
"Rama, geli." Naina kegelian ketika bibir Rama terus menelusuri setiap kulit leher putihnya.
"Sebentar saja, sayang. Aku ingin seperti ini dulu," balas Rama semakin mengeratkan pelukannya ketika mereka sudah berada di atas kasur yang sama dalam keadaan berbaring. Rama tidak tinggal diam, ia akan membuktikan lewat tindakan jika semuanya salah. Ia akan menunjukan kalau Naina masih suci, itulah tujuannya saat ini.
Naina tidak bisa menolak keinginan Rama setelah pria itu berhasil merayunya, kini dia adalah suaminya yang berhak melakukan apapun terhadapnya dan termasuk melakukan tindakan yang saat ini Rama lakukan.
Jantung mereka berdebar dan semakin berdebar kencang saat dimana Rama mencium keningnya Naina penuh perasaan. Mengecup setiap kelopak mata dengan lembut dan menye sap bibirnya penuh kehati-hatian seakan takut menyakiti bibirnya. Naina bisa merasakan perasaannya Rama lewat tindakan yang ia lakukan kepadanya karena hanya ada kelembutan dalam setiap tindakan yang Rama lakukan.
Naina tak bisa menolak kelembutannya dalam setiap sentuhan dan dalam perlakuannya saat ini. Naina mulai terbuai, Naina terlena, Naina tergoda di kala tangan dan bibirnya terus menyusuri setiap lekukan tubuhnya. Tanpa sengaja Naina pun mengeluarkan suara lenguhan merdu yang begitu manja sehingga membuat Rama semakin buas memangsa.
Refleks Naina mengalungkan kedua lengannya ke leher Rama sesekali mere mas rambut suaminya di kala Rama semakin semangat bermain salah satu buah simalakama secara bergantian. Lenguhan manja itu semakin menjadi di saat sebuah rasa yang tidak bisa di ungkapkan lewat kata merasuk ke dalam tubuhnya di kala suaminya semakin liar tak terkendali.
Perlahan tangan Rama mulai melepaskan sisa pakaian yang ada di tubuhnya Naina. Dia juga berusaha melepaskan pakaiannya sambil menatap Naina penuh cinta dan naf*u. Kabut gairah sudah merasuk kedalam tubuh mereka berdua, dan hawa yang tadinya dingin kini menjadi semakin panas.
Rama kembali memberhentikan aktivitas nya saat berusaha melepaskan kain terakhir yang menutup bagian miliknya. Pipi Naina terasa panas, Naina malu saat tak sengaja matanya melihat milik dia yang sudah berdiri menantang dan Ramapun mengambil selimut menyelimuti tubuh mereka berdua lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
__ADS_1
Naina terus memejamkan mata menikmati setiap cum buan dari suami halalnya. Suara merdu mengalun merdu keluar dari bibir Naina secara terus-menerus. Rama juga menyusupkan wajahnya ke ceruk lehernya memberikan tanda merah di sana. Rama menurunkan kecupannya ke salah satu benda kenyal milik Naina dan mulai nakal memainkannya . Tangan satunya me re mas lembut yang satunya lagi dan me mi lin pucuk. Hal itu membuat Naina semakin di buat gila oleh sensasi yang luar biasa ini.
Naina bagaikan cacing kepanasan, ia semakin tak tahan ingin minta lebih. "Rama."
Namun, tiba-tiba Naina tertegun. "Tidak, Rama aku ..."
"Sssttt, jangan pernah takut karena kau tidak akan membiarkan kamu terus berpikir buruk. Aku akan membuktikannya bahwa akulah yang pertama. Percayalah padaku, Naina." Rama mengerti ketakutan Naina, ia menatap lembut bola mata Naina seakan memberikan keyakinan kuat bahwa semua baik-baik saja. Hingga Naina luluh dan ia menganggukkan kepalanya menyetujui Rama melakukan hal lebih.
Perlahan tangan Rama mencengkram lutut Rama. Rama mulai menyatukan kedua milik benda berbeda itu. Naina bisa merasakan Rama begitu kesusahan, bahkan Nainapun merasakan sakit di kala sesuatu di paksakan masuk.
"Rama, ini ..." Naina bingung, benarkah begini rasanya? Tapi ia tidak merasakan sakit ketika Mario melakukannya.
Setelah sekian kali percobaan, Rama berhasil membobol pertahanan Naina. Miliknya terasa terkoyak, sakit, perih, namun nikmat terasa menjadi satu.
"Rama, sakiiit...!!" Naina mencengkram kuat punggung suaminya. Saking teramat sakit, Naina sampai meneteskan air mata dan menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Senyum lega, dan puas Rama rasakan kalau tebakannya tidaklah salah. Naina masih murni, ia bisa merasakan ada sesuatu yang robek di bawah sana. "Sakitnya membuktikan kalau kamu masih terjaga,.aku yang pertama."
Mendengar perkataan Rama, Naina merasa terharu sekaligus lega kalau kehormatannya masih terjaga utuh. Air mata bahagia menetes begitu saja saking ia senang kalau ucapan Mario tidaklah benar.
Tapi Rama kembali mencium bibirnya hingga perlahan Naina mulai teralihkan lagi dan mulai rileks serta menikmatinya. Suara laknat pun terus berbunyi ketika Rama menaikan tempo iramanya yang anehnya Naina semakin ingin berteriak ahh.
Nafas mereka memburu dan Rama tersenyum senang. Dia mencium kening Naina lalu membawanya ke pelukannya sambil mengucapkan kata cinta dan terima kasih. Aku terharu, aku bahagia bisa memberikan haknya pada suaminya.
"Terima kasih sayang, aku mencintaimu. Dan terima kasih kamu sudah menjaganya untukku. Pembuktian yang tidak sia-sia. Hanya inilah caranya agar kamu percaya slalu kamu baik-baik saja." Naina memeluk Rama dan Kemabli terisak.
"Maafkan aku."
"Tidak masalah, aku yakin Mario tidak akan menyakitimu karena dia mencintaimu. Sebejad-bejadnya bajingann tidak akan melukai wanita yang ia cintai."
"Aku tidak peduli itu, aku hanya senang kalau suamiku yang mengambil segala kehormatanku."
__ADS_1
Rama tersenyum, tak berselang lama, Rama kembali memberikan rangsangan pada Naina. "Pembuktian pembawa kenikmatan," ucap Rama terkekeh oleh kelakuannya sendiri yang berhasil membuatmya melayang tinggi.
Naina yang awalnya lemas kembali terangsang dan Kedua pengantin baru ini seolah tak kenal lelah untuk melakukanya sampai beberapa kali dan tertidur saat sudah menjelang siang.