
Pagi pun telah tiba.
Ayam tetangga berkokok terus menerus, mataharipun masih malu-malu menampilkan sinarnya. Bahkan jam alarm terus berdering tak mampu membangunkan seorang Ramadhan Restu Al-kahfi yang masih terlelap dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Sedangkan di meja makan, Restu dan Gilang sudah menunggu buat sarapan.
Restu celingukan mencari keberadaan anak keduanya. "Rama mana? tumben belum kelihatan? Pasti anak itu bangun terlambat lagi. Sudah besar masih saja lelet."
"Itu kan udah kebiasaan si pemalas itu, Pah."
"Ini tidak bisa di biarkan." Lalu Restu beranjak dari meja makan berjalan ke arah kamar Rama. Dia menggelengkan kepala mengingat kebiasaan sang anak yang selalu saja bangun terlambat. Hal inilah yang membuat Restu marah besar.
"Sudah besar masih saja di bangunkan, dasar anak pemalas."
Ketika sudah berada di dalam, Restu menggoyang-goyangkan tubuh anaknya. "Bangun, Rama! Ini udah jam berapa? nanti kesiangan! Kau harus sekolah dan belajar yang benar!" Restu terus mencoba membangunkan Rama.
"Sebentar lagi, Pah! Lima menit lagi!" balas Rama sambil menaikan kembali selimutnya ke atas. Dia paling sulit bangun pagi, apalagi semalam malah terbangun dan bermain game online bareng rekan-rekannya hingga jam empat pagi. Setelah shalat subuh tidur lagi.
Melihat itu, Restu geram, dia menyibak selimutnya lalu menjewer telinga Rama tanpa ampun. "Cepetan bangun Rama!! kalau tidak bangun papa siram pakai air! Sudah besar masih di bangunin, pemalas, hari ini sekolah. Buruan bangun! Jangan buat papa marah terus, anak bodoh!" pekik Restu membuat Rama terbelalak merasakan sakit di telinganya.
"Aw aw aw sakit, Pah! Iya, Rama bangun," ucap Rama kesal tangannya memegang kuping yang terasa panas.
"Buruan, mandi!" pekik Restu mendorong bahu Rama.
Rama segera berdiri dan berjalan ke kamar mandi, dengan rasa kesal yang begitu mendalam.
"Pagi, semuanya," sapa Rama ketika sudah berada di meja makan.
"Ck pagi, pagi, ini sudah siang. Dasar pemalas, lihat kakak kamu, rajin bangun pagi dan sudah siap bekerja. Gak kayak kamu cuman bisa nyusahin papa saja."
Rama menghelakan nafas berat. "Mulai lagi. ya, Rama tahu Gilang lah yang paling terbaik. Rama mah apa atuh, cuman anak yang tidak dianggap." Mood sarapannya menjadi hancur gara-gara ini. Rama memilih pergi tanpa menyentuh sarapan pagi.
*****
Di tempat lain, hari ini adalah hari pertama Alina dan Naina sekolah di sekolahan yang baru. Sebenarnya Naina lumayan malas dan enggan beradaptasi dengan orang baru, tapi karena ia akan menjadi guru, jadinya terpaksa harus ke sekolah.
Naina masuk ke salah satu sekolah yang cukup terkenal di kota J. Hari ini Hasna diantarkan oleh abangnya.
"Cepetan naik!" ucap Bang Devan memerintahkan Naina dan Alina naik mobilnya.
"Iya, Pah." Kemudian keduanya masuk.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, Alina dan Naina hendak turun.
"Hati-hati, ya. Sekolah yang benar! Nanti Papa jemput kamu lagi." ucapnya pada Alina dan Naina.
"Aku pulang naik angkutan umum saja, Pah." kata Naina.
"Dan Alina mau di jemput Papa."
"Berarti hanya Alina yang papa jemput, kamu tidak mau?" tanya Devan pada Naina.
"Tidak usah, Pah. Naina pulangnya pasti telat. Dan pastinya ini hari pertama Nai ngajar."
"Ya sudah, Papa tidak akan memaksa."
Di lingkungan baru, Naina merasa gugup sebab ia merasa asing dan seorang diri. Naina menghembuskan nafas kasar. "Nai, tetap santai. Welcome sekolah baru, suasana baru, dan semoga keberuntungan menyertaimu. Dan semoga kamu bisa menjadi guru yang baik. Gue deg degan ada Rama di sini," batin Naina.
*****
Rama segera memarkirkan motornya dan berlari menuju gerbang yang hampir tertutup lalu berteriak.
"Pak satpam, tunggu!"
Pak satpam pun berhenti dan menoleh.
"Hehe maaf Pak, soalnya bangun kesiangan."
"Buruan masuk! Sebentar lagi upacaranya akan di mulai," perintah Pak satpam.
"Siap, Pak. Aku masuk dulu."
Dan Rama kembali berlari ke kelas menyimpan tasnya dulu, lalu dia kembali berlari kelapangan mengikuti upacara.
"Huhhh, selamat, untung tidak terlambat." Rama mengelap keringat di keningnya, dia mengatur nafas yang masih ngos-ngosan
Tanpa dia sadari, temannya memperhatikan dia kemudian menepuk pundaknya.
"Kamu terlambat lima menit, maju ke depan!" ucap Guru BK membuat Rama terhenyak.
"Pak, 'kan belum di mulai. Masih ada waktu, lah."
"Tidak bisa! Kamu sudah terlambat, dan kamu harus berdiri di depan!"
__ADS_1
"Isshh, baiklah." Rama mengalah dan ia berjalan ke depan. Berdiri diantara para murid, namun matanya menatap sosok yang ia kenal diantara barisan guru. "Naina, dia ngajar di sini?"
"Wah, si Rama baru masuk udah terlambat saja," ujar salah satu dari mereka.
"Dia 'kan anak paling bandel di sini. Paling banyak tingkah dan juga si pembuat onar."
"Jangan salah, meskipun dia bandel, tapi juara pertama balapan seantar kota. Dia juga ketua basket dan mampu membawa kebanggaan buat sekolah kita."
Dan masih banyak lagi orang yang membicarakan Rama. Hingga dua orang lagi pria berlari tergesa-gesa. Keduanya juga terlihat di tegur oleh guru BK.
"Kalian lagi, kalian bertiga selalu saja terlambat. Maju ke depan!"
"Baik, Pak." Kedua pria itu berlari ke depan dan keduanya tersenyum melihat Rama.
"Wah, kita kompakan lagi," ucap Deni.
"Kita memang selalu kompak, kita 'kan sabahat." Rian menimpali.
"Ck, terlambat kok bangga," balas Rama mencebik, tapi tersenyum karena mereka terlambat gara-gara main game. Namun matanya melirik ke arah Naina.
*****
"Bagaimana hukumnya? Enak?" ucap seorang pria meledek Rama.
"Uh mantap betul," balas Rama malas berurusan dengan Willi.
"Lo pasti iri tidak bisa kena hukuman 'kan?" tanya Deni.
"Ck, gue iri sama kalian si tukang rusuh? Kagak tuh." balas Willi and the gang.
"Bilang saja kalian yang iri, tapi tidak mampu karena kita paling rajin dan paling pandai."
"Dih, iri sama kalian? Kagak tuh," balas Rama membalikkan perkataan mereka.
"Dah, ah, kita masuk kelas. Malas meladeni willi and the gang." Rama nyelonong pergi di ikuti oleh Deni dan Rian.
Mereka bertiga masuk ke dalam kelas.
"Rama, sekalipun kamu di hukum, gue tetap suka lo sama lo," seru wanita bernama Mita duduk di hadapan Rama. Diantara wanita yang ada di dalam kelas ada wanita yang selalu diam-diam memperhatikan Rama, dia Alina.
"Cie yang Ter Rama-Rama," ledek Deni dan yang lainnya membuat Mita tersenyum senang dan membuat Alina menggeram kesal.
__ADS_1
"Mita, gue harap lo jangan deketin gue lagi. Gue udah punya istri," celetuk Rama.
"Apa?! Istri?! Siapa?"