Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 22


__ADS_3

"Gue ingin bicara sama lo," kata Naina masih memakai kata lo gue pada Rama.


Deni dan Rian saling sikut dan juga saling pandang satu sama lainnya.


"Itu kan kakaknya Alina ya? Mau ngapain dia bicara sama Rama?" bisik Deni.


"Huss, jangan banyak bertanya. Biarkan mereka bicara, siapa tahu Kak Naina mau menanyakan tentang hobi yang digeluti Rama. Alina kan tidak tahu kalau Rama suka balap motor," jawab Rian berbisik pula.


"Kau benar, ya sudah kita mundur saja dulu."


"Hmm Ram, kita duluan ya, lo bicara dulu sama Kak Naina, siapa tahu penting," ucap Rian berpamitan pada Rama.


"Ok, thanks kalian sudah datang dan dukung gue di mari." Dan dua sahabat Rama pun pergi dari sana. Tinggal Rama dan Naina, ya meskipun banyak orang-orang tapi kebanyakan tidak mengenal.

__ADS_1


"Hmm kita duduk dulu saja, ayo." Rama menyuruh Naina duduk di bangku.


Ketika keduanya sudah duduk, Naina kembali bersuara. "Gue baru tahu kalau lo balapan gini? Gue pikir yang ikutan lomba bukan lo, eh ternyata lo. Terus apa Alina tahu tentang hobi yang saat ini lo tekuni?"


"Tidak, Alina tidak tahu sama sekali mengenai kegiatan gue ini, Kak. Dia tidak tahu apapun tentang hobi dan kegiatan yang gue lakukan. Dia tidak menyukai hal beginian, tapi kalau masalah gue yang suka di bandingkan mungkin ia tahu, tapi tetap saja tidak tahu betul siapa gue yang sebenarnya," jawab Rama dengan jujur.


"Lo bilang Alina tidak tahu apapun mengenai lo? Terus selama kalian pacaran hampir satu tahun ini ngapain aja? Bukannya kalian sudah tahu satu sama lainnya? Alina sendiri bilang jika dia tahu tentang lo semuanya, dan bikin gue heran adalah kenapa lo sampai balapan kayak gini? Ini bahaya untuk diri lo sendiri, terus tadi adegan bagian belakang motor ngangkat tinggi, itu bikin gue jantungan tahu," cerocos Naina tanpa ada jeda.


Rama tersenyum tipis, ia juga bingung kenapa pacarnya tidak tahu apapun mengenai dia. Dia juga bingung kenapa belum terbuka pada pada Alina tentang kehidupan dia yang sebenarnya.


"Ya lo benar, Alina itu paling tidak suka pria balapan motor. Jujur gue cukup tercengang saat tahu kalau lo yang main, ini di luar ekspektasi gue Rama. Selain ini apa lagi yang lo sembunyikan dari Alina?" Naina mulai penasaran pada sosok Rama.


Rama hanya tersenyum saja, lalu berdiri. "Udah malam, mendingan lo pulang Kak. Tidak baik cewek sendirian di pulang malam, kalau gitu gue antar lo pulang saja."

__ADS_1


"Eh tidak usah, gue bisa pulang sendiri kok." Naina beranjak berdiri, ia tidak mau merepotkan Rama yang habis balapan.


"Lo pulang sama siapa? Gue tidak lihat calon tunangan lo, teman-teman lo juga udah pada pulang kan? Biar gue aja yang antar lo pulang." Rama melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu tengah malam. Dia tidak mungkin membiarkan Naina pulang sendiri di saat dirinya bisa mengantarkan pulang.


"Tapi gue tidak mau Alina berpikir yang tidak-tidak tentang kita."


"Apa lo lupa kalau gue ini suami lo? Sekalipun kita beda lima tahun, tapi gue tetap suami lo yang wajib memastikan keselamatan istrinya sendiri." Rama pun menekankan kata Istri sekaligus mengingatkan Naina jika mereka adalah suami istri.


"Tapi Rama ..."


"Naina!" ujar Rama terdengar begitu tegas seakan tidak ingin di bantah. Naina merinding kala Rama menyebut namanya,ia merasa Rama sedang marah dan anehnya ia pun pasrah menganggukkan kepalanya.


"Dan satu lagi, putuskan hubungan lo sama Mario karena gue juga akan memutuskan hubungan gue sama Alina. Gue mau serius dalam pernikahan ini sekalipun kita belum saking cinta."

__ADS_1


"Rama," lirih Naina tidak bisa membantah pria itu. "Kenapa sulit sekali melawan ucapannya? Ada apa denganku?"


__ADS_2