
"Ya Allah Naina sayang, kamu kemana saja nak? Kami khawatir sama kamu, kenapa baru pulang pagi Nak?" Kania langsung mendekap erat tubuh putrinya menangis haru bisa melihat sang putri. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan keadaan Naina, hampir semua orang juga tidak tidur menunggu kabar dari Naina dan orang-orang yang mereka hubungi.
"Ya Allah, kami sangat khawatir sama kamu. Kami sudah mencari kamu kesana kemari, tapi tidak ada yang tahu. Kamu kemana saja, Nai?" tanya Mama Erna mengusap rambut Naina.
"Iya Kak, kamu kemana saja? Buat kita semuanya khawatir sama kamu," sambung Alina. Para wanita saling memeluk bersyukur Nain kembali pulang. Namun, berbeda dengan Devano yang terus menatap Rama.
"Kamu ..."
"Maaf karena ku Naina ..."
"Jadi kamu yang sudah membawa pergi putriku?" Devano udah ingin marah, tapi Alina menegang tangan papanya.
"Pah, Rama tidak mungkin membawa Kak Naina pergi tanpa sebab, pasti ada hal lain yang membuat Rama pulang bareng Kakak. Lihat, wajah Rama sampai babak belur begitu." Dari tadi Alina memperhatikan pacarnya yang terlihat bonyok, ia juga memiliki pikiran jika sesuatu terjadi pada Rama.
"Pah, Rama tidak bersalah. Tadi magrib motor Naina tidak nyala, kami juga habis kena begal, Pah." Naina pun bersuara membela Rama.
"Apa! Kamu di begal?" pekik mereka terkejut bersamaan. Naina mengangguk, ia tidak mungkin memberitahukan perihal kejadian yang sebenarnya.
"Kenapa bisa? Terus kamu tidak apa-apa kan? Ada yang terluka?" Devano meneliti keadaan putrinya. Terlihat kacau dan juga pipinya merah.
"Aku sekarang baik-baik saja, Pah. Rama menolongku. Mobil Rama juga hilang, motor ku juga hilang di ambil mereka. Tadinya Rama menawariku tumpangan dan hendak mengantarku pulang, tapi kami malah kena musibah." Naina berkata jujur, karena motornya ternyata sudah lebih dulu tidak ada sebelum orang suruhan Rama mengambilnya. Pun dengan mobil pickup Rama yang juga tidak ada.
"Kami di kejar para begal dan berlari menyelamatkan diri. Rama bahkan babak belur demi melindungi ku yang hampir saja di lecehkan. Seandainya Rama tidak menolongku mungkin saja aku ..." Naina tercekat hingga meneteskan air mata kala beberapa preman itu memukulnya dan hampir melecehkannya.
"Ya Allah sayang!" Kania memeluk Naina menangis terisak. "Tapi mereka tidak melakukan hal lebih padamu kan?"
"Tidak Mah, karena ada Rama yang menolongku, Mah. Rama tidak membawaku pergi, tapi kami berlari dari para begal dan kami menginap di kecamatan sebelah karena kami tidak mungkin pulang di saat hujan lebat." Naina terpaksa berbohong supaya keluarganya tidak terus menerus bertanya pada Rama.
Devano menatap Rama, memang benar wajah Rama banyak lebam. Bahkan sudut bibinya juga masih ada darahnya.
"Maafkan saya sempat berprasangka buruk padamu. Terima kasih sudah melindungi anak saya," kata Devan begitu tulus.
"Iya, Nak. Makasih sudah melindungi Naina." Erna juga berterima kasih pada Rama.
__ADS_1
"Seharusnya saya yang minta maaf karena saya telat membawa Naina pulang. Saya ..."
"Pah, kami telat karena kami sempat tersesat dan untungnya ada warga yang mau menolong dan meminjamkan motornya." Naina tidak mungkin membiarkan Rama berkata jujur. Meskipun begitu, ia tidak sepenuhnya salah.
"Sekali lagi terima kasih, Rama. Hmmm mending kau masuk dulu, kita obati luka mu. Alina kamu bantu Rama mengobati lukanya." Karena setahu Devano, Rama pacarnya Alina.
"Rama ayo masuk," ucap Alina mengajak Rama masuk.
"Makasih om atas tawarannya, tapi aku mau pulang. Pasti orangtuaku juga cemas dan aku harus bicara juga mengenai mobilnya yang hilang. Maaf Alina, lain kali saja aku mampir lagi. Om, Tante, Nenek, aku permisi pulang dulu." Rama tidak ingin berlama-lama dengan alasan orangtuanya pasti bakalan ngamuk. Lalu, ia menyalami para orangtuanya Naina.
"Tapi Ram..." namun Rama tidak menghiraukan perkataan Alina yang nampak khawatir sama Rama.
"Kak Nai, gue pamit dulu, lo istirahat ya. Mari om, Tante, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rama pun menaiki motornya dan pergi dari sana.
"Sekarang kamu masuk ya, kita obati pipi kamu."
"Tapi lo tidak sampai di perko*sa sama preman itu kan, Kak?" tanya Alina.
"Alhamdulillah Rama menolongku," lirihnya berbohong agar mereka tidak memarahi Rama.
"Tapi Pah, motornya hilang," sambung Naina merasa bersalah.
"Motor bisa di cari lagi, yang penting kamu baik-baik dan pulang dengan selamat. Kami berhutang budi pada Rama," kata Devan bersyukur putrinya masih di lindungi.
"Kak Rama orangnya sangat baik, makanya gue cinta sama dia." Ada rasa bangga yang Alina rasakan terhadap Rama, itu salah satu alasan Alina menyukai Rama.
Naina tertegun, ia menatap sedih adiknya. "Kalau kamu tahu kejadian yang sebenarnya apa kamu akan marah sama kakak? Maafkan Kakak, Al."
*****
__ADS_1
Kediaman Rama.
Rama baru saja sampai di depan rumahnya, ia memarkirkan motor pak kiyai lalu turun. Tepat hendak membuka pintu, pintunya sudah terbuka memperlihatkan seorang pria paruh baya bertolak pinggang dengan sorot mata tajam.
Seorang pria menatap tajam putranya. "Bagus ya pulang pagi, keluyuran terus. Dasar anak tidak tahu di untung kemana saja hah?Menyusahkan saja. Mana mobil papa?"
"Maaf Pah, mobilnya di begal orang."
"Apa? Di begal! Ramaaa... Kau hanya bisa membuat darah tinggi papa kumat, mobil itu mahal dan kau malah menghilangkannya? Itu mobil buat memuat bahan bangunan, kalau tidak ada mobilnya pakai apa mengantarkan barangnya?"
"Maaf Pah, Rama salah tidak bisa menjaga mobilnya. Nanti Rama ganti."
"Ganti pakai apa? Pakai daun? Kami pikir mobil itu murah, kamu bisa dapat uang darimana buat menggantinya? Dasar anak bodoh, bisanya menyusahkan saja, dasar tidak ada guna!" sentaknya memarahi Rama. "Pokoknya papa tidak mau tahu, kamu harus cari mobil itu sampai ketemu kalau tidak, papa tidak akan pernah ngasih uang jajan sepeserpun!"
"Rama pasti akan mencarinya."
"Ck, cari sampai ketemu!" lalu Restu pergi dengan rasa kesal yang menyelimuti relung hatinya.
******
Kediaman Devano
Ting tong .. Ting tong ..
"Ada tamu, Mama buka dulu bentar." Mama Erna beranjak dari tempat duduknya. Dia dan anak cucunya sedang mendengarkan cerita Naina.
"Sayang, Mama bersyukur kamu selamat dari begal itu, Mama juga bersyukur kamu tidak kenapa-kenapa. Kamu pulang dalam keadaan selamat pun Mama sangat senang." Bagi seorang ibu keselamatan putrinya adalah hal yang utama.
"Aku juga bersyukur banget Mah."
"Tapi gara-gara Kakak Rama jadi di pukuli orang. Aku yakin saat ini Rama sedang di marahi papanya," ucap Alina masih kepikiran Rama.
"Seandainya Kakak tidak ikut Rama nganterin bahan bangunan kakak juga tidak akan dapat musibah seperti ini. Kakak juga tidak akan men ..."
__ADS_1
"Naina."
Naina menoleh. "Mario."