Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 85 - Meminta Bantuan


__ADS_3

"Sudah selesai marahnya? Apa perlu kita kesana lagi?" Rama melepaskan pelukannya dan ia tanpa malu menghapus air mata Naina di depan umum.


"Tidak mau, aku tidak rela kamu di peluk-peluk dia." Naina masih kesal atas kejadian tadi. Dia menyangka Rama memiliki keluarga baru, tapi ternyata itu hanyalah kesalahpahaman saja, dan ia baru sadar kalau ternyata dirinya memang dilanda cemburu. Kadang dia bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah dia sudah mulai menyukai Rama? Kadang ada rasa takut untuk kehilangan dia, kadang pula ada rasa tidak suka ketika melihat Rama dekat dengan wanita lain meski itu saudaranya sendiri. Namun ia tahu betul perasaannya itu seperti apa.


Rama tersenyum melipatkan kedua tangannya di dada. Matanya menatap lekat wajah cemburu dari Naina. Ia menikmati keindahan nyata di hadapannya dan tentunya geli sendiri saat tahu istrinya cemburu.


"Apaan sih lihat-lihat? Ada yang aneh dengan wajah aku?" Naina. Mendengus kesal sambil mukanya ia usap dengan tangan.


"Tidak ada yang aneh, hanya saja aku baru tahu kalau wajah cemburu seorang Naina itu begitu menggemaskan. Berarti aku sudah ada di hati kamu dong?"


"Aku tidak cemburu, ya." Naina memalingkan wajahnya menghindari tatapan Rama yang terus menatapnya.


"Yakin tidak cemburu? Buktinya kamu pergi gitu saja dan nangis segala, apa namanya kalau bukan cemburu?"


"Iihhh, aku tidak cemburu! Aku hanya kesal dan marah saja kamu punya keluarga lain. Padahal aku sudah menyerahkan segalanya untukmu." Naina memukuli dada Rama saking kesalnya pada pria itu.


"Hahaha, marah tanda sayang. Sekarang aku tahu isi hati kamu yang ternyata mulai menyukaiku." Rama menggenggam kedua tangan Naina dan menatap lekatnya.


"Aku tahu, jadi aku tidak akan mungkin menyia-nyiakan kamu. Kan aku yang pertama." Rama mengerlingkan matanya menggoda Naina.


"Apaan sih, gak jelas banget." Naina menunduk malu, lalu Rama membawanya pada pelukannya.


"Aku sayang kamu sekarang, nanti, dan selamanya. Tetaplah bersama ku meski banyak rintangan yang menghadang."


Naina tidak menjawab ataupun membalas ucapan Rama, dia hanya tersenyum tapi tangan memeluk tubuh Rama.


"Suami berondongku selalu saja berkata manis."


"Semanis cintaku padamu."


"Gila dong, manis."


"Biarin dan aku yang akan menjadi semutnya untuk mengerumuni kamu."


"Gombal."


Di saat keduanya menikmati hangatnya sebuah pelukan, ponsel Rama berdering mengganggu keduanya.


"Ada yang nelpon, tunggu sebentar." Rama mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat Siapa yang sedang menghubunginya.


"Gilang, tumben dia meneleponku? Ada apa ya?" Meskipun bertanya-tanya, Rama tetap mengangkat panggilannya.


( "Hallo, iya, ada apa lo hubungi gue? Tumben banget?" )

__ADS_1


( "Apa lo sedang sibuk? Gue mau bicara sama lo, bisa kita ketemuan di tempat tongkrongan gue?" )


( "Tumben? Tidak biasanya lo ngajak gue ketemuan gini?" )


( "Jangan banyak bertanya dulu, Rama. Lo sedang sibuk atau tidak? Gue butuh bantuan lo." )


( "Tidak sih, baiklah gue akan menemui lo. Kirim saja alamatnya dimana, gue kesana sekarang juga!" )


( "Ok, gue share Lok sekarang juga." )


Dan mereka berdua mengakhiri sambungan teleponnya.


"Itu kakak kamu?"


"Iya, dia mau ketemuan. Apa kamu mau ikut juga?"


"Kalau kamu mau sih, aku tidak maksa."


Rama tersenyum. "Tentu tidak akan keberatan. Ayo." Rama menggenggam tangan Naina.


"Terus di sini bagaimana?"


"Ada Deni dan Rian yang akan mengurusnya."


"Ya sudah."


Tempat Berbeda.


Saya mendapatkan kabar dari Rama kalau dia akan datang, Gilang sudah berada di tempat yang di kirimkan pada Rama. Dia menunggu kedatangan Rama di salah satu cafe tempat tongkrongannya.


"Semoga Rama mau bantu gue. Hanya dia satu-satunya orang yang saat ini gue harapkan." Gilang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Rama.


Dan tidak lama kemudian, sosok yang ia tunggu kelihatan batang hidungnya tengah berjalan bareng dengan Naina.


"Bawa istrinya lagi? Apa gue tidak akan malu? Ah bodo amat, kita lihat saja nanti."


"Bang, ngapain lo ngajak gue ketemuan?" Rama bertanya ketika sudah sampai di meja yang ada Gilangnya.


"Duduk dulu lah, masa bicara sambil berdiri. Kita makan-makan dulu." Gilang sempat melirik Naina, namun wanita itu terlihat cuek.


Rama menarik kursi dan mempersilahkan Naina duduk. "Silahkan!"


Naina tersenyum. "Makasih, perhatian banget berondong ku ini."

__ADS_1


"Ck, tidak usah panggil berondong. Rama saja biar tidak kaku. Geli tahu." Rama tidak menyukai panggilan dari Naina. Baginya tidak masalah kalau Naina menyebut namanya.


"Ada, Bang?" setelah duduk, barulah Rama bertanya lagi.


Gilang nampak gugup, ia bingung akan bicara apa. Namun karena keinginannya, Gilang akan memberanikan diri.


"Gue sudah tidak bekerja di kantor lagi dan gue juga mau mandiri, tapi gue butuh bantuan lo."


"Terus apa mau lo? Bukannya Papa paling ingin lo kerja kantoran dan sangat senang dengan jabatan ini?"


"Gue mau mandiri tanpa harus kerja di kantor orang lagi. Gue ingin banget berdiri di atas kaki sendiri dan gue mau buktikan pada papa kalau gue bisa berhasil dengan usaha gue. Gue butuh uang, kalau lo punya, gue mau minjam buat modal." Gilang tidak lagi basa-basi, ia langsung bicara pada intinya saja.


"Sebenarnya gue malu minjam sama lo, tapi sama siapa lagi? Semua teman gue tidak ada yang memberikan pinjaman. Sedangkan gue sudah bicara tegas sama papa kalau gue tidak akan kembali ke rumah sampai berhasil menjadi seseorang."


"Emangnya lo mau kerja apa sampai minjam uang sama gue? Emangnya lo tidak berpikir kalau gue ini tidak punya uang?" Rama cukup terkejut atas pengakuan Gilang, ia tahu seberapa nurutnya Gilang pada papanya. Namun kali ini Gilang menunjukan pemberontakan sikap dan ini sangat berbeda sekali dari Gilang yang biasanya.


"Gue mau buka usaha martabak, makanan kesukaannya mama dan kenapa gue berpikir lo bisa bantu karena gue merasa lo punya duit dari hasil balap lo kemarin."


Rama menghela nafas. "Martabak mama, jadi kangen sama mama," lirihnya tertunduk sedih.


"Rama, apa lo mau bantu gue?" Gilang berharap banget adiknya ini mau membantu. Dia berjanji pada dirinya sendiri, jika Rama mau membantu maka dia akan berjuang keras untuk mengembangkan usahanya itu untuk mengembalikan modal yang ia pinjam.


"Sebenarnya sih agak ragu, tapi gue akan kasih lo kesempatan. Jadi gue akan bantu lo." Jika ada orang yang ingin berusaha, kenapa dia tidak bisa membantunya? Inilah Rama.


"Lo seriusan mau minjamin gue modal?" Gilang tidak percaya kalau adiknya lah yang akan membantu dia.


"Gue seriusanlah, Bang. Emangnya berapa uang yang lo butuhkan?"


"Ini cukup banyak, Rama. Tapi apa lo yakin?" Gilang masih ragu adiknya memiliki uang sebanyak itu. Namun ia juga membutuhkannya.


"Gue yakin, Makanya berapa uang yang lo butuhkan?"


"Banyak, dua puluh juta."


"Ok! Gue transfer ke no rekening lo sekarang juga."


"Apa! Lo seriusan?"


"Yaelah, Bang. Kapan gue tidak serius? Lo itu Abang gue, lo mau usaha kan?" Gilang mengangguk.


"Makanya gue bantu lo dengan catatan lo harus buktikan keseriusan lo dalam mengembangkan usahanya. Karena gue juga rindu martabak buatan Mama."


Gilang terharu, dia bangun dari duduknya dan tiba-tiba memeluk Rama. "Makasih, Ram. Makasih banget, gue janji sama lo akan bekerja dengan benar. Dan maafkan gue jika pernah membuat lo kesal."

__ADS_1


Rama membalas pelukan Gilang. "Tidak masalah, karena semua orang punya salah dan dosa. Namun gue minta jangan ulangi lagi kesalahan lo dan dosa lo."


Karena sesungguhnya setiap manusia berhak memiliki kesempatan kedua, ketiga, ke empat sampai manusia itu benar-benar bertaubat.


__ADS_2