
"Lo se-seriusan mi-minta hak sama gue? Ha-hak apa?" Naina mendadak bodoh lebih tepatnya pura-pura tidak tahu. Rasa gugup menyelimuti seluruh tubuhnya di kala Rama menatap intens bola matanya.
"Kenapa gugup begitu? Takut? Bukannya lo mau tanggungjawab atas rasa sakit yang gue rasakan? Ya, itu hukuman dari gue." Rama turun dari mobil.
Naina masih duduk di tempat belum ingin turun, ia takut jika Rama sungguhan meminta haknya sebagai istri. "Aduh, masa iya hukumannya seperti itu? Sumpah gue gugup banget, mana mungkin juga gue memberikannya hak sebelum semuanya jelas. Ini nikah siri, bisa jadi nikahnya bohongan dan tidak akan bertahan lama, masa iya harus segitunya?"
Bingung, gelisah, takut, gugup, menjadi satu. Naina tidak tahu apa yang harus ia lakukan demi bisa menolak ajakan Rama.
Rama menoleh ke belakang, ia mendekati Naina. "Buruan turun atau mau ku gendong?"
"Hah! I-iya." Dengan terpaksa, Naina turun dari mobil. Namun tubuhnya menyender ke pintu mobil menghindari Rama.
"Mau gue paksa atau jalan sendiri?" tegas, begitu terdengar di telinga Naina.
"I-iya, gu-gue jalan sendiri." Naina perlahan jalan di depan Rama, namun sesekali menengok kebelakang.
"Cepetan!"
"Gue tidak bisa cepat, kan gue tidak tahu dimana tempatnya." Naina mendengus kesal namun jantung berdebar kencang.
"Lama." Rama menarik tangan Naina kemudian membawanya ke salah satu penginapan yang ada di sana.
"Ra-Rama, gue pulang saja ya. Ini sudah malam."
"Jangan membantah! Ini perintah suami!" singkat, jelas padat, itulah jawaban dari Rama yang mampu membuat Naina bungkam seribu bahasa.
Sampailah di salah satu penginapan hotel. Tangan kanan Rama membuka pintunya dengan tangan kiri masih mencekal pergelangan tangan Naina.
"Gue tidak mau masuk," lirih Naina belum siap.
"Ayo masuk!" lagi-lagi suara Rama begitu tegas. Baru kali ini Naina takut mendengar suara pria muda yang usianya lima tahun lebih muda dari dia. Rama yang berusia sembilan belas tahun dan Naina berusia dia puluh empat tahun.
Perlahan Naina melangkahkan kaki masuk ke dalam. Di ikuti ramalan juga masuk ke dalam, tapi sebelumnya ia mengunci dulu pintu penginapannya.
Naina menoleh ke belakang. "Kenapa di kunci?"
__ADS_1
"Terus gue harus membiarkan pintu ini terbuka? Mana bisa begitu Naina, lo aneh ya." seru Rama sambil membuka kaos yang ia kenakan.
"Eh! Ngapain juga lo buka baju!" pekik Naina menutup matanya, ia malu melihat Rama membuka baju di depan matanya. Ia belum pernah begini sebelumnya.
Rama semakin ingin menjahili Naina, dia tersenyum menyeringai sambil perlahan mendekati Naina. "Menurut lo kalau ada dua orang berbeda jenis dalam satu kamar mau ngapain?" bisiknya di depan Naina.
"Gu-gue ti-tidak tahu. Please Rama, gue belum siap. Jangan minta haknya sekarang, kita ini belum saling kenal 'kan? Ja-jadi jangan ya." Lirih Naina memohon supaya Rama tidak melakukannya dulu.
Rama menahan tawa, tapi akhirnya tawa Rama pecah juga. Naina mengerutkan keningnya heran.
"Hahahaha lo kira gue sungguhan mau minta hak malam ini? Hahahaha wajah lo lucu sekali kalau sedang gugup gini, Kak."
"Lo, jadi lo ngerjain gue?" seru Naina melepaskan tangan dari matanya. Namun kembali memejamkan mata. "Ko lo masih belum memakai pakaian? Cepat pakai baju, Rama."
"Tadi gue bilang apa? Lo lupa, Kak. Gue minta lo tanggung jawab atas apa yang lo lakukan kepada gue. Pundak ini masih sakit tahu," balas Rama sambil berjalan mendekati ranjang kemudian mengambil remote tv.
Di dalam penginapan itu hanya ada satu tempat tidur ukuran besar, satu televisi yang menempel di dinding berukuran 32 inc, meja makan, dan kamar mandi serta balkon kamar.
Rama duduk di ranjang lalu mengambil salep yang sudah ada di atas meja bawah televisi.
"Kemarilah, gue minta bantuan lo mengoleskan salep ini ke pundak gue." Suara Rama terdengar lembut, tidak setegas tadi.
Naina perlahan membuka mata, meskipun gugup dan malu, Naina mencoba menoleh ke arah Rama. Pandangan keduanya saling bertubrukan dan Rama menggerakkan kepalanya meminta Naina duduk di belakang dia.
"Oleskan salep ini!" Rama menunjukkan obat oles yang ada di tangannya. Lalu dia membelakangi Naina.
Seketika bila mata Naina melebar, ia terkejut pundak Rama merah sekali. "Pundak lo merah banget." Naina segera duduk di belakangnya Rama. "I-ini pasti gara-gara tadi sore. Maaf."
"Lo lihatkan akibat kayu yang lo pukulkan ke gue? Dan gue minta oleskan salep ini, gue tidak berani meminta bantuan Aki ataupun Emak gue, nanti mereka banyak bertanya. Makanya gue minta bantuan lo."
Naina mengambil salepnya, ia segera membukanya dan perlahan mengoleskan ke area yang merah. Naina sangat menyesali perbuatannya.
"Maaf, sekali lagi gue minta maaf. Gue kira lo itu maling mobil," lirih Naina sambil mengoleskan salepnya.
"Tidak apa-apa, gue juga minta maaf sudah memarahi lo di hadapan Nenek dan Alina. Dan untuk sikap Alina, jangan salah sangka. Mungkin dia hanya refleks khawatir, tapi gue tidak ada niatan untuk balikan lagi dengannya. Dan maaf jika gue membuat lo kesal, maaf pula kalau gue buat lo menangis." Naina memejamkan mata di saat tangan halus Naina menyentuh kulitnya. Hingga Naina selesai dengan kegiatannya, Rama membenahi letak duduknya.
__ADS_1
Kini mereka saling berhadapan dengan Naina yang menunduk masih merasa bersalah.
"Terima kasih," ucap Rama tulus.
Naina mendongak, "makasih buat apa?"
"Karena lo sudah mau membantu gue mengoleskan salep pereda nyeri."
"Oh." Hanya oh ria, tapi mata masih saling pandang.
"Kita tidur bareng di sini saja ya."
"Apa? Ti-tidur bareng lo?"
"Terus lo mau balik malam-malam gini?" Rama melihat jam tangannya yang bertengger di pergelangan tangan.
"Ini sudah jam setengah sebelas malam, kemungkinan para penghuni yang ada di sekitar tempat sudah pada tidur. Dan lo mau balik? Besok pagi saja lah, gue ngantuk," sambung Rama sambil menjatuhkan tubuhnya tengkurap ke kasur tanpa memperdulikan rengekan Naina.
"Rama, tapi gue mau balik. Anterin gue balik ke Villa ya, kalau orangtua gue nyariin bagaimana? Terus jika nanti mereka bertanya gue habis dari mana jawab apa?" Naina menggoyangkan lengan Rama.
"Besok saja, Nai. Gue ngantuk," balas Rama sudah memejamkan mata, tapi masih bisa mendengar suara rengekan Naina.
"Gue maunya sekarang, ayo."
Karena berisik, Rama menarik tangan Naina hingga gadis itu terjatuh ke atas kasur lalu Rama memeluk pinggang Naina.
"Rama!" Naina memekik kaget dengan jantung yang terus menerus berdebar.
"Tidur atau gue lakukan malam ini!"
"Tidak, gue belum siap. Dasar mesum."
"Mesum sama istri sendiri tidak ada yang larang, sayang. Selamat malam, bobo yang nyenyak."
Deg...
__ADS_1
"Dia bilang sayang? Oh jantung, please jangan berdebar."