Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 86 - Sebuah Rencana


__ADS_3

Mendapatkan bantuan dari Rama, Gilang tidak menyia-nyiakan kesempatan dan tidak terlalu lama bertindak. Dia bergegas mencari tempat yang cocok untuk memulai usahanya itu. Bahkan dengan kemurahan hatinya sang adik, Gilang di bantu.


"Lo serius mau bantu gue mencari tempatnya?" tanya Gilang masih tidak percaya kalau adiknya membantu dia.


"Gue seriuslah, Bang. Kebetulan ada beberapa kenalan gue menawarkan tempat yang gue rasa cocok digunakan buat jualan. Harga tempatnya pun beragam, harganya pun beragam, dan bisa menjawab ataupun beli juga." Rama memang memiliki banyak teman dari kalangan yang berbeda. Jadi setiap ada yang ingin menjual apapun pasti selalu ada yang menawarinya.


"Kalau beli tidak akan mampu, paling Gue cuman bisa nyewa dan sisanya buat keperluan yang lainnya. Dan gue juga tidak mau meminjam lagi uang kekurangannya."


"Baiklah, itu mah bisa gue atur. Kalau lo mau kita ke sana bareng-bareng."


"Emangnya bini lo tidak keberatan?" Gilang melirik Naina yang sedari tadi diam saja tanpa ikut berbicara.


"Kalau selama Rama berjalan di jalan kebaikan, aku tidak akan keberatan Bang."


"Bini gue gituloh, istri Solehah."


Setelah semuanya sepakat, Gilang pun ikut ke manapun sama pergi dan mencari beberapa tempat sesuai yang ia inginkan.


Hingga waktu terus berjalan, siang berubah malam, hari berubah Minggu, dan Minggu berubah bulan. Sudah dua bulan lamanya pernikahan Rama dan Naina terjalin tanpa adanya rintangan yang menghalangi. Semakin hari hubungan mereka bertambah harmonis saja.


Devan juga sudah percaya pada Rama memberikan Naina untuk dijaganya. Devan melihat kehidupan putrinya terjamin, bahagia, dan juga tidak ada keluhan apapun tentang Rama. Semakin hari Devan semakin mengagumi sosok pria muda itu. Mungkin usianya masih muda di bawah Naina, kadang tingkahnya pun seperti anak kecil, kadang bikin kesal, namun ternyata dibalik itu semua pemikirannya begitu dewasa.


Akan tetapi di setiap kebahagiaan selalu saja ada yang tidak menyukainya. Itulah yang Alina rasakan, mengetahui mantan kekasihnya bahagia bersama sang kakak, membuat Alina di mana cemburu dan semakin tidak terima atas takdir yang menimpanya.


Keromantisan Rama terkadang selalu ditunjukkan di sekolahnya meskipun belum ada satupun orang yang tahu tentang hubungan Rama dan Naina di sekolah.

__ADS_1


*****


Kafe.


"Kenapa sih semakin hari mereka terus bahagia? Apa mereka tidak pernah sadar kalau di sini ada gue tersakiti. Sumpah jahat banget jadi orang." Alina terus menggerutu melampiaskan kekesalannya pada makanan. Bahkan tanpa sadar tubuhnya bertambah melar akibat terus saja makan makanan yang bisa menambah berat badan.


Pikirannya sedikit stres melihat kemesraan Rama dan kakaknya. Kadang juga suka memperhatikan secara diam-diam dari jarak jauh meskipun ingin sekali dirinya mengambil kebahagiaan yang lain Naina dapatkan.


"Kalau lo kayak gini terus Kapan lo move on-nya? Rama sudah punya kehidupan baru, terkecuali lo mau ikuti saran dari gue!" ucap seseorang secara tiba-tiba duduk di hadapan Alina.


Alina melihat siapa dia, dan seketika matanya terbelalak saat mengetahui siapa orang itu. "Kak Mario! Kau!" Alina terkejut dan hendak berdiri, tapi Mario segera menarik tangan Alina dan menyuruhnya duduk lagi.


"Duduklah, gue tidak akan berbuat jahat kepada lo. Gue hanya ingin meminta bantuanmu untuk memisahkan Rama dan Naina. Gue tahu kalau lo masih mencintai Rama kan? Gue juga tahu kalau dalam hati kecil menginginkan Rama. Kalau lo mau kita bisa bekerja sama memisahkan keduanya, lo bisa mendapatkan Rama dan gue bisa mendapatkan Naina." Mario bisa terbebas dari penjara atas jaminan orang tuanya dan juga perilaku baik yang diperlihatkan Mario ketika berada di penjara. Bahkan uang bisa membantu segalanya dan mempermudah segala urusan.


"Tidak, gue tidak mau melakukan itu. Meskipun gue ingin, tapi gue tidak akan pernah meminta bantuan lo." Alina menolak tegas, ia merasa bisa bergerak tanpa bantuan siapapun meskipun ia tidak yakin. Namun ia punya rencana sendiri untuk memisahkan Rama dari kakaknya.


"Apa lo tidak mau mendapatkan semua yang lo dapatkan? Seharusnya itu milik lo kan?"


Alina makin berpikir, ia mulai terpengaruh atas penawaran yang diberikan oleh Mario. Dirinya emang marah dan selalu merasa semua yang ada pada diri Rama adalah miliknya. Seharusnya dia yang menjadi istrinya, seharusnya dia yang tinggal di rumah besar itu, seharusnya dia yang menjadi banyak seorang bos Game. Hal itu selalu terbayang-bayang di benaknya.


Sisi baiknya mulai tergoyahkan oleh cinta buta yang seharusnya tidak lagi ada di hati. Demi cinta, Alina malah tertarik oleh ajakan Mario. "Apa yang harus kulakukan kalau gue mau membantu lo?"


Mario tersenyum menyeringai, hatinya senang Alina mulai terhasut olehnya. "Gini ..." Mario pun menjelaskan semua rencana yang telah ia susun dengan rapi dan ia yakini akan berhasil membuat Naina berpisah dengan Rama. Kalau cara kasar tidak bisa memisahkan keduanya, maka cara halus yang akan mampu menghancurkan hubungan mereka.


"Ok, gue mengerti." Alina gelap mata, ia tergoda untuk berbuat jahat kepada kakaknya sendiri atas nama cinta yang ia miliki untuk suami orang. Cinta haram yang seharusnya tidak boleh ia pelihara dan seharusnya tidak melebihi cinta kepada Tuhannya. Rasa khilaf menyelimuti relung hatinya karena sudah di butakan oleh cinta dunia.

__ADS_1


*****


Sekolah


Hilir mudik para anak sekolah memenuhi area gerbang. Para siswa dan siswi terus bertambah seiring jam semakin siang.


Namun ada yang berbeda di area lapangan, di sana sudah ada Foster besar terpangpang mampu menarik perhatian para murid-murid.


"Ada apa ini? Kok ada foto Bu Naina dengan seorang pria. Apa itu pacarnya? Tapi kenapa fotonya seperti sedang berhubungan intim," kata salah satu siswa yang memperhatikan lekat-lekat gambar tersebut.


"Kelihatan sekali kalau Bu Naina itu murahan. Masa foto begituan di lihatkan," celetuk Alina tanpa hati mengetahui Kakaknya sendiri. "Eh, kalian sudah dengar belum Kalau Bu Naina itu sudah menikah dan ternyata pernikahannya itu karena dia sudah di sentuh pria lain. Jadinya pria yang menikahinya itu terpaksa."


"Masa sih? Kok aku tidak percaya."


"Itu pria yang ada di poster itu mantan tunangannya, dan suaminya yang sekarang bukan pria yang ada di sana. Kalian lihatkan wajah Bu Naina yang sedang keenakan di cumbu mesra."


Bisik-bisik terus terdengar di telinga para murid. Naina yang baru sampai di sana heran melihat orang-orang berkumpul di lapangan.


"Ini ada apa sih?" tatapan mata para murid ketika menatapnya terlihat berbeda. Karena penasaran Naina ingin melihatnya.


"Kenapa kalian berkumpul di sini, ada apa?" Naina menerobos ke antara kumpulan para murid-murid.


Dan alangkah terkejutnya saat ia melihat wajah yang ada di Foster itu mirip dengannya. "Kenapa wajahnya mirip denganku?"


"Tidak nyangka ya kalau guru kita ini perempuan yang murahan," celetuk salah satu murid.

__ADS_1


"Apa maksud kamu?"


__ADS_2