemudian dia mengulurkan tangannya dan Devan pun memberikan tangannya.
"Padahal Om masih ingin banyak ngobrol sama kamu." Ada rasa tidak rela Rama pergi, sebab masih banyak yang ingin di bicarakan mengenai pekerjaan Rama. Devan tertarik pada anak muda itu karena di usia muda jiwa bisnisnya begitu luar biasa.
"Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi, Om. Rama 'kan masih lama di sini. Sekitar sepuluh hari lagi. Nanti Rama mampir lagi kalau anak Om ini tidak rese," sindir Rama melirik Naina yang sedang cemberut dan juga sama-sama mendelik tidak suka.
"Ck, lo yang rese. Bukan gue."
"Mari, Om. Rama pamit pulang dulu," ucap Rama melewati Naina sambil berbisik. "Urusan kita belum selesai istriku," bisiknya.
Naina melototkan mata, ia kaget. "Maksudnya belum selesai apa?"
"Kenapa Papa malah belain dia terus? Dia itu rese tahu, Pah. Naina tidak suka."
"Naina, Rama itu menurut Papa sangat baik. Rama juga sepertinya pria yang bertanggung jawab, pria yang bekerja keras, dan juga terlihat sangat peduli sama orang. Apa kamu lupa kalau Rama yang telah menolong kamu? Kamunya saja yang suka bikin ribut sama Rama."
"Itumah menurut kamu saja. Jangan terlalu benci sama orang, nanti kalau suka baru tahu rasa."
"Isshh, Papa mah gitu." Naina menghentakkan kakinya kesal.
*****
Rama mengemudikan mobil pick up nya begitu santai sambil menikmati suasana sejuk di sore hari. Dia memperhatikan sekitar jalan yang di kelilingi hamparan sawah. Jarak rumah Kakeknya dan villa Devano terhalang sawah, lebih tepatnya beda kampung.
Di jalan, Rama mengerutkan keningnya melihat sebuah mobil mogok. Seorang wanita tengah memperhatikan mobilnya dan terlihat kebingungan mengotak-atik mesin mobil.
Karena penasaran, Rama menepikan mobilnya dan turun segera menghampiri. "Punten, ini teh kenapa mobilnya?" tanya Rama begitu sopan.
Orang itu menoleh, dia terbelalak melihat Rama, anak muda yang ia kenal. "Rama! Kamu di sini?"
__ADS_1
"Nenek Erna! Nenek di sini juga?" tanya Rama sama-sama terkejut melihat Neneknya Alina, .
"Ah, iya. Nenek dan Alina mau menyusul Devan. Kamu di sini juga?" Mama Erna tidak menyangka akan bertemu Rama di daerah puncak.
"Iya, lagi liburan sekolah. Kebetulan papa nyuruh liburan di rumah Aki, Ema. Ya, sekarang di sinilah Rama berada." Rama tersenyum sambil memperhatikan hamparan sawah.
"Ya ampun, rupanya kamu anak sini. Nenek kira kamu anak Jakarta."
"Mama asli sini, kalau papa asli Jakarta. Oh iya Nek, kenapa dengan mobilnya? Butuh bantuan?" tanya Rama memperhatikan mesin mobil.
"Ini, tiba-tiba mobil Nenek mogok. Tidak tahu ngadat kenapa. Nenek mana ngerti soal mesin mobil. Di sini juga jauh dari dari bengkel mobil. Kalau bengkel motor pasti banyak."
"Oh. Hmmm boleh Rama periksa? Ya, siapa tahu Rama bisa bantu dan menemukan penyakitnya?" Rama menawarkan diri untuk membantu.
"Emangnya kamu bisa?" Mama Erna kurang percaya kalau Rama bisa.
"Coba dulu, siapa tahu bisa." Rama cengengesan. Dia pun mulai memperhatikan dan meraba setiap mesin mobilnya.
Orang yang ada di dalam mobil tersadar dari tidurnya, ia memperhatikan sekeliling tempat. "Ini masih di jalan." Dia Alina, karena sedih akibat putus dengan Rama, Alina ingin liburan di puncak bareng keluarganya, jadinya nyusul.
Alina turun dari mobil menghampiri Neneknya. "Nek, kok berhenti di sini? Villa kan masih jauh."
"Eh kamu sudah bangun, mobilnya tiba-tiba mogok. Nih lagi di benerin oleh Rama."
"Rama!" Alina jadi teringat nama pacarnya.
Rama yang sudah selesai berdiri tegap hingga Alina menyadari keberadaan seseorang. Rama dari tadi mendengarkan, tapi dia bersikap biasa saja.
Naina menoleh ke samping. "Rama, kamu di sini?"
__ADS_1