
Pukul 3 sore WIB, Rama sudah sampai di kota B. Kota tempat mamanya berasal. Kota B dengan sejuta cerita dan terkenal akan tempat wisatanya puncak serta kota yang sejuk. Kebetulan tempat Aki dan Nini berada di dekat pegunungan dan cuacanya begitu sejuk. Dia berangkat diantarkan oleh Ayahnya.
"Assalamualaikum Aki, Emak," ucap Rama menunggu pintu di buka. Aki dan Emak merupakan panggilan yang Rama berikan untuk kakek dan neneknya. Dalam bahasa Sunda, Aki itu di sebut Kakek dan Emak itu artinya Nenek
"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam rumah, suaranya pun seorang wanita.
Lalu pintu terbuka. Rama tersenyum menyambut neneknya. "Selamat sore, Mak."
"Masyallah Rama! Ini teh kamu! Kenapa kamu tidak bilang mau datang ke rumah Emak? Padahal mah kalau tahu udah Emak jemput ke kota." pekik nenek Rama sambil memeluk Rama. Dia tidak tahu akan kedatangan cucunya kesana. Pas bertemu langsung memeluk tubuh Rama. Wanita yang berusia lima puluh tahun itu begitu erat memeluk cucunya.
"Kalau tahu bakalan datang ke sini, Emak akan menyiapkan makanan kesukaan kamu." Wanita yang sering di sapa Emak Ijah itu terharu bisa melihat cucu nya lagi setelah satu tahun yang lalu mereka bertemu saat lebaran kemarin.
"Kenapa atuh tidak menyiapkan makanannya? Sudah tahu cucunya datang malah tidak di sediakan goreng singkong rebus atau ubi goreng." Rama pun membalas dengan logat sundanya. Dua makanan itu merupakan makanan yang Rama sukai jika ia mampir ke rumah neneknya. Rama selalu minta dibuatkan singkong goreng yang telah direbus dahulu ataupun ubi goreng dan ditemani secangkir teh hangat.
"Mana Emak tahu. Kamu datang ke sini sama siapa? Sendirian? Kakak sama papa kamu mana?" Mak Ijah celingukan memperhatikan lingkungan rumahnya, tapi ia tidak menemukan siapapun di sana.
"Sama papa, kalau Gilang tidak ikut. Dia sibuk Mak, 'kan anak kesayangan papa. Kalau papa lagi menemui Aki. Kata papa jam segini aki sedang ada di kebun."
"Oh pantas saja papa kamu tidak kelihatan. Dari dulu Gilang selalu saja menjadi anak kesayangan papa mu. Apa-apa harus seperti Gilang. Tapi bagi Emak, kamu tetap cucu Emak yang terbaik." Mak Ijah tersenyum.
__ADS_1
"Jelas dong, Rama gitu. Mak aku mau istirahat dulu, Rama capek, Mak." Rama mengeluh, ia merasa lelah karena ia kurang istirahat.
"Ya sudah, kamu istirahat di kamar yang sering kamu gunakan, ya."
Rama sudah tahu kamar mana yang akan ia tempati, jadi dia terus langkah ke kamar hanya untuk istirahat. Matanya ngantuk, tumbuhnya capek, dan juga merasa pegal-pegal.
Setelah Rama masuk kamar, barulah Restu dan Kakeknya Rama masuk rumah.
"Ijah apa Rama sudah ada di rumah?" tanya Kakek Soleh.
"Sudah, katanya capek jadinya langsung masuk kamar dan istirahat."
Restu mengulurkan tangannya mencium hormat tangan mertuanya. "Apa kabar, Bu?"
Tapi Mak Ijah lebih dulu menyiapkan minuman serta cemilan untuk mantu dan cucunya.
"Tidak biasanya kamu datang ke sini tanpa mengabari kita," kata Kakek Soleh.
"Iya, Pak. Ini sangat dadakan sekali. Aku ingin menyerahkan Rama selama liburan untuk Bapak didik agar anak itu menurut dan tidak membuat onar lagi. Aku capek melihat dan menghadapi kelakuan Rama yang tidak pernah mau nurut sama aku." Restu mulai mengeluh dan mengadukan setiap kelakuan putranya.
__ADS_1
"Mungkin kamunya saja tidak bisa mendidik Rama dan selalu membandingkan dia dengan kakaknya. Bukannya dari dulu kamu memang tidak menyukai sifat Rama?" sahut Mak Ijah bersuara sekaligus menyindir kelakuan menantunya itu.
"Justru Restu selalu berusaha keras untuk menjadikan Rama anak yang baik dan mau mengerti keinginan orangtuanya. Restu begitu karena ini juga demi kebaikan Rama sendiri." Restu membela dirinya sendiri dan merasa sudah melakukan tindakan yang menurutnya benar. Namun tanpa di sadarinya jika apa yang Restu lakukan membuat sebagian anak merasa di bandingkan dan tidak pernah merasa di hargai usahanya.
"Bukan berarti kamu selalu membandingkan mereka. Setiap anak memiliki kemapuan masing-masing dan memiliki keinginan sendiri untuk menentukan pilihannya. Seharusnya kamu mendukung penuh apa yang Rama lakukan. Begini caranya cucu ku merasa tidak di inginkan," sahut Mak Ijah kurang setuju mengenai cara pikir Restu dan cara didiknya. Dia juga tidak suka cucu nya di sakiti meski Restu ayahnya.
"Tapi, Bu ..."
"Sudah, sudah. Tidak perlu lagi di bahas mengenai ini. Terpenting sekarang Rama ada di sini dan akan kami didik sesuai yang kami mampu. Tapi, jika Rama tidak mengikuti keinginan mu jangan paksa dia. Setiap anak tidak boleh di paksa karena itu hanya akan membuat mereka semakin membangkang saja." Kakek Soleh pun menimpali sekaligus melerai pembicaraan Istri dan menantunya. Dia tidak ingin ada pertengkaran karena saling menyalahkan dan saking membela diri masing.
"Ya, Pak. Restu minta Bapak mendidik anak bandel itu dengan cara Bapak. Selama liburan sekolah, Restu serahkan Rama pada Bapak. Restu pun tidak bisa lama-lama di sini karena harus mengurus pekerjaan yang di kota. Apalagi Gilang saat ini Gilang sudah mulai mengelola perusahaan Restu, jadinya aku harus siaga mengajarkan dia. Hanya Gilang yang Restu banggakan karena mampu membuat Restu bangga. Gilang sangat pintar dan juga penurut. "Dan lagi-lagi Restu mengungkit masalah itu. Itu pun membuat Mak Ijah kesal karena menantunya ini dari dulu suka sekali membandingkan kedua anaknya.
"Loh, kenapa buru-buru sekali? Kita makan dulu, atau kamu menginap dulu di si sehari mah. Gak capek bulak balik?"
"Lain kali saja, Pak." Restu pun berdiri, "Restu disibukan dengan keadaan. Titip Rama Bu, Pak." Restu pun menyalami kedua mertuanya.
Mau tidak mau nenek dan kakek Rama mengiakan karena Restu pasti akan tetap menolak jika terus di paksa.
"Ya, sudah. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut dan utamakan keselamatan. Lambat asal selamat," ucap Kakek Soleh memberikan nasihat.
__ADS_1
"Baik, Pak." Restu pun berpamitan dan beranjak pergi.
"Dari dulu Martin tidak pernah berubah," ujar Mak Ijah sedikit kesal.