
Naina tidak percaya kalau pria muda yang menjadi suaminya adalah seorang pekerja kantoran. Lebih tepatnya seorang pemilik game yang sering mencetuskan karya permainan baik untuk anak-anak dan juga dewasa. Bahkan karyanya sering di download di pelaystore. Bukan hanya satu, tapi sudah ada puluhan game yang berhasil Rama dan kawan-kawan luncurkan.
Naina yang dari tadi diam di pojokan memperhatikan Rama dan kawan-kawannya meeting. Ia bisa mendengar sebuah visi dan misi dari perusahaan tersebut, ia juga bisa mendengar peluncuran karya baru lagi di bulan depan. Sekarang ia baru tahu kalau uang yang Rama berikan hasil dari kerja kerasnya.
"Bukan hanya seorang pembalap, tapi juga seorang CEO game. Apa aku mimpi bisa berjodoh dengan pria ini? Pria yang aku anggap ingusan, masih bocah, petakilan, tapi ternyata seorang pria yang bertanggungjawab dan juga pekerja keras."
Hingga lamunan Naina buyar ketika Rama menepuk pundaknya.
"Hah!"
"Kamu sedang melamunkan apa? Dari tadi aku panggil tidak menjawab." Rama mengambil kursi kemudian duduk di hadapan Naina.
"Tidak ada, aku tidak sedang melamun."
"Jangan berbohong, Nai. Dari tadi kamu bengong. Apa yang sedang kamu pikirkan? Beritahu aku agar kau bisa membantumu menyelesaikan masalahmu."
Naina menunduk. "Aku pikir kamu itu hanya seorang anak sekolahan biasa saja, tapi ternyata?"
"Oh masalah itu." Rama menggenggam kedua tangan Naina. "Inilah aku dan kehidupan ku. Aku bukan pria yang seperti mereka lihat. Ya, aku akui kalau kelakuan ku ini bandel, kadang suka bolos, kadang suka balapan, kadang suka tawuran, tapi bukan berarti aku hanya diam di lingkungan yang seperti itu. Ada hal yang memang sering aku lakukan bersama sahabatku. Dan ini sebagian hidupku."
"Selain aku, apa Alina tahu?" Naina menatap bola mata Rama. Rama menggelengkan kepalanya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Alina tidak pernah ingin tahu tentang aku. Alina hanya ingin aku mengikuti semua keinginan dia. Alina juga tidak suka aku berteman dengan Deni dan Rian yang menurutnya membawa pengaruh buruk pada hubungan kita. Hanya kamu yang tahu kau aku suka balap motor, hanya kamu yang tahu kalau aku memiliki ini semua."
"Lalu selama kalian pacaran apa ada niatan untuk memberitahu Alina?"
"Sebenarnya ada, tapi aku masih berpikir dulu untuk terlalu jauh memberitahukan kehidupan ku yang sesungguhnya. Bukan aku menjelekkan Alina, tapi sikap Alina yang terus mendominasi membuat aku urung memberitahukan siapa aku."
"Kenapa begitu? Bukannya kamu itu pacarnya yang memang harus terbuka dalam segala hal? Dan kamu mencintainya kan?"
"Apa aku harus menjawabnya?"
"Terserah kamu sih, aku tidak akan memaksa." Naina melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rama. Namun Rama kembali menarik lagi tangan Naina.
__ADS_1
"Aku memang pacarnya, tapi aku tidak mau memberitahukan dulu. Bukan aku tidak cinta, hanya saja aku belum siap. Kan sudah ke katakan sebelumnya kalau aku kurang suka dengan cara Alina yang terus menerus bersikap lebih mengatur kehidupan ku."
"Terus kenapa kamu mau menjadi pacarnya? Terus kenapa kamu bertahan pacaran sampai hampir satu tahun ini? Mustahil kalau kamu tidak cinta?"
"Karena aku kasihan sama Alina yang mengungkapkan perasaannya di hadapan semua orang. Aku tidak tega menolaknya dan tidak ingin mempermalukan dia di hadapan banyak orang, jadinya aku menerima dia sebagai pacar aku. Di bilang sayang, ya sayang, di bilang cinta ya cinta, tapi lebih ke cinta pada seorang teman saja, bukan cinta seperti pada pasangan."
"Jadi kesimpulannya?" Naina mulai menangkap arah pembicaraan Rama menuju kemana. Ia mulai tahu sedikit-demi sedikit kisah Alina dan Rama.
"Terpaksa." Itu jawab Rama yang membuat Naina diam tak percaya.
"Terpaksa? Terus kenapa bilang cinta kalau terpaksa? Kamu ini memang playboy ya, suka mempermainkan wanita." Naina mendadak kesal atas sikap Rama yang ia yakini mempermainkan Alina.
"Aku cinta sama dia, tapi bukan sebatas pasangan. Hanya sebatas teman. Cinta pada teman, cinta pada pasangan, cinta pada seorang ibu itu berbeda-beda. Dan aku melakukan itu semua hanya karena rasa kasihan. Aku tidak tega saja menolak Alina di hadapan semua orang. Pasti malu lah."
"Sulit di mengerti, aku tidak percaya ini. Kamu mempertahankan hubungan kian sampai sembilan bulan lamanya hanya karena rasa kasihan? Luar biasa tidak masuk akal."
"Terserah kamu mau percaya ataupun tidak karena itulah kenyataannya. Tapi tidak dengan kamu," ujar Rama terlihat serius dengan tatapan terus tertuju pada bola mata Naina.
"Maksud kamu?"
"Ah lupakan masalah itu." Rama berdiri.
Drrrtt ... drrrtt ..."
Ponsel yang Naina pegang berdering. "Papa."
"Aku antar kamu pulang. Sepertinya mereka akan bertanya sebab jam segini belum pulang."
Naina mengangguk, lalu ia mengangkatnya. ( "Hallo, Pah." )
( "Sekarang jadi ga pulang! Ada hal yang ingin papa tanyakan sama kamu." )
( "Baik, Pah." )
Meskipun heran ada apa, Naina pun lebih memilih pulang dan tentunya Rama yang mengantarkan.
*****
__ADS_1
"Rama aku berhenti di depan saja." Naina meminta Rama memberhentikan motornya.
"Kenapa? Rumah kamu Kan ada didepan?" Namun Rama mengikuti keinginan Naina, iapun memberhentikan motornya cukup jauh dari rumahnya Naina.
Naina turun terlebih dulu, ia melepaskan helmnya, kemudian memberikannya pada Rama. "Aku belum siap papa dan mama bertanya tentang kita. Aku masih takut."
"Sampai kapan, Nai? Apa akan selamanya kita main petak umpet tentang hubungan kita? Aku butuh memperjelas hubungan kita dan aku butuh restu kedua orangtua kamu. Sekalipun kita sudah menikah secara agama, tapi tetap saja aku butuh wali untuk kembali menikahimu."
"Rama aku mohon, ini bukan waktu yang pas. Please ngertiin aku. Kamu tahu kan kalau aku baru patah hati, dan kamu juga baru putus dengan Alina. Tidak secepat itu mempublikasikan pernikahan rahasia ini. Tunggu waktu yang tepat, ok."
Rama menghela nafas panjang. Padahal niatnya baik ingin menjelaskan hubungan mereka, tapi melihat Naina yang belum siap apalah daya, Rama tidak bisa memaksanya.
"Baiklah jika itu kemauan kamu. Jadi aku mengantarmu sampai sini?"
Naina mengangguk. "Maaf."
"Tidak masalah, kalau gitu aku pulang dulu. Salim dulu sama suami." Rama tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
Naina mengambil tangan Rama dan mengikuti perintah Rama.
"Aku pergi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
Setibanya di dalam rumah, rupanya papa dan mamanya sudah ada di sana.
"Pah, Mah." Naina menyapanya dan menyalami keduanya.
"Duduklah! Kami mau bicara sama kamu!"
Naina pun duduk meski ada kebingungan menghampirinya. "Ada apa? Sepertinya serius sekali?"
Devan menarik nafas kemudian membuangnya secara perlahan. "Sebenarnya papa bingung mau bicara dari mana, tapi melihat Alina yang terus murung membuat kami harus bertanya sama kamu. Tolong jawab yang jujur, Nai. Apa benar kamu mendekati Rama dan berusaha menggoda Rama?"
Deg.
__ADS_1
"Pah ..."