Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 80 - Pujian dari Rama


__ADS_3

Naina yang tengah minum pun tersenyum.


Deni, Rian, dan Ubay menoleh ke belakang dan mereka baru menyadari kalau di sana ada Naina.


"Lo ngapain di sini, Nai? Baru tahu kalau ternyata ada lo di mari," kata Deni.


"Cihuyyy pucuk dicinta ulam pun tiba, ada Rama di sini bini pun ada. Aduh alah ieung, bakalan pacaran halal ini mah atuh," seru Rian menggoda Rama dan Naina.


"Apaan sih," seru Naina tersenyum malu.


"Aku baru tahu ternyata ada bidadari surgaku di kiosnya Mang Joko. Pasti dari tadi ya?" tamat Rama membenarkan duduknya menjadi menghadap Naina.


Pipi Naina terasa panas mendengar gombalan Rama yang bilang kalau dia bidadari surga. Ada hal yang menggelitik hatinya sehingga merasa tersentuh dan merasakan hal berbeda.


"Iya, kamu nya saja yang tidak menyadari keberadaan aku di sini." Naina a terlihat kesal dengan bibir manyun cemberut.


Rama tersenyum dan ia mengacak rambutnya Naina. "Aku gak tahu dan gak lihat ada kamu di sini. Kalaupun tahu sudah aku samperin dan duduk di sini."


"Ahayy deuh, ada yang kesal," celetuk Deni menggoda Naina. Rian dan Ubay terkikik geli. Rama mendelik memberikan sebuah tanda jangan di goda.


"Mata kamu rabun kayaknya, orang segede gini masih saja tidak kelihatan," kata Naina.


"Ya kan aku gak nengok ke belakang makanya tidak tahu ada kamu di sini. Eh, ngomong-ngomong kamu ngapain disini? belanja ya? Wih, istri idaman banget ini mah." Rama menatap Naina dengan tatapan yang berbeda. Rama tahu kalau Naina tidak pernah belanja selama menjadi istrinya, dan baru kali ini ia melihat Naina keluyuran di pasar. Naina menoleh dan mata mereka saling bertatapan.


"Aku sama nenek belanja di sini. Tadinya gak mau ikut, tapi karena bosan di rumah sendirian jadinya ikut saja kesini."


"Oh, gitu. Belajar jadi istri yang baik ya?" Rama tersenyum mengusap lembut pipi Naina.


Naina menunduk dengan kepala mengangguk. Ia ingin jadi istri yang baik, makanya ikutan belanja.


"Kalian saling kenal?" tanya Mang Joko.


"kenal mang, dia Naina calon istri Rama," kata Deni. Tapi yang saling saling lirik.

__ADS_1


"Oh pantas saja kalian pas bertemu langsung akrab begitu. Oawalah calon istrinya Rama ternyata, cocok atuh ini mah sama-sama cantik dan juga ganteng. Mamang setuju dan mamang doakan kalian terus bersama hingga maut memisahkan," doa mang Joko terhadap Rama dan Naina.


Naina menunduk, "aamiin yarobbal'alamiin," batinnya mengaminkan.


"Aamiin yarobbal'alamiin. Mudah-mudahan saja kita berjodoh dunia akhirat. Soalnya Rama cuman ingin punya istri satu untuk selamanya," kata Rama seraya menatap Naina.


Naina menunduk dan entah kenapa hatinya sangatlah senang jika hanya dia satu-satunya.


"Cieee, ukhuk ukhuk, gombalin terus biar diabetes sekalian," seru Ubay terkekeh sekaligus mendoakan yang terbaik untuk Bosnya itu.


Sayup-sayup terdengar suara adzan zuhur.


"Nah, sudah adzan tuh. Bubar-bubar! siap-siap ke masjid dan kita shalat berjamaah bersama," kata Rama kepada rekan-rekannya dan dia juga beranjak berdiri.


"Siap, Bos." Deni, Rian, dan Ubay pun beranjak berdiri.


"Mang kami duluan ya, semoga dagangannya laris manis dan berkah," kata Rian.


"Aamiin, jangan kapok mampir lagi ke sini."


"Kamu mau ikut shalat juga?" tanya Rama pada Naina.


"Aku sedang libur," jawab Naina menunduk malu.


Rama mengerti dan tahu ke mana maksud arah dan tujuan Naina. "Ya sudah, kalau begitu aku duluan ya. Kamu hati-hati di sini," kata Rama seraya mengusap pucuk kepala Naina membuat wanita itu tertegun dengan perasaan yang tidak karuan.


"Gak mau temani aku nungguin Nenek di sini?" Naina ingin berlama-lama dengan Rama dan bercerita banyak hal. Padahal di rumah akan bertemu, tapi rasanya ingin terus dengannya.


"Bukannya tidak mau, tapi panggilan dari Allah jauh lebih penting dari isi alam dunia dan seisinya. Kamu juga penting, tapi aku harus menunaikan dulu ibadahku. Maaf, kita sebagai umat muslim harus mengutamakan dulu ibadah selagi kita mampu dan masih ada umur. Jangan ditunda-tunda apalagi dinanti-nanti, karena sudah ditunda dan dinanti maka nantinya bakalan tidak jadi. Kita tidak pernah tahu bakalan meninggal kapan, di mana, dan jam berapa? Selagi ada kesempatan, ada tempat, dan sudah waktunya, segeralah beribadah. Mungkin sebentar lagi kakak kamu akan datang."


Perkataan Rama seakan menyentil relung hati Naina yang seringkali lalai dalam beribadah. Dia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan dipertemukan dengan sosok pria muda seperti Rama. Masih banyak hal yang ingin ia ketahui tentang Rama dan membuatnya semakin penasaran kepada pria yang sudah menjadi suaminya.


Hingga suara Nek Erna mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


"Nai, ayo kita pulang."


Rama dan Naina menoleh.


"Eh, rupanya ada Rama. Pasti lagi keliling pasar, ya?" tanya Erna.


"Iya, Nek. Nah, berhubung nenek sudah pulang, kamu bisa ikut pulang juga.


"Boleh aku ikut denganmu?" Banyak hal yang membuat Naina penasaran. mendengar interaksi Rama dan Mang Joko, sepertinya banyak hal yang telah Rama lakukan untuk mereka semuanya sampai mereka begitu peduli dan juga baik terhadap Rama dan kawan-kawan.


"Boleh saja, tapi tidak apa-apa kamu nunggu aku selesai ibadah?"


"Tidak apa-apa."


"Ya sudah, kalau gitu Rama dan Naina pamit dulu, Nek." Rama dan Naina pun berpamitan. Erna juga tidak melarang Naina ikut Rama.


Setelah Rama tidak ada di sana.


"Dia masih muda tapi jiwa sosialnya tinggi banget. Dia juga salah satu anak kebanggaan pasar sini. Sekalipun penampilannya selalu urakan dan terlihat seperti preman, tapi Rama adalah sosok panutan yang berhati baik dan juga penyayang," kaya mang Joko sambil menatap Rama yang bergerak menjauhi kiosnya.


"Semua orang juga bilang begitu, Mang. Sungguh jarang di jaman sekarang ada anak seperti Rama dan kawan-kawan. Saya bangga sekaligus kagum kepada mereka yang begitu tulus membantu sesama dan juga mau berinteraksi dengan orang-orang yang tidak mampu," kata Erna menimpali.


"Memangnya kamu kenal Rama sebelumnya?" tanya Mang Joko.


"Rama itu calonnya cucu saya, tadi di pasar semua para pedagang hampir membicarakan kebaikan Rama dan kawan-kawan."


"Oh si Neng yang cantik tadi. Ah mereka kelihatan cocok sekali, saya berdoa semoga mereka jodoh."


"Aamiin, dan mereka memang sudah berjodoh, Mang. Sudah menikah pula."


"Benarkah?"


"Iya, jadi kalau ada yang ingin mendekati cucu mantu saya bilang saja sudah menikah. Ini fotonya." Dengan bangga Erna menunjukan foto pernikahan Rama dan Naina.

__ADS_1


"Oawalah, sudah sah toh."



__ADS_2