Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 84 - Salah paham


__ADS_3

Sampai lah Naina di rumah susun yang di maksud Rama. Dia memperhatikan setiap tempat, lingkungan, orang-orang yang ada di sana, dan juga interaksi yang terjadi di sana.


"Ini rumah susun yang kamu maksud, Rama?" Naina bertanya karena memang begitu penasaran.


"Iya, ini memang rumah susunnya. Ayo, kita ke sana." Rama tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Naina. Dia tidak sedikitpun membiarkan Naina jauh dari sisinya.


Dan seketika anak-anak yanga ada di sana berlarian menyambut kedatangan Rama.


"Ada kakak Rama datang!" pekik salah satu ana perempuan yang ada di sana. Mereka yang sedang asik bermain pun seketika menoleh dan tersenyum berlarian mendekati Rama.


"Kak Rama, Kak Rian, Kak Deni." Mereka semua menyebutkan nama-nama yang ada di sana dan menyambut Rama dan kawan-kawan.


"Hai semuanya. Apa kabar?" seru Deni menyambut anak kecil yang paling kecil untuk ia bawa ke gendongannya.


"Kabar kami baik, Kak."


"Kelihatannya kalian semua sedang bahagia? Boleh Kakak tahu apa yang sedang terjadi?" tanya Rian yang sudah berjongkok membalas satu-persatu anak-anak yang memeluknya.


"Iya, Kak. Kami senang karena banyak mainan datang. Katanya itu dari kakak-kakak semua." Anak yang mungkin berusia enam tahun itu nampak berbinar sambil menunjukan mainan yang ia pegang.


"Masa sih? Kok kakak tidak tahu ya?" Rama bersuara, padahal memang itu dari dia dan yang lainnya, tapi Rama tidak mengakuinya.


"Kalau bukan dari kakak dari siap dong?" nampak anak gadis kecil berpikir sambil memperhatikan mainan bonekanya.


"Yang pasti itu adalah pemberian dari hamba Allah yang baik, jadi kalian harus bersyukur dan harus berterima kasih sama Allah supaya Allah mengirimkan orang-orang baik untuk membantu kalian semua," kata Rama.


"Ok gitu ya, kakak."


"Nah, jadi apa kalian sudah berbuat baik? Misalnya belajar?" tanya Rian.


"Yaah, aku lupa belum belajar, Kak. Apa Allah akan menghukum kita yang tidak belajar?" tanya anak laki-laki.


"Tentu saja iya, nanti Allah akan marah kalau kamu tidak belajar. Nanti mainannya bisa saja hilang lagi, jadi sekarang belajar dulu. Mainnya bisa nanti ya," kata Deni.


"Kalau belajarnya sama kakak bagaimana?"


"Hmm gimana ya?" Rama terlihat berpikir. "Tentu boleh dong."


"Horee.." Dan anak-anak girang akan di ajari oleh Rama dan kawan-kawan.


Naina yang sedari tadi diam memperhatikan interaksi mereka hatinya terenyuh ketika Rama dan yang lainnya begitu dekat dengan anak-anak kurang beruntung. Menurut yang ia tahu, rumah susun itu di dirikan untuk mereka yang tidak punya rumah dan tadinya tinggal di bawah kolong jembatan. Namun kini terlihat kehidupan yang berbeda dari pada anak-anak jalanan itu.

__ADS_1


"Kakak Rama, itu siapa? Kakak cantik itu diam saja?" ujar anak kecil.


Rama menoleh. "Kakak ini namanya Kakak Naina, dia itu ..."


Namun tiba-tiba seseorang menyerobot di antara Rama dan Naina. Orang itu tiba-tiba merangkul lengan Rama dan mendorong tubuh Naina untuk menjauhinya.


"Hei!" Naina hendak protes, tapi ia malah tertegun saat mendengar ucapan wanita itu.


"Sayang, kamu kemana saja baru datang kesini? Aku udah lama nungguin kamu, anak kamu kangen kamu."


"Eh! Maaf, kamu apaan sih?" Rama mencoba melepaskan rangkulan tangan wanita itu. Ia menatap Naina yang juga menatapnya.


"Sayang, anak," lirih Naina merasa kesal ada wanita lain memanggil Rama sayang. Namun ia menjadi berpikir negatif tentang Rama dan wanita itu.


Deni dan Rian saling pandang, mereka saling sikut satu sama lainnya.


"Sepertinya di bos lupa kalau ada cewek gila yang mengaku-ngaku jadi istrinya," bisik Rian.


"Bisa jadi Bu Bos marah ini mah," balas Deni.


"Maaf ya, tolong lepaskan aku, ok!" Rama bertutur kata lembut pada perempuan itu. Ia tidak mungkin berkata kasar padanya.


"Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan kamu menjauh lagi dari aku! Pokoknya kamu harus tetap tinggal di sini sama aku dan calon anak kita." Wanita begitu erat merangkul lengan Rama seakan tidak mau kehilangan Rama.


"Naina ini ..."


"Kamu siapa suami aku, hei? Rama ini suami aku, jadi dia milik aku. Kamu pergi sana dari sini!"


"Suaminya? Kamu dan dia?" Sungguh Naina tidak percaya kalau dirinya di bohongi begini. Kalau Rama sudah punya istri dan calon anak kenapa harus menikahinya?


"Tidak! Kamu jangan salah paham dulu." Rama mencoba melepaskan pelukannya wanita itu yang semakin erat saja.


"Kamu bohongin aku?" lirih Naina mundur beberapa langkah dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Aduh, ini bahaya." Demi segera menurunkan anak kecil yang ia gendong.


"Neng, kita masuk yuk. Tidak baik di sini." Rian mencoba membujuk wanita itu.


"Tidak mau! Aku mau sama suamiku!"


"Kamu jahat!" Naina berlari dari sana, hatinya terasa sakit melihat suaminya memiliki wanita lain.

__ADS_1


"Naina tunggu dulu! Aku bisa jelasin ini semua!" Rama sulit lepas dari wanita itu. "Deni, Rian, bantuan gue napa? Bini gue marah tuh."


"Ini ibunya kemana sih? Anaknya kok di biarkan keluyuran gini." Deni dan Rian mencoba membantu Rama.


Sehabis lepas, barulah Rama pergi dari sana mengejar Naina.


"Neng, suaminya kan udah meninggal. Anak kamu juga udah gede, masa lupa?"


"Suami aku, jangan pergi!" pekiknya memberontak ingin lepas dari Rian dan Deni.


*****


Sedangkan Naina berlari menjauh.


"Dasar cowok, beraninya bilang hanya satu tapi ternyata punya yang lain dan bodohnya aku percaya saja sama omongan manis dia." Naina menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja.


"Naina tunggu!" Rama berhasil mengejar Naina. Ia menarik tangan istrinya.


"Apaan sih? Pergi sana! Kau tidak mau ketemu kamu!" Naina menepis kasar tangan Rama dan terus melangkah menjauhinya.


"Aku bisa jelaskan, wanita bukan siapa-siapa aku. Percaya deh sama aku."


"Laki-laki memang pembohong, bilangnya bukan siapa-siapa tapi ada hubungan juga." Naina mengomel dan sialnya masih menangis yang entah kenapa begitu sakit ada cewek lain yang menjadi istri Rama.


Rama kembali menarik tangan Naina dan membawanya dalam pelukannya. "Aku bilang dengarkan aku dulu!"


"Enggak! Semuanya jelas loh, dia bilang istri kamu dan dia juga punya anak. Aku benci di bohongi!" Naina terisak dalam dekapannya Rama dan memberontak ingin lepas dari peluangnya.


"Aku berani bersumpah hanya ada kamu yang menjadi istriku. Dia itu bukan siap-siap aku, Nai. Dia hanya orang gila yang mengaku-ngaku jadi istri aku. Suaminya pergi merantau dan di nyatakan meninggal. Dia tidak terima dan jadi gila. Aku berani bersumpah kalau wanita itu gila."


Deg.


Barulah Naina terdiam, ia mendongak. "Gila?"


"Iya, gila. Kurang waras, masa kamu cemburu sama orang kurang se ons, sih?"


"Jadi dia gila? Terus aku marah sama orang gila yang jelas-jelas tidak punya pikiran karena gila?" Naina bingung sendiri.


"Kalau ada sesuatu jangan asal ngambek dulu. Dengerin suami bicara, bukan malah kabur begitu saja."


"Kamu ngeselin, huaaa." Naina malah nangis lagi saking malu karena cemburu sama orang gila.

__ADS_1


"Eh, kok nangis lagi?"


"Bodo amat, ini salah kamu."


__ADS_2