Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 15


__ADS_3

Sebelum menjajal kemampuannya dalam balapan, Rama kembali pulang dulu menyiapkan segalanya. Tapi sebelum pulang ia menghubungi no Naina dulu. Pas banget baru buka Naina mengirimkan pesan.


( "Iya, nanti kamu kirim alamatnya dimana." )


( "Gue tunggu lo di cafe Rindu, Kak. Buruan!" )


( "Baiklah, aku akan datang." )


*****


Kediaman Devano.


"Rama sudah mengirimkan alamat cafenya, aku harus segera ke sana." Naina mengambil tas selempangnya, lalu beranjak pergi.


"Kak kami mau kemana?" ternyata ada Alina yang baru masuk rumah dan berpas-pasan dengan Naina.


"Aku ada urusan dulu di luar, mau bertemu teman kuliahku." Terpaksa Naina berbohong lagi.


"Oh ya sudah hati-hati. Kata Papa jangan pulang malam-malam."


"Iya, Kakak tahu kok. Kakak pergi dulu, nanti kalau mama ataupun papa tanya bilang aja menyelesaikan tugas sekolah. Kakak tidak akan lama kok, hanya sebentar saja."


"Iya Kak."


Lalu Naina melanjutkan langkahnya menuju motor matic. Naina paling enak mengenakan motor daripada mobil, menurutnya motor bisa menyalip jika jalanan macet, dan juga motor bisa masuk ke gang-gang di saat jalanan tidak bisa lagi di lewati.

__ADS_1


******


Rama sudah menunggu kedatangan Naina, tapi gadis remaja beda usia lima tahun dengannya itu belum juga datang. Namun Rama tetap menunggu sambil mengerjakan tugas dia.


Naina sudah sampai, ia celingukan mencari keberadaan Rama. Pas sudah menemukannya, Naina sedikit berlari dan langsung duduk di hadapan Rama.


"Maaf membuat mu menunggu."


Rama mendongak, dia menegakkan duduknya kemudian melipat Kedua tangannya di dada. "Ada apa memintaku ketemuan? Gue banyak kerjaan Kak."


Naina bingung harus memulainya dari mana, tapi ia tidak bisa begini terus. Mau tidak mau Naina harus berkata, "Rama, bisakah lo menceraikan gue saat ini juga?"


Rama mengerutkan keningnya. "Menceraikanmu? Kenapa?"


Rama menghelakan nafas berat, ia meletakkan kedua tangannya ke atas meja dengan jari saling bertautan. "Tapi bercerai bukan jalan yang terbaik. Kenapa? Karena pernikahan bukanlah suatu permainan. Gue tahu lo punya pasangan Kak, gue juga tahu kalau Alina pasti nantinya bakalan tersakiti, tapi gue tidak bisa mempermainkan pernikahan ini. Saat ini gue tengah berusaha mencari waktu yang pas untuk memutuskan hubungan dengan Alina."


"Apa?" Naina tercengang, ia tidak habis pikir dengan keputusan Rama yang bisa saja membuat Alina tersakiti. "Itu bukan cara yang baik, gue tidak akan biarkan lo menyakiti Alina, tidak akan!"


"Tapi prinsip gue menikah sekali seumur hidup, ini juga janji gue pada mendiang mama dan juga janji gue pada Tuhan. Gue tidak mungkin menjalin kasih di saat kesan sudah berubah menjadi seorang suami. Gue tahu ini berat bagi lo Kak, tapi ini adalah keinginan dan prinsip yang gue pegang dari kecil. Setiap perbuatan yang gue lakukan harus di pertanggungjawaban dan do hadapi termasuk menghadapi orang-orang sekitar."


"Rama, mendingan lo ceraikan gue saja. Gue ini lebih tua lima tahun dari Lo, Lo tidak malu punya istri tua?"


"Enggak, karena jodoh tidak memandang usia. Sekalipun tidak ada cinta diantara kita, tapi gue tidak akan menceraikanmu!"


"Kau egois Rama, lo tidak memikirkan perasaan adik gue dan sekitarnya." Naina tidak bisa membujuk Rama melepaskannya.

__ADS_1


"Lo pikir gue tega melakukan ini? Sama, tapi gue tidak busa berbuat apa-apa selain menjalani semuanya. Kasih waktu untuk kita menjalankan pernikahan rahasia ini." Rama selalu serius dalam berkata. "Gue minta sama lo untuk tetap sembunyikan hubungan kita sampai Tuhan sendiri yang menunjukan jalan terbaik untuk kita. Namun satu hal yang harus lo tahu, gue akan memutuskan hubungan gue dengan Alina karena itu prinsip dalam hidup gue." Lalu Rama berdiri beranjak pergi meninggalkan Naina dengan segala kemelut pikiran yang ada.


"Akhh sulit sekali membujuk anak itu. Alina, Mario, maafkan aku." Naina menunduk sedih atas apa yang menimpanya.


*****


Rama pulang ke rumahnya, ia ingin mempersiapkan diri untuk latihan malam nanti. Meskipun ia malas pulang karena akan bertemu lagi dengan ayahnya dan pastinya berakhir diomeli, Rama terpaksa kembali ke rumahnya.


Motor gede warna merah kesayangannya sudah terparkir di depan rumah. Rama pun melangkah masuk menyiapkan diri dari pertanyaan yang ayahnya lontarkan.


Dan benar saja, saat dirinya sudah masuk kedalam rumah, ayahnya mulai bersuara.


"Darimana saja kamu? Sudah kenyang main di luar? Keluyuran tidak jelas dan malah baru pulang petang hari." Suara bariton ayahnya terdengar marah dan penuh intimidasi.


Sebenarnya Rama malas harus menghadapi ayahnya. Rama takut jika dirinya akan kembali melawan ayahnya. Rama pun tidak menjawab pertanyaan Restu karena ia menghindari adu mulut.


"Papa tanya kamu dari mana, Rama? Bisakah kamu nurut apa kata papa? Di tanya malah tidak menjawab, tidak memiliki sopan santun." Restu makin meninggikan suaranya saking kesal kepada Rama yang selalu mengabaikan perkataan dia.


"Aku harus menjawab apa jika semua jawaban ku tidak sesuai dengan keinginan Papa? Dan kenapa tumben-tumbenan Papa banyak pertanyaan? Biasanya juga tidak pernah sedikitpun menanyakan ku." Langkahnya terhenti saat hendak menaiki tangga. Namun, setelah mengatakan itu Rama kembali melangkah.


"Sudahlah, Pah. Biarkan anak itu bermain sesuka hatinya. Di bilangin juga masih bandel, Rama sulit di kasih tahu." Sahut Gilang yang hendak turun tangga. Mata dia dan mata Rama saling pandang, Rama menatap dingin dan terus berjalan ke kamarnya.


"Saking susah di bilangin sampai keluyuran terus bisanya. Eh, Gilang, sini, Nak. Papa mau memberikan sesuatu untukmu." Nada bicara ayahnya Rama menjadi halus saat bersama Gilang. Hal itu juga sempat di dengar oleh Rama namun ia acuh.


"Ada apa, Pah." Gilang duduk di hadapan ayahnya dan menunggu apa yang akan di berikan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2