Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 66 - Tolong, lepaskan aku!


__ADS_3

Mendengar Naina belum juga pulang, Rama tidak tenang. Ia yang tadinya beralasan ke toilet kembali masuk dengan langkah tergesa.


"Rama, kamu tidak sopan sekali masuknya." Guru yang masih mengajar menegur sikap Rama yang menurutnya kurang sopan.


"Maaf, Pak. Ini sangatlah penting. Saya harus pergi." Rama mengambil tasnya. "Deni, Rian, gue butuh bantuan kalian."


"Darurat, Ram?" tanya Deni.


"Banget," jawab Rama tergesa berlari keluar kelas.


Tingkah Rama di perhatikan oleh semua murid yang ada di kelas dua belas. Alina juga memandang heran. "Ada apa dengan Rama? Kenapa tergesa begini?"


"Den, buruan!" Rian juga berdiri mengambil tasnya, begitupun dengan Deni yang juga mengikuti Rama.


"Hei, kalian semua mau kemana? Jam pelajaran belum selesai dan juga belum waktunya pulang." Guru yang mengajar di kelas melarang Rama dan teman-temannya keluar.


"Ini sangat penting, Pak. Ini menyangkut nyawa seseorang. Kami harus pergi, ayo Deni, Rian." Rama tidak peduli dengan larangan guru. Ini kali pertama dia kabur di saat jam mata pelajaran sedang berlangsung, biasanya ia kabur ketika pagi dengan alasan bolos sekolah. Namun kali ini Rama bertindak di luar dugaan semua orang.


"Maaf, pak. Sepertinya ini sangatlah darurat. Kita permisi dulu, pak. Maaf." Deni pun berlari keluar kelas.


"Pak, jangan marah. Kita siap di hukum." Rian juga langsung berlari.


"Hei! Mereka sungguh bandel. Ini tidak bisa di biarkan, saya harus laporkan kelakuan mereka bertiga."


"Mungkin ada hal penting yang harus mereka lakukan, pak. Biarkan saja, mendingan kita lanjutkan lagi belajarnya," kata Alina. Sekalipun ia penasaran dengan Rama, tapi ia tidak bisa meninggalkan pelajaran begitu saja.


*****


"Ada apa, Ram? Sepertinya ini sangat darurat sekali?" tanya Rian sambil menaiki motor masing-masing.


"Naina hilang. Dia belum pulang ke rumah, gue rasa sesuatu terjadi padanya. Makanya gue minta kalian berdua buat bantu gue mencarinya. Dan maaf gue harus ngajak kalian bolos di jam pelajaran." Ada rasa tidak enak pada kedua temannya.


"Tidak masalah, kita akan membantu lo mencari Naina."


Dan mereka bertiga pergi meninggalkan sekolah.

__ADS_1


*****


Lain tempat. Baik Erna, Kania, dan Devan terus mencari Naina. Erna yang tadinya tenang menjadi khawatir penuh kepanikan ketika tahu Naina sudah pulang. Namun sampai siang begini tidak ada tanda-tanda adanya Naina.


"Kalian berpencar mencarinya. Kemanapun kita akan cari Naina sampai ketemu. Mama harap kali ini kamu tidak akan memaksa Naina buat mengalah!" Dan di saat begini pun, Erna masih memberikan peringatan pada putranya untuk tidak lagi memaksa Naina.


"Baik, Mah. Devan janji. Aku ke sana." Devan menunjuk arah timur.


"Dan aku ke barat," kata Kania.


"Mama ke selatan. Semoga kita bisa menemukan Naina." Kemudian mereka berpencar menggunakan mobil masing-masing.


*****


Seorang wanita tengah terbaring di atas kasur. Perlahan ia mulai sadar.


"Aw, kepalaku pusing sekali," lirihnya berusaha bangun untuk mendudukkan bokongnya.


Merasa aneh, dia memperhatikan sekeliling tempat yang ada di sana. "Dimana ini?" Dia Naina.


"Mario, apa dia menculik ku? Aku harus segera keluar dari sini." Naina hendak turun, tapi matanya teralihkan pada kain bermotif batik yang di kenakannya.


"Apa ini?" Naina memperhatikan penampilannya. "Baju kebaya? Apa maksud dari semua ini?" Naina terbelalak kaget pakaiannya sudah berganti dengan kain kebaya pengantin. "Tidak, ini tidak mungkin terjadi." Naina takut jika Mario sudah menikahinya secara diam-diam.


Ceklek.


Suara pintu terbuka mengalihkan keterkejutan Naina. Ternyata itu adalah pria yang tadi bertemu dengannya.


"Mario!"


"Hai sayang, kamu sudah sadar." Mario tersenyum seakan semuanya baik-baik saja. Dia melangkah mendekati Naina.


"Kamu mau apa? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Ini namanya penculikan."


"Mau ku hanya satu, yaitu kamu. Aku tidak bisa kehilangan kamu, Nai. Aku tuh cinta sama kamu. Jadi aku terpaksa melakukan ini supaya aku bisa menikahimu. Dan sekarang adalah hari pernikahan kita."

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak mau menikah sama pria brengsek seperti kamu. Tolong, lepaskan aku! Aku ingin pulang." Naina menatap Mario penuh permohonan, ia tidak mau menikah lagi, ia tidak mau di paksa begini.


"Kita akan pulang setelah kita menikah, sayang." Mario menyeringai.


"Aku bilang tidak mau!" sentaknya dengan air mata mengalir di pipinya.


"Kamu harus mau!" balas Mario tegas sambil mencengkram pipi Naina. "Kamu harus nikah sama aku, bahkan aku sudah melihat seluruh tubuhmu dan aku sudah mencicipinya."


Naina menggelengkan kepalanya tidak percaya itu terjadi padanya. Tangisannya semakin deras merasa hina atas kejadian ini. Melihat dari pakaian yang sudah berganti, Naina bisa menebak kalau pria itulah yang menggantinya.


"Kamu bohong, Mario. Kamu tidak mungkin melakukan itu padaku."


"Tentu saja bisa jika aku menginginkannya, sayang. Kamu sudah menjadi milikku dan mungkin saja benihmu akan cepat tumbuh di rahimmu." Mario melepaskan cengkraman tangannya.


Deg.


Naina tertegun. Benarkah ia sudah ternoda? Benarkah Mario melakukannya saat dia tak sadarkan diri?


"Tidak, itu tidak mungkin!" jerit Naina takut jika Mario berkata yang sebenarnya. Ia yang tidak tahu apa-apa tentang sebuah hubungan suami istri bisa saja terjadi tanpa sadar.


"Sayangnya itulah kenyataannya." Mario tersenyum manis seakan menunjukan rasa bahagianya.


"Brengsek kau, beraninya melakukan ini padaku!" pekik Naina melemparkan bantal kepada Mario. Dia menangis histeris atas apa yang menimpanya.


"Perias, cepat rias pengantinku." Mario tidak memperdulikan kemarahan Naina. Ia malah menyuruh tukang rias pengantin merias Naina.


"Kamu milikku, Nai. Hanya milikku." Mario pergi dari sana untuk mempertahankan beberapa orang yang akan menjadi saksi pernikahannya.


"Tidak! Aku bukan milikmu! Aku milik Rama, dia suamiku hiks hiks." Naina terduduk memeluk kedua lututnya. Ia terisak menyesali diri sendiri yang tidak bisa menjadi diri. "Rama." Tangisannya semakin pecat saat teringat pada pria yang semalam memberikan sebuah kehangatan padanya. Apa yang akan ia katakan pada Rama kalau ternyata dirinya sudah ternoda?


"Nona, mari."


"Aku tidak mau menikah dengan pria gila itu. Mbak tolong lepaskan aku! Bantu aku keluar dari sini, aku mohon." Naina berharap wanita perias itu mau membantunya.


"Aku punya orangtua mbak, aku punya suami, aku harus pergi dari sini. Aku tidak mau dia menikahi ku. Aku mohon bantu aku, tolong ... tolong lepaskan aku aku dari sini!" Naina sampai menangkupkan kedua telapak tangannya memohon pada perias itu untuk membantunya.

__ADS_1


"Tapi ..."


__ADS_2