
"Jalunya pergi, Ram?"
"Iya, dia kabur entah kemana. Ayo kita cari!" Rama berjalan menyusuri setiap tempat yang ada di sana dengan harapan bisa menemukan si Jalu.
"Emangnya si Jalu itu apa sih?" Naina yang mengikuti Rama dari belakang belum tahu tentang Si Jalu. Makanya selalu bertanya siapa itu Jalu.
"Dia kerbau jantan milik Aki, namanya Jalu. Kalau tidak ketemu Aki sama emakku bisa ngamuk ini. Aku itu di suruh memandikan dia, tapi si Jalunya malah kagak mau mandi. Dia pemalas, mager terus."
"Ya sudah kita cari."
"Jalu ... oh Jalu, dimana lo berada Jalu, gue nyariin lo." Rama berteriak memanggil kerbaunya. Ladang sawah terus di lewati demi bisa menemukannya.
"Jalu, yuhuuu ... datanglah kemari!" Naina juga ikutan mencarinya sambil berteriak memanggil namanya.
Galengan sawah yang hanya bisa di lewati oleh satu orang saja membuat Naina hati-hati berjalan. Sudah beberapa kali Naina sering terpeleset.
"Apa mungkin si Jalu di curi orang, Ram?"
"Tidak akan, paling juga nyari cewek. Diakan Jalu yang kesepian gak ada pasangan."
"Emangnya bisa?"
"Bisalah, manusia aja suka kesepian dan suka cari pasangan, pasti si Jalu juga sama." Rama bicara seperti itu karena ia melihat si Jalu sedang bersama kerbau lainnya di ladang orang. Lalu Rama berjalan menuju si Jalu.
"Kamu ini aneh-aneh saja, masa kerbau bisa cari cewek sendiri. Aneh tahu."
"Bisa, tuh buktinya. Si Jalu ada di sana bareng kerbau betina." Rama menunjuknya.
"Itu?" Naina tidak percaya itu adalah Jalu yang mereka cari. Memang ada dua kerbau di sana, tapi Naina tidak tahu kalau salah satu dari dua kerbau itu milik Akinya Rama.
"Iya." Rama pun menghampiri pemiliknya yang sedang mencangkul tanah di sawah.
"Permisi Kang," ucap Rama menyapa orang itu.
"Iya, eh Nak Rama. Pasti mau mengambil si Jalu." Orang itu tersenyum ramah memberhentikan dulu kegiatannya.
"Iya Kang, dari tadi Rama nyariin di Jalu. Eh malah nongkrong di sini bareng cewek." Rama terkekeh. Naina memperhatikan interaksi dua pria beda usia itu. Ia cukup kagum pada Rama yang suka berbaur dengan para tetangga, tidak seperti dirinya yang tidak mengenal orang di sekitar Villa.
"Hahaha kamu bisa aja. Tadi Akang tidak sengaja lihat Jalu sendiri, di cari pemiliknya tidak ketemu. Eh Jalu malah mendekat ke kerbau Akang. Ya jadinya Akang biarkan saja."
"Aduh jadi merepotkan Akang ini mah. Jalu kayaknya kesal di cuekin saya, jadinya kabur deh." Rama sempat melirik ke Naina. Naina mengernyit.
__ADS_1
"Hahaha bisa aja. Oh iya, itu siapa cantik bener? Sepertinya Akang baru lihat dia." Karena tidak semua orang mengenal Naina.
"Aku te ..."
"Dia pacar saya, Kang. Inilah penyebab Jalu kabur. Hehehe mungkin iri, Kang." Naina melototkan matanya, ia mencubit lengan Rama. Rama hanya menoleh sambil tersenyum saja.
"Hahahaha, pantas saja di Jalu kabur, dia jomblo, jadinya kesal."
"Kalau begitu boleh Rama ambil si Jalu, Kang? Aku menyuruhku memandikannya."
"Tentu saja boleh atuh, itu kan milik Kang Soleh."
"Terima kasih, Kang. Jalu, Mari kita mandi." Rama mendekati Kerbaunya kemudian mengambil tali yang menggantung.
"Moo."
"Cakep, lo harus mau, ada cewek yang akan mandiin lo." Rama berbisik ke telinga si Jalu.
"Mooo."
"Dasar rada-rada, masa kerbau di ajak bicara. Aneh banget pria yang satu ini, tapi dia cukup pengertian sih sama kerbaunya. Pasti akan perhatian juga sama orang," batin Naina.
*****
"Iya, dari tadi Naina tidak ada di sini. Bukannya dia ikut kamu, Van?" tanya Mama Erna jadi ikut khawatir.
"Tadinya iya, tapi di jalan kami bertemu Mario yang sedang selingkuh. Naina marah, dia memutuskan hubungannya dan pergi entah ke mana. Saat ini hati Naina sedang hancur, Mah. Putriku sedang patah hati." Devan gelisah tidak menentu, sebelum Naina ketemu dia tidak akan tenang.
"Kak Naina putus?" Devan mengangguk.
Alina menghela nafas. "Sama kayak aku, Rama juga mutusin aku," lirih Alina berwajah sedih.
"Kok bisa? Bukannya kamu dan Rama baik-baik saja?" tanya Kania yang baru tahu Alina dan Rama sudah putus.
"Aku juga tidak tahu, Mah. Rama tidak memberitahukan alasannya apa."
"Rama dan Alina masih pacaran, jadi masih bisa putus, tapi Naina dan Mario sudah mau lamaran. Mungkin itu yang menyebabkan Naina kecewa berat. Kalian tahu kan bagaimana antusiasnya Naina menyambut hari itu? Tapi sekarang malah begini," kata Devan.
"Aku juga sedang bersedih, Pah."
"Papa tahu sayang, kalian berdua sedang bersedih. Saat ini kita harus cari kakak kamu, papa takut Naina nyasar."
__ADS_1
"Kamu benar, sekarang kita cari Naina." Mamam Erna juga ingin mencari cucunya.
"Ngapain harus di cari sih? Kak Naina tuh udah besar, udah tahu jalan pulang, paling juga sedang menenangkan diri dulu. Jangan di cari deh, bukan anak kecil tahu." Alina sedikit kesal semua orang memperdulikan Naina.
"Alina, kok kamu bicaranya seperti itu? Dia itu kakak kamu, wajar kita semua mengkhawatirkan dia. Kalau ini terjadi sama kamu pastinya kita juga akan khawatir," kata Kania tidak menyangka memiliki sifat seperti itu. Ada hal yang Kania takutkan atas sikap Alina yang berbeda dari kakaknya.
"Udah sih, jangan bandingkan aku dan kak Naina! Aku juga sedang sedih dan aku tidak mau ikut mencari kakak, malas." Alina beranjak dari sana meninggalkan ketiga orang yang ada di sana.
"Alina ..."
"Jangan di kejar, biarkan Alina sendiri dulu. Mungkin dia sedang bersedih habis putus dari Rama. Biarkan Alina tenang dulu dan jangan dulu di ganggu," kata Devan melarang istrinya.
"Tapi ..."
"Alina masih belum ikhlas menerima di putuskan Rama. Jadinya seperti itu," sahut Mama Erna.
"Gini saja, Mama tunggu disini menemani Alina, aku dan Kania mau mencari Naina dulu," kata Devan.
"Apa sebaiknya biarkan saja dulu, pasti Naina akan pulang. Kita hubungi dulu Nainanya dan tanya dimana dia sekarang." Kania mengusulkan.
"Coba kamu hubungi Naina, aku lupa tidak menelponnya," kata Devan belum kepikiran ke arah sana.
*****
Naina sendiri sedang memperhatikan Rama yang tengah memandikan si Jalu di sungai yang banyak batunya. Ponselnya berdering.
"Mama." Naina pun mengangkatnya.
( "Hallo, Mah." )
( "Ya Allah, Nai. Kamu dimana? Kami mencarimu, kami khawatir sama kamu." )
( "Nai baik-baik saja, Mah. Kalian tidak usah khawatir. Naina pasti pulang kok, hanya saja Nai sedang menikmati keindahan sawah di sekitar sini." )
( "Alhamdulillah, syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Jangan lupa pulang ya, jangan terlalu malam pulangnya." )
( "Iya, Mah. Siap." )
Dan Naina pun selesai bicara dengan orangtuanya.
"Naina, akhirnya aku menemukan mu."
__ADS_1
Naina mendongak, "Mario!"