Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 91


__ADS_3

Tidak adanya Rama di rumah membuat Naina merasa kesepian. Seketika dia merindukan pria muda yang telah menjadi suaminya. Tak di pungkiri hatinya saat mendengar kata pisah ranjang dulu.


"Kenapa aku begitu merindukan kamu, Rama? Baru saja kamu pergi tiga jam lalu, tapi kenapa sekarang aku sangat ingin bertemu kamu. Apa aku akan sanggup jika pergi meninggalkan kamu dan membiarkanmu bersama Alina? Saat begini saja perasaanku sakit, Rama." Naina menangis tersedu-sedu memeluk erat jaket milik suaminya.


Entah kenapa ia begitu cengeng, ini bukan Naina yang sebenarnya. Namun kali ini dirinya mudah sekali terhasut dan juga mudah menangis hanya karena hal sepele.


Ada sosok di balik pintu mendengar tangisan Naina. Dia adalah Erna. Sebagai seorang nenek ikut sakit mendengar cucunya nangis. Baru kali ini dia melihat kerapihan seorang Naina yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Sampai suara seseorang membuat Erna menoleh.


"Mah."


"Devan." Erna pun menjawabnya dengan sangat pelan. Namun mata kembali melirik Naina. Devan dan Kania pun ikut menatap Naina. Hati mereka terenyuh sakit kala tangisan Naina terdengar nyaring di telinganya.


"Sejak kepergian Rama dari rumah ini, Naina terus menangis. Rama bilang akan pisah ranjang dulu sampai Naina menyadari semua keinginan itu salah."

__ADS_1


"Apa yang Naina inginkan?" tanya Devan.


"Naina merasa bersalah atas sikap Alina. Dia jadi juga bersalah karena merasa telah merebut Rama dari Alina dan membuat Alina sakit hati. Namun tanpa dia sadari jika dirinya juga tersakiti atas keinginannya sendiri."


"Lalu Rama?" tanya Kania.


"Rama tidak ingin mengikuti permintaan Naina. Makanya Rama lebih memilih mengalah dulu dengan cara pergi dari rumah ini. Dia tidak mau mengganggu Naina dulu karena menurutnya permintaan Naina sangatlah berat. Rama bilang tidak mungkin kembali pada masa lalunya di saat dia sudah mencintai Naina. Mama juga merasa kalau Naina mencintai Rama. Namun ..."


"Aku tidak akan membiarkan mereka berpisah, aku sudah memutuskan untuk membawa Alina ke tempat nenek buyut nya dan akan tinggal di sana sampai dia bisa menjadi sosok yang dewasa dan bertanggungjawab."


"Iya, Mah. Ini atas keputusan aku dan Kania. Rama juga datang ke rumah memperingati kita dalam keadaan marah besar. Jadi kami sudah memberangkatkan Alina bersama orang-orang suruhan Devan."


Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa lagi. Baik Erna dan Kania diam tidak mungkin mencegah Alina di saat perbuatannya sudah tidak bisa di maafkan oleh Rama.


*****

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain selain kembali ke rumah orangtuanya dulu. Rama kini berada di dalam rumah papanya. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat keadaan rumah berantakan sekali.


Bukan tidak ingin tinggal di lain tempat, tapi Rama sedang ingin melihat keadaan papanya saja. Dan tentunya merindukan pria itu karena sudah satu bulan torak bertemu. Terakhir kali bertemu ketika papanya mengirimkan bahan bangunan yang Rama pesan untuk membangun sekolah taman kanak-kanak.


Di sana pula Rama harus menghadapi papanya yang terus bertanya kenapa Ram ayang pesan. Dan ada orang yang kebetulan kerja menjelaskan siapa Rama. Namun tetap saja Papanya tidak percaya dengan mudah.


"Ngapain kamu kemari?" tanya Restu saat ia baru keluar kamar yang kebetulan berada di dekat lantai bawah alias kamar tamu.


"Hanya ingin melihat papa saja, eh ternyata rumahnya berantakan sekali. Tidak di bersihkan, Pah?" Rama mengambil satu botol minuman yang terletak di atas kursi.


"Suka, hanya saja hari ini mbaknya belum ke rumah." Restu segera membereskan beberapa baju yang ada di sana.


Rama memperhatikan raut wajah papanya. "Apa Papa tidak merindukan aku dan juga Gilang? Apa kehidupan Papa sudah lebih tenang ketika tidak ada anak bandel lagi di rumah? Apa Papa bisa bahagia tanpa adanya kita di sini?" cercanya dengan segala macam pertanyaan yang membuat Restu bungkam secara tiba-tiba.


"Papa ..."

__ADS_1


__ADS_2