Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 16


__ADS_3

"Ini buat kamu." Restu memberikan sebuah kunci mobil dan menyimpannya di hadapan Gilang.


"Waw, kunci mobil?" tak di pungkiri kalau Gilang merasa senang melihat barang yang ia inginkan. "Ini untukku?" Gilang mengambilnya dan memperhatikan kunci itu.


"Tentu saja, sebagai hadiah karena kamu sudah menjadi salah satu mahasiswa terbaik di kampusmu. Papa bangga sama kamu, tidak sia-sia Papa memiliki anak pintar seperti mu. Tidak seperti Rama, nilainya jelek semua dan juga seringkali membuat onar. Anak itu Sungguh membuat Papa malu, apalagi gurunya bilang Rama anak paling bandel di sana." Dengan segala kekesalannya, Restu kembali membandingkan Rama dan Gilang.


Dan orang yang sedang di bicarakan pun masih ada mendengarkan, Rama menghelakan nafas lalu beranjak ke kamarnya. Dia bersiap-siap mandi dan pergi lagi. Pakaiannya pun sudah di ganti. Kali ini lengkap memakai jaket kebanggaan dia.


"Mau kemana lagi, kau?" ujar Restu tegas.


"Keluar mencari kesenangan, di sini tidak ada kesenangan yang ada kebatinan." telah membalas perkataan Papanya sambil berlalu dari sana.


"Kalau kamu keluar papa tidak akan memberikan kamu uang jajan, Rama! Diam di rumah dan belajar biar pintar seperti Gilang." Lagi dan lagi di bandingkan. Namun Rama tidak mendengarkan dan meneruskan langkahnya.


"Sudahlah, Pah. Mending biarkan saja, dia 'kan paling bandung diantara kita berdua. Kalau Papa perlu apa-apa, Gilang siap membantu Papa. Sekalipun harus mengerjakan tugas kantor pun Gilang siap."


Restu menoleh, ia tersenyum penuh bangga karena Gilang selalu bisa diandalkan. "Kamu. memang anak Papa."


Bruuuum ... bruuuuuum ....


*****


Hari mulai gelap, dan Rama beserta teman-temannya sudah berkumpul di suatu tempat sebelum berangkat ke arena latihan. Dentuman musik begitu nyaring dan bar pun makin riuh seiring jam makin malam. Ya, bar. Rama sedang berada di dalam bar.


"Ram, bagaimana? Sudah siap kah latihan malam ini?" tanya seorang pria yang terlihat lebih dewasa dibandingkan mereka. Dia adalah Danu, orang yang melatih Rama dan kawan-kawan.


"Siap, dong, Bang. Rama selalu siap kapanpun itu. Mau sampai pagi pun hayu, Rama jabanin, dah." Jawab Rama begitu semangat.


"Asyik, Rama berdakwa. Gue suka semangat jiwa anak muda kayak lo," ucap Bang Danu.


"Sebelum latihan di mulai, kita bersulang dulu," ujar Deni mengangkat minuman ke depan.


"Siap." Balas semuanya dan mengangkat minuman mereka lalu beradu hingga bunyi 'ting.'

__ADS_1


"Toooos..."


Minuman yang mereka minum bukanlah minum bukanlah beer atau sejenis minuman memabukkan lainnya. Tetapi minuman yang Rama dan rekan-rekannya minum hanya softdrink. Mereka menang sering masuk bar, tapi hanya sekedar nongkrong saja tanpa melakukan apapun. Mereka tidak pernah meminum minuman beralkohol, dan prinsip mereka adalah bebas tapi terbatas. Bandel boleh nakal jangan, main boleh keterlaluan jangan.


Pada dasarnya, Rama dan kawan-kawan nya merupakan anak yang baik dan paham betul mengenai ajaran agamanya. Mereka tahu mana yang di haramkan dan mana yang di halalkan. Apalagi mereka diam-diam selalu menuntut ilmu dari ustadz ataupun ustadzah yang mereka undang ke rumah Deni. Hal itu semakin membuat rohani mereka terisi ilmu agama. Rama hanya mencari hingar bingar untuk menghilangkan kejenuhan dia dan kesepian dia dalam sebuah keluarga. Namun, bukan berarti Rama tidak berprilaku baik. Prinsip Rama, baik jika orang baik, jahat jika orang jahat. Jahat dalam artian selalu melawan perkataan orang itu sekalipun orangnya dewasa.


*****


Di jalan raya yang sepi dan sudah jauh dari pemukiman warga, Rama beserta rekan-rekannya bersiap. Tapi hanya Rama yang akan melakukan latihan, karena hanya Rama yang akan siap turun di track balapan.


Bang Danu sudah siap dengan stop watch di tangannya. "Kamu siap, Ram?" tanya Danu kepada Rama yang sudah ada di atas motor, lengkap dengan segala pelindungnya untuk melindungi tubuh dia dari hal-hal yang tidak di inginkan. Mencegah lebih baik daripada mengobati, maka dari itu Rama mempersiapkan penyelamatan diri sebelum ada sesuatu yang terjadi, semisal terjatuh dari motor.


"Siap, Bang." Rama sudah standby dan fokus menatap ke depan.


"Ok, satu ... dua ... tiga ... goooo....!!!"


Bruuuuuuummmmm ....


"Lo bisa Rama, ayo ... ayo ..." Deni dan Rian berteriak menyemangati rekannya itu. Mereka berdua sebenarnya bisa, cuman mereka gagal masuk saat seleksinya. Sedangkan Rama berhasil masuk dan siap bertanding esok sore.


"Rama go, Rama go. Go go go, Rama ... Lo bisa!!" pekik Rian begitu kencang menyemangati rekannya.


Dan tak lama kemudian, Rama sampai di garis dan berhenti tepat di depan Bang Danu dengan gaya bagian belakang motor terangkat.


Bruuuumm ... kiiittt ....


"Wow, lo hebat!" Deni, Rian, bang Danu memuji kepandaian Rama dalam melajukan motornya.


"Bagaimana, Bang?" tanya Rama setelah mematikan mesin motornya dan melepas helmnya.


"Sudah bagus, Ram. Sesuai target yang diinginkan. Hanya saja, saat balapan besok, lo harus fokus ke balapan dan juga jangan lupa berdoa. Semoga semuanya di lancarkan dalam segalanya." Doa tulus Bang Danu berikan untuk keberhasilan Rama dalam menggapai segala macam keinginannya.


"Siap, Bang. Terima kasih juga sudah mengajari gue."

__ADS_1


"Lo tidak berterima kasih kepada gue gitu?" celetuk Deni.


"Makasih apaan? Perasaan lo tidak melakukan apapun." sahut Rama.


"Ya elah, gue 'kan mendukung lo juga. Makasih ke, traktir ke, kasih duit ke sebagai tanda makasihnya."


"Itu sih mau lo, Deni." Ucap mereka berbarengan.


Rama melihat jam di pergelangan tangannya, "sudah jam setengah dua dini hari. Pulang yuk, tapi ke rumah lo, ya Den."


"Ok, baiklah. Gue mah hayu bae. Lo mau ikut ke rumah gue atau pulang?" tanya Deni kepada Rian.


"Gue ikut kalian saja, males gue kalau pulang di tanya darimana."


"Kalau lo, Bang?" tanya Rama pada Bang Danu yang sudah menaiki motornya.


"Pulang ke rumah bini nya, lah. Pengantin baru, hahahaha." Jawab Deni dan Heri bersamaan.


"Nah, itu tahu. Gue duluan, ya." Bang Danu pun berpamitan melakukan tos ala pria.


"Hati-hati, Bang."


"Sip," ucapnya mengacungkan jempol.


Berhubung waktu semakin malam, dan jalanan semakin sepi, ketiga anak remaja itu menjalankan motor mereka dalam kecepatan tinggi pula. Namun, di dalam perjalanannya, Rama menepikan dulu motornya. Rian dan Deni pun mengikuti.


"Ada apa? Motor lo bermasalah?" tanya Rian.


"Kita mampir dulu ke mushola terdekat, ya."


"Oh, ok. Siap kalau gitu mah." Lalu, mereka kembali menjalankan motor mereka dan berhenti di mushola terdekat.


Seperti biasa, dikarenakan waktunya semakin mepet, mereka harus beribadah dulu meski tanpa melakukan tidur terlebih dulu. Ibadah di sepertiga malam, itulah mereka. Nakal tetapi juga alim. Dan mereka pulang ke rumah Deni.

__ADS_1


__ADS_2