
Ruangan kepala sekolah.
Dua orang manusia berlawan jenis tengah berdiri di hadapan kepala sekolah. Keduanya sama-sama diam ingin lagu apa yang akan kepala sekolah lakukan kepada mereka.
Rama terlihat tenang meskipun ia harus dikeluarkan dari sekolah, tapi berbeda dengan Naina yang sedang gugup dan juga tengah ketakutan. Entah apa yang Naina takuti, padahal di sampingnya ada Rama, sang suami.
"Kalian berdua tahu apa yang sudah kalian lakukan? Sungguh memalukan. Kamu Bu Naina, kamu itu seorang guru yang seharusnya memberikan contoh baik untuk muridnya tapi malah memberikan contoh hal yang tidak seharusnya mereka ketahui. Kamu Rama, sudah beberapa kali kamu selalu berbuat ulah di sekolah dan sekarang kamu malah melakukan hal memalukan begini. Apa kalian berdua sadar kalau perbuatan kalian itu tidaklah terpuji. Kami pihak sekolah malu memiliki murid dan guru seperti kalian berdua. Guru yang seharusnya membimbing mengayomi dan memberikan contoh baik untuk murid-muridnya, justru malah melakukan hal tak terpuji dengan muridnya. Di tambah Foster yang ada di lapangan membuat sekolah kita semakin tercoreng oleh kelakuan kamu, Bu Naina."
"Pak, Jangan pernah sekalipun Bapak menyalahkan Bu Naina. Dia tidak salah apapun dan tidak pernah memiliki niatan untuk mencoreng sekolah ini. Dan asal bapak tahu, Foster itu sebuah editan yang dilakukan oleh orang lain untuk menjatuhkan Bu Naina. Kalau Bapak mau marah, marah sama saya jangan memarahi istri saya." Rama tidak terima Naina terus disalahkan dan di sentak-sentak oleh Kepala Sekolah.
"Kalau Bu Naina tidak salah kenapa itu beredar luas? Apa ini hanya untuk menaikan popularitas dia di sekolah ini? Apa ini Salah satu cara dia agar dia terkenal di sekolah? Saya sudah memberikan Dia kesempatan mengajar di sini, tapi apa yang dia lakukan? Mencoreng nama baik sekolah ini dengan skandal yang Bu Naina miliki, jadi dengan ini saya mengeluarkan Bu Naina dari sekolah ini dan dilarang mengajar di tempat manapun! Saya akan pastikan tidak akan ada yang mau menerima guru sepertinya."
Naina tertegun, ia tidak menyangka kau dirinya dikeluarkan dan dipecat dari kerjaan yang baru saja ia lakoni selama dua bulan ini.
"Pak, saya mohon jangan pecat saya. Ini pekerjaan yang saya inginkan. Itu bukan saya." Naina belum siap harus kehilangan pekerjaannya. Pekerjaan yang selalu ia impikan dari kecil menjadi salah satu guru untuk mengamalkan ilmu yang ia dapatkan semasa kuliahnya dulu."
"Bagaimana saya bisa mempertahankan seorang guru yang terlibat skandal murahan seperti itu."
__ADS_1
"Cukup Bapak kepala sekolah terhormat! Jangan lagi Anda mengatakan yang tidak tidak mengenai istri saya! Kalau Bapak mau memecat dia silakan karena saya Masih sanggup membiayai dia sampai 7 keturunan." Rama menunjuk wajah kepala sekolah tanpa peduli kalau dirinya sudah di cap sebagai anak kurang ajar dan Bandel. Rama juga tidak peduli dia di keluarkan dari sekolah.
"Kamu itu siapa? beraninya berkata kasar kepada saya, apakah keluargamu tidak mengajarkan sopan santun? Sudah sering kali kamu berbuat ulah, maka kali ini saya tidak akan memberikan keringanan lagi. Surat pengeluaran akan segera saya kirimkan kepada orang tuamu!"
"Silahkan, saya tidak peduli!" Rama menggenggam tangan Naina. "Bagi saya kehormatan seorang Istri jauh lebih penting daripada apa yang saya miliki. Jika sekolah ini tidak bisa memberikan toleransi bagi mereka yang terlihat berbuat ulah, maka saya tidak akan mengizinkan istri saya mengajar. Dan ingat satu hal, saya pastikan Anda di turunkan dari jabatan karena sudah berbuat seenaknya tanpa mencari tahu dulu kejadian yang sebenarnya. Dan jangan sekalipun Bapak menyangkut pautkan orang tua saya dalam tingkah laku yang saya lakukan. Mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk putra-putrinya tetapi di sini saya yang bandel karena tidak menuruti setiap perintah orang tua saya."
"Beraninya kamu ..."
"Saya tidak akan diam melihat orang-orang penyakit istri saya. Naina, lebih baik kita pergi dari sini." Rama menarik tangan Naina membawanya keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Rama, terus bagaimana dengan kamu? Kamu dikeluarkan dari sekolah gara-gara membelaku dan juga gara-gara pengakuan kamu." Naina sedih atas peristiwa yang menimpa suami berondongnya.
Naina terdiam, ia memandang pria yang terus membawanya keluar dari area sekolah. Ia tidak pernah menyangka kalau Rama mengorbankan sekolahnya hanya untuk dirinya.
Pasang mata para siswa-siswi terus memperhatikan Rama dan juga Naina. Mereka masih tidak percaya kalau keduanya itu sudah menikah dan pernikahannya disembunyikan dari semua orang.
"Rama, lo harus tahu ini." Deni berlari tergesa menghampiri Rama. Pun tidak ketinggalan dengan Rian yang juga selalu ada di samping Deni dan Rama.
__ADS_1
"Ada apa?" Rama berhenti dulu, dia melihat ponsel yang dan ditunjukkan kepadanya.
"Mario terbebas dari penjara atas jaminan keluarganya dan juga diberikan keringanan karena perilaku baik dia selama di penjara. Kalau menurut analisa gue, semua yang terjadi kepada bu Naina ada sangkut pautnya dengan mantan tunangannya dan adiknya."
"Kita juga mendapatkan informasi kalau Mario dan Alina saling bertemu di cafe. Ini foto mereka berdua," kata Rian yang juga menunjukkan bukti dari orang-orang yang selalu memantau mereka berdua tanpa sepengetahuan yang lainnya.
"Brengsek, sekarang gue bertambah yakin kalau semua ini memang rencana seseorang."
"Alina, aku tidak percaya kalau Alina bakalan melakukan ini. Dia terlalu mencintaimu, Rama. Dia begitu sangat mencintaimu sampai dia melakukan hal segila ini. Aku semakin merasa bersalah karena sudah merebut kamu darinya, seharusnya aku tidak menerima kamu, seharusnya aku sadar kalau kamu itu bukan untukku. Tapi aku malah terbuai dengan segala sesuatu yang kita alami. Aku telah menyakitinya, Rama. Aku menyakiti adikku sendiri." Naina malah menyalahkan dirinya sendiri atas kondisi yang Alina alami. Dia pun merasa bersalah karena telah merusak hubungan Alina dan Rama.
"Apa yang kamu katakan? Tidak ada yang merebut siapapun, semua ini sudah garis takdir dari Tuhan. Bukan salah kamu, Nai. Masalah Alina berbuat seperti itu karena mungkin dia telah khilaf dan sedang dalam kondisi mudah di hasut orang, tapi bukan berarti itu salah kamu." Rama Todak habis pikir dengan pikirannya Naina. Sebegitu tulusnya hatinya sampai menyalahkan diri sendiri atas apa yang Alina lakukan?
"Tidak, ini salahku." Lirih Naina berderai air mata. Ia melepaskan genggaman tangan Rama. "Hubungan kita menyakiti banyak orang, lebih baik kita tidak bersama daripada banyak yang tersakiti."
"Naina! Kamu bicara apa?"
Namun Naina malah berlari dari sana.
__ADS_1
"Nai ... Naina!" pekik Rama.
"Brengsek, Alina. Lo harus tanggungjawab." Rama mengepalkan tangannya.