Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 30


__ADS_3

"Bisa-bisanya dia kabur ninggalin gue, istri macam apa itu? bukannya minta maaf malah nyelonong pergi begitu saja. Awas saja kalau kita bertemu lagi, aku kasih kamu pelajaran Kak Naina." Rama mengumpat kesal dan ia kembali melanjutkan langkahnya ke kebun sang Kakek. Lebih tepatnya kebun dekat sawah dan berada di tengah-tengah sawah milik kakek neneknya.


Sampai kebun pun wajah Rama masih terlihat kesal dan menggerutu kesal. "Baru kali ini gue ketemu cewek aneh kayak gitu. Sayangnya dia bini gue sendiri, ingin rasanya ku kutuk dia jadi batu."


Sedangkan di kebun, "Kang Soleh, abdi mau pesan mentimun, cabe, sama tomat, Kang."


"Itu mah bisa di atur. Nanti akang pilihkan kualitas terbaik buat kamu. Tapi kalau untuk cabe, harganya naik. Apa kamu sanggup?" tanya Kakek Soleh pada orang yang ada di hadapannya.


"Tidak apa-apa, kang. Apalagi sekarang sudah mau bulan ramadhan, pasti setiap bahan bumbu bakalan pada naik. Tapi jangan mahal-mahal, Kang. Abdi juga buat di jual lagi."


"Untuk Nak Devan mah bisa di atur." Dan orang itu adalah Devano, Papanya Naina. Devan memang sering membeli aneka macam tanaman sayuran untuk di jual lagi ke pasar. meskipun ia memiliki ladang juga, tapi ia suka membeli produk orang lain dan di jual lagi. Berhubung Kakek Soleh hanya memiliki sedikit ladang, jadinya hasil panen pun di jual kepada mereka yang sering kali membelinya.


"Nah, itu ada Rama cucu saya. Ram sini!" panggil Kakek Soleh melihat cucunya datang. Devan memperhatikan Rama. Dia terkejut mengetahui siapa cucu Kakek Soleh.


"Itu kan Rama? Jadi dia cucu Akang?" tanya Devan.


"Iya, dia cucu saya."


"Iya, Aki. Ada apa?" tanya Rama tersenyum ramah ke arah Kakek Soleh, lalu beralih pada Devano.


"Om, om di sini juga?" Tapi, tiba-tiba dia mengulurkan tangannya sebagai tanda hormat pada orang tua. Devan menerima uluran tangan Rama dan Rama mengecup punggung tangannya menggunakan kening.


"Ini cucu kedua saya, Rama. Pasti Nak Devan sudah tahu dan pernah ketemu."


"Oh iya, yang waktu itu bantu saya membenarkan mobil saya." Devan mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Pada saat itu tiba-tiba mobilnya mogok dan kebetulan Rama serta Kakek Soleh lewat dan Ram membantunya. Itu pertemuan pertama sebelum menjadi pacarnya Alina.

__ADS_1


"Iya, rupanya Nak Devan masih ingat itu. Iya, ini Rama yang waktu itu membantu menyala kan mesin mobilnya."


"Pasti kamu sedang liburan di sini?"


"Iya, Om. Lumayan menjernihkan pikiran dan mata. Pemandangan alamnya sungguh indah dan suasananya sangat sejuk."


"Sayang sekali Alina tidak mau ikut, kalau ia ikut pasti dia senang ada kamu ada di sini."


Gala diam, "kalau om Devan tahu aku dan Alina sudah putus apa dia akan marah?"


"Kalian sering bertemu? kelihatannya akrab banget?"


"Sering Kang, Rama ini pacarnya anak saya. Jadinya kami sering bertemu," jawab Devan.


"Aku turun ke ladang?" tanya Rama memastikan.


"Iya, turun ke sana." Rama pun memperhatikan ladang yang di tanami mentimun. Banyak rumput dan juga becek.


"Oh tidak!!!"


"Jangan aku dong, Aki. Aku masih memakai baju rapi dan sudah sangat tampan sekali. Masa anak tampan sepertiku harus turun ke ladang? 'Kan gak asyik. Ntar bajuku kotor, kulitku kotor, nanti gak tampan lagi bagaimana?" Ram menolak tegas perintah Kakeknya. Ia enggan turun ke ladang setelah melihat bagaimana kotornya ladang yang ada di hadapannya.


Dia sudah memakai pakaian bersih dan wangi, masa harus bermain dengan lumpur dan pohon mentimun? Rama enggan akan hal itu. Niatnya kesana pun hanya ingin melihat-lihat saja, bukan membantu turun.


"Terus kamu ngapain ke sini kalau tidak mau bantu kami?" sahut Mak Ijah mendekati para orang-orang yang sedang duduk di saung.

__ADS_1


Mak Ijah melepaskan topi yang terbuat dari anyaman bambu, kalau bahasa Sunda mah cetok namanya. Lalu Mak Ijah ikut duduk di samping suaminya dan juga menuangkan air ke dalam gelas.


"Rama hanya ingin melihat-lihat saja, Mak, Aki. Di rumah suntuk gak ada siapa-siapa dan juga bosan di rumah sendirian. Setidaknya kalau Rama main ke ladang ada pemandangan indah yang nyata yang bisa Rama nikmati. Bisa menghirup udara segar, bisa menatap luas hamparan sawah hijau membentang, bisa melihat berbagai macam perkebunan aneka sayuran dan juga bisa selfi-selfi sebagai kenang-kenangan." tutur Rama panjang lebah menjelaskan niatnya datang ke sana.


Devano tersenyum menggelengkan kepalanya, ia tahu jika anak muda jaman sekarang paling enggan bermain lumpur.


"Sudahlah, Kang. Jangan di paksa kalau Rama nya tidak mau tidak apa-apa, 'kan masih banyak orang yang bisa kita sewa buat bantuin milih mentimunnya. Lagian kalau saya sendiri juga bisa." Lalu Devan turun.


"Setidaknya anak ini ada kerjaan di sini. Rama, ayo bantu Aku! Ini bukan di tempat kamu tinggal, di sini kamu harus ikutin apa yang Aku perintahkan. Sekalian kamu belajar panen buat nanti jika kamu menjadi petani juga. Ayo!" Kakek Soleh memaksa Rama tetap ikut turun membantunya. Dia tidak mau memanjakan cucunya meski Rama merupakan cucu kesayangan dia.


"Tapi, Aki ..."


"Ramadhan Restu Al-kahfi!" ucap Kakek Soleh begitu tegas menekankan nama lengkap Rama.


Jika sudah menyebut nama lengkapnya, itu artinya kakeknya tidak ingin di bantah, harus di turuti. Rama menghasilkan nafas berat, dan dengan terpaksa dia mengangguk. "Baiklah, Rama akan bantu kalian."


"Gitu dong, baru ini cucunya Aki." Kakek Soleh tersenyum dan menepuk-nepuk pundak cucunya. "Ayo turun," ucap Kek Soleh mengajak Rama turun ke ladang.


Ramaa pun mau tidak mau harus turun. Dia melipatkan celananya agar tidak kotor dan dengan ragu kakinya turun ke tanah becek.


"Ihhh, becek sekali." gumam Rama ragu. Namun, kakek Soleh menarik tangannya sehingga kedua kakinya menginjak tanah becek.


"Lama sekali, buruan! Laki kok lembek."


"Ck." Rama mencebik.

__ADS_1


__ADS_2