
Bel istirahat berbunyi. Para murid sudah pada keluar meninggalkan kelas mereka masing-masing. Sedangkan Rama dan kawan-kawan masih berada di dalam kelas. Pun dengan Naina yang masih ada di dalam kelas tengah membereskan buku-bukunya. Berbeda dengan Alina yang sudah lebih dulu ke kantin dengan rasa kesal yang luar biasa karena sepanjang perjalanan, Rama terus menggoda kakaknya.
Deni dan Rian mendekati Ram. Deni duduk di atas meja yang Rama tempati, Rian duduk di kursi yang ia ambil dari sebelahnya Rama.
"Hei! Cerita dong," ujar Deni pada Gala.
"Cerita apaan?" Rama pura-pura tidak tahu padahal dia sudah tahu maksud dari perkataan Deni kemana arahnya.
"Cerita mengenai lo dan Bu Naina yang tiba-tiba gombalin dia," timpal Rian yang juga penasaran bagaimana ceritanya. Namun matanya menatap depan.
Naina seketika langsung menoleh pada Rama karena tidak ada murid selain Rama dan kawan-kawan. Rama tersenyum sambil menatap Naina yang ada di depannya.
"Bilang bilang apa pada mereka?" tanya Naina.
"Aku hanya bilang ..." Rama tersenyum seraya kedua tangannya berada di belakang kepala dan matanya menatap mata Naina dengan tatapan yang berbeda. Namun dalam hati berkata, "Kamu istriku."
"Ya Allah, kenapa senyum dia begitu tampan sih. Kok gue baru sadar jika Rama ini sangatlah tampan," batin Naina yang juga terus memandang mata Gala.
"Lah, mereka malah saling pandang," gerutu Rian.
Brak!
"Woi!" pekik Deni sambil menggebrak meja.
"Astaghfirullah! Lo apa-apaan sih pakai gebrak meja segala." Rama mendengus kesal.
"Lagian gue dan Rian bertanya, tapi kalian malah diam bae tidak menjawab. Lo itu seriusan punya hubungan dengan Bu Naina?" Deni kembali menanyakan hal itu yang sedari tadi membuatnya penasaran. Karena ia tahu Rama bukan cowok yang mudah suka sama cewek apalagi menikah.
"Tanpa gue jelaskan pun pasti kalian paham maksud gue. Kemarin juga sudah jelas kan, kalau gue minta dia nginap. Itu artinya ..." Rama hanya tersenyum.
"Jadi kalian udah?" ujar Deni menatap silih berganti guru dan Rama.
__ADS_1
"Gila, itu tandanya lo dan Bu Naina sudah married!" celetuk Rian menyimpulkan juga.
"Dan gue bilang pada diri sendiri, jika suatu hari nanti kita di satukan, itu artinya kita berjodoh. Nah, sekarang terbukti jika Naina jodoh gue."
"Dih, nih anak sangat aneh. Gue baru lihat seorang Rama suka sama cewek sampai gombal gini. Dasar ..."
"Rama, aku harap hanya teman-teman kamu yang tahu. Aku belum siap ..."
"Iya, aku tahu. Di tangan teman-teman ku semuanya aman." Dan datanglah suara seseorang.
"Rama, di kantin rame kalau kamu punya pacar baru dan katanya bilang punya istri. Aku tidak terima, ya. Kamu itu pacar ku dan tidak boleh pacaran dengan yang lain terutama nikah!" Mita, wanita itu kembali masuk kelas Rama dan ngoceh begitu saja.
Naina menatapnya, lalu menatap Rama. Ramaa mengangkat kedua bahunya seakan tidak tahu. Namun, Naina penasaran siapa wanita itu yang mengaku-ngaku kekasihnya Rama.
"Emangnya kamu pacarnya Rama?" tanya Naina membuat Mita menatap Naina.
"Jadi ini guru yang di bilang baru, tapi sudah berani dekati cowok gue? Hei, gue ingatkan sama ibu untuk jauh-jauh dari Rama!" Mita memberinya peringatan.
"Apa-apaan sih lo? Datang-datang buat ribut aja." Rama berdiri dan tangannya menarik tangan Naina. "Gue ingatkan lagi sama lo kalau gue bukan cowok lo, gue sudah punya istri sekaligus pacar. Ayo Bu kita aku antar ke ruangan ibu!" Rama membawa Naina dan Naina begitu.
"Ayolah, Mit. Sudah di tolak juga masih saja ngotot. Gak malu tuh?" ujar Deni lalu beranjak pergi.
Rian pun menatap Mita. "Mimpi lo ketinggian, Woi! Bangun! Ini udah siang!" ledek Rian terkekeh geli melihat wajah kesal Mita.
"Akhh sialan, kemarin Alina sekarang guru batu itu mengganggu gue dan Rama. Tidak bisa di biarkan ini." Sudah capek-capek membuat para wanita yang menyukai Rama menjauhi, tapi nyatanya usaha Mita gagal hanya karena guru. Sudah capek-capek menunggu Rama putus dari Alina, tapi malah dekat dengan orang lain.
*****
"Rama, aku tidak enak di lihat sama banyak orang. Aku risih tahu," ujar Naina mencoba melepaskan tangan Rama yang terus menggandengnya.
"Aku tidak akan lepasin tangan kamu biar semua orang tahu kalau aku punya pacar sekaligus istri. Itulah sebabnya aku tidak tertarik lagi sama yang haram jika ada yang halal yang bisa aku sentuh," bisik Rama membuat Naina diam.
__ADS_1
Deg.
"Yang bucin sama pasangannya sampai lupa pada kawan," celetuk Deni yang sedang berjalan di belakang Rama.
"Tahu nih, kelihatan banget Rama bucin ma guru kita. Ya, gue akui Bu Naina memang cantik sih. Kalau belum punya Rama gue juga mau tuh sama Bu Naina." tiba-tiba Rama menoleh melototkan matanya.
"Hehe, canda, hanya bercanda." Rian cengengesan dan Deni menoyor kepala Rian. "Makanya jangan buat bos kita marah Ongeb!"
"Hhhmm Rama, aku mau minta tolong sama kamu." Meski risih dengan tatapan murid lainnya, tapi Naina tidak bisa berbuat apa-apa sebab genggaman tangan Rama begitu kuat dan enggan di lepaskan.
"Minta tolong apa?"
"Tolong lepasin tangan kamu! Aku mau keliling sekolah dan ingin tahu letak-letak setiap tempat."
"Dan sekarang ada kita, Deni dan Rian yang akan bantu kamu sekaligus jadi teman kamu. Kalau begitu kita antar." Rama bersuara seraya merangkul pundak Rama. Pun dengan Rian yang juga merangkul pundak Deni.
"Betul itu, Bu Naina berarti bos kita, iya 'kan Rian?" ujar Deni diangguki oleh Rian. Rama memang bosnya mereka, sebab Rama pemilik perusahaan game yang mereka keluti bersama. Uang hasil dari balapan pun menjadi modal usaha dan Rama lah pemilik saham terbesarnya.
"Tentu saja dong," kata Rian.
"Rama, aku tidak enak dengan duru dan murid lainnya. Jangan terlalu dekat, ya. Apalagi tatapan para cewek, mereka begitu tidak suka dan terlihat sekali benci aku."
"Jangan hiraukan mereka. Mungkin mereka iri sama kamu yang bisa dekat dengan aku. Aku 'kan salah satu cowok terkeren di sini." Rama tersenyum bangga.
"Dih, pede boros."
"Hahaha, itulah kenyataan Naina sayang," ucap Rama seraya mengacak rambutnya Naina.
Deg.
Naina tersipu dengan jantung yang tiba-tiba berdebar kala Rama mengucap kata sayang. "Duh, jantung gue," batin Naina baru lihat kelakuan Rama yang seperti ini.
__ADS_1
"Bu guru, Rama, kalian berdua ini punya hubungan apa? Kenapa kalian terlihat begitu dekat? Tolong jawab pertanyaan aku!" Alina yang baru pulang dari kantin melihat Rama mengacak rambut kakaknya. Ia merasa ada hal yang tidak beres.
"Eh! Ini ..."