Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 93


__ADS_3

Sebelumnya.


Restu sudah memikirkan semuanya dan merenungkan tentang segala macam perkataan Rama. Dia menyadari kalau dirinya membutuhkan kedua anaknya. Selama itu pula dirinya merasakan kesepian ketika Gilang dan juga Rama tidak ada di rumah. Merasakan kerinduan kepada kedua putranya dan juga merasa ingin kembali berkumpul dan saling bercerita banyak.


Rasa egois yang ia milikinya, tindakan keras kepala yang seringkali membuat Restu berbuat sesuka hati, kini perlahan mulai ia renungkan dan menyadari kalau dia bersikap seperti itu akan terus menghancurkan hubungan dia dan kedua anaknya. Sebagai orangtua, Restu memilih mengalah demi kebahagiaan bersama. Benar kata Rama, dia sudah tua dan mungkin saja ajak akan cepat datang sebelum dirinya memperbaiki semuanya. Jadi sekarang biar dia yang menghampiri kedua anaknya dan meminta maaf atas segala kesalahannya.


Restu mencari kedai milik Gilang, dia meyakini kalau kedua anaknya pasti akan berkumpul di sana mengingat hari ini adalah hari Minggu. Jadinya Restu mencoba menelusuri alamat yang pernah Rama berikan waktu pertengkaran kemarin.


Di sepanjang jalan, matanya tidak berhenti mencari nama kedai martabak yang di maksud. Namun ia bukan menemukan kedainya, tapi malah menemukan sosok yang ia kenal tengah berjongkok di pinggir jalan dalam keadaan menangis.


"Naina? Itu Naina istrinya Rama kan?" Restu memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia segera turun dan menghampiri Naina.


"Kamu ngapain disini?" tanya Restu.


Naina yang terisak mendongak. Ia terkejut ada mertuanya di sana, tapi rasa lelah dan kesal karena tidak bisa menemukan Rama membuatnya ingin bilang pada mertuanya.


"Hiks hiks, Pah. Rama gak pulang-pulang sudah seminggu, aku bingung harus mencarinya kemana lagi. Dia tidak bisa di hubungi, dia tidak ada balik, Rama jahat sama aku." Entah kenapa perasaannya begitu sensitif sekali. Sekarang dia mudah cengeng dan selalu ingin mengadu dalam hal apapun. Bertambah pula rasa rindu yang menyesakkan dadanya membuat Naina terus bersedih.


"Dia tidak pulang-pulang dan gak ada kabar?" Restu terkejut Rama bisa berbuat itu pada istrinya sendiri. Meskipun dia galak, suka marah-marah, tapi kalau bicara istri dirinya tidak pernah menyakiti istrinya. Makanya sampai sekarang belum menikah lagi.


"Iya." Naina berdiri, wajahnya sudah terlihat pucat, bahkan ia merasa pusing ketika berdiri dari jongkoknya.


"Kurang ajar sekali anak itu, bisa-bisanya meninggalkan istrinya tanpa kabar." Restu ikut geram. Namun ia di kejutkan oleh tubuh limbung Naina yang terjatuh ke tanah.


Bruk!


"Ya Tuhan! Naina, kau kenapa?" Restu berjongkok mencoba membangunkan Naina, namun karena tak kunjung bangun dan ia merasakan khawatir, jadinya Restu meminta bantuan orang untuk memasukkan naina ke dalam mobilnya.


*****


Dan sekarang Pak Restu berada di rumah sakit. Dia menunggu dokter beres memeriksa Naina.


"Keluarga pasien."

__ADS_1


"Saya Dok, bagaimana keadaan menantu saya?"


"Menantu Bapak tekanan darahnya rendah dan sepertinya banyak pikiran dan itu mempengaruhi janin yang sedang di kandungnya," tutur dokter.


"Tunggu, janin?" Restu tertarik pada kata janin.


"Iya, Pak. Menantu bapak sedang mengandung, dan usia kandungannya kini memasuki empat Minggu."


Restu terkejut, hatinya menghangatkan mendengar menantunya hamil. Itu artinya dia akan punya cucu. Namun, seketika dia menggeram kesal karena Rama berbuat seenaknya.


*****


Rama berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan yang di maksud papanya. Dalam hatinya terus menggerutu merutuk kebodohannya yang tidak tahu mengenai kehamilan Naina. Seandainya ia tahu, tidak akan pernah dirinya meninggalkan Naina sendirian.


"Pah!" Rama memanggil Papanya yang sedang berdiri menunggu dirinya. Sorot matanya menatap tajam bak ingin menghabisi Rama.


"Dasar suami tidak bertanggungjawab, istri hamil kau malah pergi gitu saja, mana tanggungjawab mu?"


"Ma-maaf, Pah. Rama tidak tahu kalau ..."


"Pah, Rama tidak bermaksud begitu. Rama hanya sedang menenangkan diri ketika Naina minta pisah. Kami sempat ada masalah, ceritanya gini ..." jawab Rama merasa bersalah atas sikap yang ia lakukan. Dia juga menjelaskan duduk permasalahan yang ia dan Naina hadapi kemarin-kemarin.


"Masuk sana! Temani istrimu, dia belum sadar juga. Kalau sampai ada apa-apa sama menantu dan cucu Papa, kamu papa habisi!" ancamannya tak main-main. Setelah mendengar penjelasan Rama, Restu tidak semarah tadi. Dia cukup kagum atas sikap Rama yang tidak tersulut emosi dan tidak mengambil keputusan dalam keadaan tertekan.


"Baik, Pah." Rama pun masuk ke dalam. Tatapannya tertuju pada Naina yang sedang menggerakkan tangannya mau memegang kepala.


"Naina, kamu sudah sadar." Rama tergesa dan cepat-cepat mendekat.


Naina menoleh, ia tertegun menatap sosok yang sedang ia cari. "Rama." Dan matanya kembali berembun segera mencoba duduk. Dengan cepat Rama membantu Naina.


Namun Naina justru menunjukkan tubuhnya memeluk Rama dan menangis dalam pelukan Rama. "Jangan pergi lagi, ayo pulang. Aku tidak mau kita pisah ranjang, aku tidak sanggup. Hatiku sakit, Rama. Aku ingin kamu," lirihnya memeluk erat tubuh Rama.


"Tidak akan, aku tidak akan pernah pergi dari sisi kamu. Kita tidak akan pisah ranjang lagi, kita akan satu ranjang lagi dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dariku. Kita juga akan membesarkan anak kita bareng-bareng." Rama pun memeluk erat tubuh Naina, ia menghunjami kecupan di pucuk kepala Naina.

__ADS_1


"Anak kita?" Naina mengernyit heran.


Rama melepaskan pelukannya. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya dan menghapus air mata Naina. "Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hamil, hmm? Kalau bilang aku akan pulang dan kamu tidak usah cari aku, biar aku yang kesana."


"Ha-hamil?" Naina terkejut dia juga baru tahu kalau dirinya hamil.


"Loh, kok kaget gitu?"


"Aku tidak tahu kalau sedang hamil."


"Tadi papa menelpon Gilang, katanya kamu nangis di pinggir jalan mencari aku dan pingsan. Papa bilang kamu sedang hamil."


"Jadi aku beneran hamil?"


"Iya, kamu sedang mengandung dan usia kandunganmu baru empat Minggu." Bukan Rama yang menjawab, tapi Restu. Pria itu membawa makanan buat mantunya.


"Papa."


Restu tiba-tiba menjitak kepala Rama. "Suami tidak becus, lain kali kalau kabur jangan sampai ke laut rumah. Cukup diam saja di rumah dan jangan di bawa ke luar rumah."


"Ya maaf, Pah." Rama tertunduk menyesal.


"Makanlah, Nak. Kasihan cucu papa belum makan. Kata dokter kamu kurang darah dan jangan banyak pikiran. Sekarang kalau Rama berbuat ulah bilang sama papa, biar papa yang hukum dia." Restu mendelik tajam pada Rama sambil memberikan makanan pada Naina.


Namun, dari balik sikap yang keras itu, Rama menyadari satu hal kalau papanya senang atas kabar ini.


"Pah, makasih." ucai Naina.


"Sama-sama," balas Restu tersenyum.


"Ck, mentang-mentang mau punya cucu perhatiannya sama cucu. Anak sendiri di galakin," kata Rama.


"Kamu harus papa galakin biar tidak berbuat ulah lagi, paham!"

__ADS_1


"Iya, iya, Rama paham. Tapi makasih papa udah mau nerima Naina dan calon anak Rama. Rama tahu kok papa pasti senang kan?"


"Tentu saja, dia calon cucu papa." Namun hanya dalam hati.


__ADS_2