Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 36 - Rama dan Pekerjaannya Part 2


__ADS_3

Jari tangan ramah begitu lihai memainkan laptopnya. Setelah sekian lama berkutat dengan benda persegi itu, Rama mengambil ponselnya dan menekan tombol panggilan lalu ia memasangkan satu earphone ke telinga.


( "Halo, Den, Ian. Gue sudah mengirimkan desain permainan terbaru yang akan rilis bulan depan ini. Gue juga sudah kirimkan cara-cara mainnya tinggal kalian lihat lagi dan periksa apa yang kurang. Permainan ini gue namai pelajaran anak TK dan Paud, tapi kalau ada yang tidak sesuai, kalian bisa ubah agar lebih bagus lagi. Sesuai janji gue kemarin, dari setiap permainan ini banyak sekali edukasi anak mulai dari menghitung, membaca, belajar tata shalat, wudhu, belajar mengenal huruf, mengenal hewan, mengenal kendaraan dan permainan lainnya. Jika ada yang kurang kalian bisa periksa lagi dan masukkan apa yang menurut kalian bagus untuk para anak-anak." )


Devan yang masih ada di sana tercengang kala Rama bilang desain permainan. Hatinya bertanya-tanya tentang pekerjaan Rama. "Apa Rama seorang desainer game?"


( "Ok, Rama. Gue dan Ian akan memeriksanya lagi. Menurut ku kita semua yang lo kirimkan sudah bagus dan tidak ada yang kurang, Tapi untuk projek game lainnya, bagaimana? Apa kita tunda dulu atau lanjutkan?" )


( "Untuk sementara kita tunda dulu yang itu, dan kita kejar projek yang ini. Soalnya gue sudah memperhatikan belum ada game yang seperti ini. Setidaknya, dengan kita meluncurkan permainan baru khusus anak-anak, kita bisa membantu anak-anak yang belum sekolah belajar secara mandiri. Masalah mereka suka atau tidaknya, puas atau tidaknya, itu urusan nanti. Terpenting sekarang kita bantu anak-anak penerus bangsa buat belajar sejak dini. Ini zaman modern yang mungkin saja anak usia 2 tahun ke atas sudah pandai mengenal ponsel. Daripada mereka belajar yang tidak benar, mungkin ini bisa membantu anak-anak di seluruh Indonesia." )


Devan yang mendengar begitu takjub atas cara kerja Rama. Dia menyukai ide brilian ini dan kakek juga tidak menyangka kalau Rama pandai menciptakan permainan.


"Anak ini sungguh pandai sekali, baru kali ini aku menemukan anak muda yang berbakat seperti Rama," batin Devan merasa takjub atas ide yang di milikinya. Devan makin penasaran permainan seperti apa yang akan Rama dan kawannya luncurkan bulan depan.


( "Baik jika itu keputusan lo, Ram. Kita semua sudah stek dengan ide dan hasilnya dan ikut apa katamu saja. Menurut kita, permainan yang lo buat kali ini menguntungkan para orangtua yang mungkin saja bisa membantu anak-anaknya belajar di rumah. Berarti bulan depan ini kita sepakat buat meluncurkan permainannya, ya." )


( "Betul banget, gue setuju dan gue siap mencoba permainan yang lo buat," sahut Deni. )


( "Kalau gue sih iya," kata Rama. )

__ADS_1


( "Kita juga iya, Bos." )


( "Hahaha Bos, jangan panggil gue bos! Gue bukan bos kalian. Kita sama-sama merintis perusahaan game ini dan kitalah pemiliknya." )


Tanpa Rama sadari jika apa yang ia bicarakan di dengar oleh Devan yang semakin takjub dan juga terkejut jika Rama memiliki perusaan Game. Dia baru tahu kalau Rama sudah bekerja dan menjabat sebagai bos pula. "Anak seusianya Rama jadi Bos? Ini seriusan? Aku tidak salah dengar kan? Makin penasaran dengan Rama."


Dan Ram beserta kawan-kawannya selesai saling berkomunikasi dengan keputusan yang menurut mereka baik.


"Jadi kamu memiliki perusahaan Game?" tanya Devan memastikan pendengarannya barusan. Ia ingin tahu lebih jauh lagi.


"Eh!" Rama terhenyak baru menyadari ada orang lain di sana. Saking asyiknya berdiskusi dengan kedua temannya, Rama sampai lupa kalau ia ada di rumah orang. Rama tersenyum cengengesan menampilkan deretan gigi putihnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mau jawab jujur, tapi merasa tidak mau di ketahui orang, kalau tidak jujur pastinya papanya Naina ini akan terus bertanya padanya.


"Menurut O. ini mah perusahaan. Permainan Game yang mampu tembus ke seluruh Indonesia namanya perusahaan besar. Pasti keuntungannya pun banyak. Om tidak percaya kalau kamu salah satu CEO game, Om bangga sama kamu. Anak muda seusia mu sudah pandai menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk orang, tapi kenapa tidak banyak orang yang tahu kegiatan kamu?"


Pria tampan itu tersentuh mendengar ucapan bangga dari orang lain. Hatinya seketika tertegun dan ia berpikir kapan ayahnya akan bangga pada dirinya. Rama tersenyum tulus.


"Rama hanya pekerja biasa, Om. Rama juga tidak pandai dan tidak sepintar mereka. Kenapa menyembunyikan Semua ini karena Rahma tidak mau mereka mengenal Rama sebagai pemilik perusahaan. Sebenarnya bukan hanya Rama saja, tapi juga ini milik Deni dan juga Rian. Kami bertiga merintis semuanya dari nol."


"Tapi menurut Om, orang yang bisa bermanfaat bagi banyak orang adalah orang yang pintar. Kamu adalah salah satunya Rama. Om mendukung kegiatan kamu selama kegiatan itu bermanfaat buat banyak orang. Lanjutkan ya, jangan pantang mundur. Dan untuk teman-teman kamu, mere juga luar biasa." Nasehat Devan terdengar tulus.

__ADS_1


"Apa yang di katakan Alina sepertinya salah. Alina bilang kedua temannya Rama ini tidak baik suka ngajak balapan dan nongkrong terus, makanya Rama nilainya jelek. Namun mengapa hati kecilku mengatakan jika kenakalan Rama di sebabkan oleh kurangnya perhatian dari orang tuanya. Dan sepertinya kedua teman Rama tidak sejelek yang Alina katakan. Aku semakin ingin tahu tentang Rama dan kegiatan sehari-harinya."


"Insyaallah Om, insyaallah Rama akan melakukan hal yang bermanfaat untuk semua orang selama Rama dan teman-teman Rama mampu."


Devan tersenyum "Oh iya, pasti penghasilannya pun cukup besar." Devan kembali mengambil singkong dan mengunyahnya. Ia ingin tahu penghasilan anak muda yang ada di depannya ini. Sepengetahuannya jika perusahaan besar untungnya sangatlah banyak.


"Alhamdulillah cukup buat mengaji mereka dan juga cukup buat di tabung." Rama belum memberitahukan nominalnya. Dia masih malu memberitahukan gaji dia dari game yang sering ia cetuskan ke suruh tempat.


"Pasti hasilnya puluhan juta, setahu om kalau awal merintis bisa puluhan juta." Devan tidak tahu berapa penghasilannya dan ia asal menebak saja. Ia juga tidak tahu seberapa lama Rama terjun ke dunia gamenya.


Rama tersenyum dan ia melipat laptopnya sambil berkata, "Alhamdulillah pekerjaan yang Rama geluti sudah berjalan selama tiga tahu sejak Rama, Deni, dan Rian masuk SMA, dan hasilnya sekitar milyaran perbulan, Om"


"Apa?!" Devan tercengang mendengar hasil perbulannya.


Ukhuk ... ukhuk ....


"Papa! Apa yang lo dilakukan pada Papa gue, hah?"


Eh!

__ADS_1


__ADS_2