Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 52 - Kembali ke Kota


__ADS_3

Selama liburan di rumah Aki dan Emaknya, Rama belajar banyak hal. Belajar berkebun, ngangon kerbau, dan masih banyak lagi kegiatan yang Rama lakukan selama liburan di kota B. Hari telah berganti hari, liburan sekolah pun telah usai. Kini, Rama akan kembali lagi ke Jakarta untuk kembali melanjutkan sekolahnya yang akan masuk esok hari. Rama saat ini sedang berpamitan kepada nenek dan kakeknya.


"Rama pamit dulu ya, Ki, Emak. Maafkan Rama kalau selama ada di sini selalu merepotkan Aki dan Emak," ucap Rama sambil mengecup punggung tangan pria tua yang selama ini menemaninya dan selalu mendidiknya.


"Aki yang minta maaf karena selama Rama di sini selalu Aki suruh-suruh. Tong kapok, nya. Main lagi kesini kalau udah libur sekolah." Aki Soleh mengusap lembut kepala Rama.


"Insyaallah, Ki. Mak," ujar Rama menatap Mak Ijah.


"Padahal baru kemarin kamu teh kemari. Sekarang udah mau pulang lagi. Emak jadi bakalan rindu berat sama cucu emak ini." Mak Ijah pun mengusap pundak Rama dengan mata yang berkaca-kaca.


"Rama juga akan kangen sama kalian. Kalau ada liburan, Rama pasti akan datang kesini. Kalau perlu bawa istri."


"Hahaha kamu ini, tapi Aki setuju. Nanti bawa calon calon istri ya."


"Siap aki."


Berhubung sekolah akan kembali di mulai lagi, Rama pun kembali pulang. Kali ini dirinya pulang sendirian, tidak di jemput ataupun tidak diantarkan. Papanya terlalu sibuk dalam kerjaan hingga enggan menjemputnya dan mengatakan harus pulang ke rumah sendirian.


"Kamu itu sudah besar, seorang laki-laki, jadi kamu pulang saja sendiri! Tidak usah merepotkan papa. Papa dan Abang kamu sedang sibuk mengurusi kerjaan yang akan berkembang. Kamu tidak perlu meminta papa menjemputmu, papa sibuk." Itulah perkataan yang papanya katakan tat kala kakek neneknya menelpon. Namun, itu hanya bilang kepada Rama saja, tidak kepada kakek dan neneknya.


"Kamu tidak apa-apa pulang sendiri?" tanya Mak Ijah.


"Tidak, Mak. Rama berani, kan Rama sudah besar."


"Ya sudah, kamu hati-hati ya di jalannya. Aki sama Emak hanya bisa nganterin kamu sampai sini." Aki dan neneknya mengantarkan Rama ke jalan Rama tempat bus lewat.


"Iya, Ki. Itu busnya sudah ada. Rama pamit dulu." Rama pun berpamitan kepada mereka berdua dan Kakek soleh dan Mak Ijah mengantarkan kepulangan Rama sampai pria muda itu menaiki bus.


*****


Kota J


Dunia Naina mulai di sibukkan dengan kegiatan membantu mamanya memasak. Ya, Naina mulai di tugaskan mengelola usaha katering milik Kania. Naina juga pulang lebih dulu dari Rama karena ada pesanan yang harus di kerjakan. Dan ini pertama kalinya Naina yang menangani.

__ADS_1


"Nai, biar Mama saja ya yang masak. Kamu duduk saja, pasti capek seharian ini mengurus semuanya," kata Kania tidak tega melihat Naina yang terus bolak balik mengerjakan tugas dari Devano.


Naina sudah berdiri di samping mamanya dan sedang mengiris bawang merah.


Hingga Devano masuk ikut bergabung. "Kamu duduk dulu saja, sayang. Biarkan Naina yang masak. Naina 'kan perempuan dan pastinya akan memiliki suami. Jadi Naina harus bisa pandai masak dan pandai menyenangkan suami." Perkataan Devan membuat Naina terdiam teringat Rama yang akan mengajaknya ke rumahnya hari ini.


"Suami, kok aku malah ingat Rama. Bagaimana keadaan Rama di sana? Apa dia sudah pulang ke kota J? Apa Rama ingat ucapannya yang akan mengajak ku dan Nenek ke rumahnya?" gumam Naina dalam hati sambil menunduk sambil mengiris bawang.


"Tapi, Mas ..."


"Biarkan Naina yang buat! Sekalipun Naina bisa masak, dia harus belajar menangani katering yang kita kelola." Devan tidak ingin istrinya kasihan pada Naina. Ini cara dia mendidik tanggungjawab terhadap Naina.


*****


Sampai juga di gerbang depan pintu rumahnya. Rama turun dan ia menatap rumah mewah itu. "Rumahnya besar, tapi tidak ada kenyamanan di sini."


Lalu Rama masuk sambil menyeret kopernya. Sampai di rumah dzuhur membuat Rama merasa lelah hingga ia memutuskan untuk istirahat. Meskipun hanya dua jam, tapi cukup menguras tenaga.


Papanya Rama dan abangnya datang baru pulang.


"Sepertinya iya, rumah tidak di kunci." Karena biasanya, kalau mereka pulang rumah masih terkunci dan hanya Rama yang punya kunci cadangan.


"Baguslah, jadi papa tidak perlu menjemput dia kesana. Papa masuk dulu, mau istirahat capek."


"Gilang juga mau istirahat, Pah."


Keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing.


*****


Di kamar Rama.


Rama menyimpan koper yang ia bawa, kemudian duduk di atas kasur membuka ponsel yang sedari tadi tidak ada kabar dari siapapun. Namun, karena janji akan membawa Naina dan Nek Erna ke rumahnya, Rama me hubungi Naina.

__ADS_1


Drrrtt ... drttt ...


"Tidak di angkat." Lalu ia kembali menghubungi seseorang, tapi kali ini nenek Erna.


*****


Sedangkan Naina baru saja menyelesaikan pekerjaannya. "Alhamdulillah akhirnya keterangannya sudah sampai ke pemesan." Naina tersenyum senang, ia pun pulang dengan rasa puas yang ia terima karena masakannya di terima oleh banyak orang.


"Naina aku kagum sama kamu yang mampu mengurus ketering keluarga. Pasti bayarannya lumayan kan?" ujar Mawar temannya Naina.


"Hmmm gimana ya?" Naina tersenyum.


"Aku udah yakin bayarannya banyak."


"Alhamdulillah lumayan. Oh iya, karena kamu sudah menjadi asisten ku, aku akan memberikan kamu bayaran pertama."


"Kamu seriusan? Aku baru hari ini ikut kamu kerja, tapi kamu sudah mau memberiku upah?" Mawar tidak percaya kalau Naina sebaik itu padanya.


"Aku seriusan. Udah ayo, antar aku ke ATM." Naina merangkul lengan Mawar dan mengajaknya ke atm terdekat. "Aku juga penasaran dengan isi saldo yang Rama berikan padaku. Aku udah pegang kartunya, tapi belum ku gunakan."


"Tapi orangtua kamu tahu tidak? Aku takut mereka malah tidak setuju."


"Kamu tenang saja, ini uang milikku, jadi tidak usah khawatir orangtuaku marah."


"Yang dari Rama sih, nafkah pertamaku, katanya."


"Ok deh."


Hanya butuh berjalan beberapa menit Naina sampai di ATM. Naina masuk ke dalam dan meminta no rekening Mawar. Pas di dalam, Naina menekan tombol mesinnya.


"Kata sandinya tanggal pernikahan kita." Kemudian Naina mencobanya dan berhasil. Ia melihat saldo yang ada di dalam, dan matanya terbelalak ketika melihat nominal yang ada di sana.


"Ini seriusan? Rama memberi nafkah seratus lima puluh juta. Ini uang atau bukan?" Naina menatap tidak percaya daratan angka yang ada di atm. Ia pikir hanya jutaan mengingat Rama hanyalah siswa biasa, tapi ternyata isinya puluhan juta.

__ADS_1


"Aku ingin pingsan, ini mimpi bukan sih? Rama, sebenarnya kamu kerja apa? Apa ini hasil kerja sebagai pembalap?" gumam Naina dengan kepala mendadak pusing melihat angkanya.


__ADS_2