Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 43 - Kepergok


__ADS_3

"Sudah sampai." Rama memberhentikan mobil pickupnya cukup jauh dari Villa. Berhubung masih gelap, warga sekitar belum ada yang beraktivitas.


"Aku masuk dulu, makasih buat kartunya."


"Ck, rupanya kamu matre juga."


"Hei, perempuan materialistis itu realistis. Segala keperluan perempuan butuh uang, jadi jangan bilang perempuan matre." Naina tidak terima dirinya di katai matre.


"Sekalipun kamu matre aku tidak keberatan. Mau kamu habiskan dalam satu Minggu pun terserah kamu."


"What! Seriusan? Aku jadi penasaran berapa isi uang yang ada di dalam kartunya. Ok deh, nanti aku akan menghabiskan uangnya Dan Kamu jangan kaget kalau uang yang ada di ATM ini habis dalam sekejap mata."


"Terserah saja, kalau habis nanti ku transfer lagi." Dengan entengnya Rama bicara seperti itu seolah menunjukkan kalau uang yang diberikan kepada Naina bukanlah hal seberapa.


Naina malah terdiam memikirkan pekerjaan Rama. "Sebenarnya dia bekerja apa sih? Apa ini uang hasil dari balapan? Aku jadi penasaran dengan isinya."


"Daripada banyak mikir, mending kamu turun dan masuk sebelum semua orang yang ada di Villa menyadari kalau kamu tidak ada di dalam."


"Ah kamu benar." Naina pun hendak turun, tapi tangannya dicekal oleh Rama. Naina menoleh, "ada apa?"


"Apa kamu akan tetap mempertahankan hubunganmu dengan Mario? Atau kamu akan memutuskan hubungan mu?" tanya Rama menatap dalam mata Naina.


"Sedang kupikirkan, saat ini dia sulit sekali ku hubungi. Mungkin sedang asyik berduaan dengan kekasihnya." Raut wajah Naina terlihat murung.


"Ya sudah." Lalu Rama melepaskan tangannya.


"Aku masuk dulu," ucap Naina sambil keluar mobil.


Melihat Naina sudah jalan ke dekat pintu, Rama pun pergi meninggalkan tempat itu.


Naina mengendap-ngendap, semalam dia keluar lewat pintu belakang. Dan kali ini dirinya juga bersiap masuk lewat pintu belakang dengan harapan Mamanya belum bangun.


"Semoga Mama, Nenek, atau Papa belum bangun." Naina celingukan memperhatikan sekitarnya. Perlahan ia membuka pintu. Sudah terbuka barulah menutupnya lagi.


"Syukurlah, pintunya tidak di kunci. Aman." Naina menghela nafas lega karena ia berhasil masuk ke dalam villa. Waktu yang masih pukul setengah enam pagi, keadaan masih gelap, dan cuacanya sangat dingin membuat para penghuni masih berada di bawah selimut.


"Daripada masuk kamar mendingan aku masak saja. Cakep, alasan yang sangat bagus, Nai. Jadinya mereka tidak akan curiga." Naina tersenyum senang mendapatkan ide yang bagus. Lalu dia melihat aneka bahan masakan yang ada di dalam kulkas.


Terlebih dulu Naina menyimpan tas selempangnya ke atas meja. Berhubung cuacanya dingin, Naina menyiapkan sayur sup ayam dan juga aneka macam gorengan. Ada goreng singkong, goreng bakwan, goreng pisang dan tidak lupa menyiapkan minuman hangatnya, teh manis, ada kopi, ada pula susu, sesuai kesukaan para keluarga.


"Nai, kamu masak?" ucap Kania menghampiri Naina. Dia melihat banyak aneka makanan sudah tersedia di atas meja.


"Iya Mah." Naina yang sedang menyeduh kopi tersenyum.

__ADS_1


"Aduh, mama kesiangan. Maaf ya tidak bantuin kamu." Kania merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, kebetulan Naina bangunannya pagi sekali, jadinya sekalian saja masak buat kalian semuanya."


Dan Devan, Alina, dan Erna ikut bergabung ke meja makan ketika menghirup aroma wangi masakan.


"Oh jadi kamu yang masak, papa kira nenek kalian," kata Devan.


"Justru mama kira yang masak itu Kania. Mama mah nyenyak tidur, cuacanya dingin banget."


"Sama Nek, Alina juga nyaman tiduran. Dingin sekali di sini mah."


"Mumpung kalian udah ada di sini mari kita makan."


Di saat keluarga Naina makan bersama, Rama justru tengah di hukum oleh Akinya.


"Bagus ya keluyuran malam bawa mobil Aki. Aki kira mobil pickup-nya di curi maling sampai Aki cari-cari bareng tetangga. Eh rupanya di bawa kamu, dasar cucuku yang baiik banget." Aki Soleh menjewer telinga Rama.


Tadi pagi, Aki Sholeh hendak memanaskan mobil kesayangannya, namun Aki terkejut benda ia sayangnya tidak ada di garasi. Aki mencari-cari kesana kemari bersama para tetangga dan menyangka mobilnya dicuri orang. Ternyata, mobil itu datang bersama Rama. Dan saat ini Rama tengah di intimidasi oleh Aki dan Emaknya


"Ampun Aki, Rama salah tidak bilang-bilang dulu. Rama minta maaf."


"Kamu itu buat Emak dan Aki jantungan Rama. Untung jasa jantung kita tidak loncat."


"Eh semprul, kamu mendoakan Aki dan Emak mu ini mati, begitu?" Aki Sholeh bertolak pinggang menatap tajam cucu keduanya.


"Enggak atuh, Aki. Maksud Rama mah kagak begitu."


"Pokoknya sebagai hukumannya kamu harus mandiin si Jalu!" ucap Aki.


"Apa? Mandiin si Jalu? Di sawah, gitu?" Rama memekik kaget, hukuman dari Akinya ini bikin Rama terkejut bukan main.


"Ya iyalah, masa di kota."


"Aduh, Mak, Aki, jangan Rama ya. Rama malas mandiin si Jalu."


"Tidak boleh nolak!" ucap Aki dan Emak secara bersamaan. Rama menghela nafas panjang. "Ini yang tidak mau ku lakukan, mandiin si Jalu."


*****


Villa Devano.


"Hari ini aku mau melihat lahan yang akan kita jadikan toko kue. Kamu mau ikut?" tanya Devan pada istrinya.

__ADS_1


"Aku di sini saja, ya. Badan ku rasanya lemas sekali." Dari kemarin Kania merasa lelah, letih, lesu.


"Apa kamu sakit, sayang?" Devan merasa khawatir.


"Tidak, hanya saja sedikit lemas habis kamu garap. Nanti juga akan sehat kembali kalau sudah istirahat."


Devan tersenyum, ia tahu maksud istrinya kemana.


"Mama bicara apa, kami tidak mengerti?" kata Alina.


"Jangan dipikirkan, ini urusan orang dewasa," kata Erna tahu maksud ucapan menantunya.


"Kalau kalian mau ikut tidak?" tanya Devan pada Alina dan Naina.


"Aku mau ikut, Pah. Naina bosan di rumah terus." Naina yang menjawab.


"Alina di sini saja. Alina mau cari seseorang di sekitar sini, jadi tidak mau ikut."


Naina bertanya-tanya siapa yang ingin Naina cari. "Apa Alina akan mencari Rama."


"Ya sudah, kalau gitu aku dan Naina berangkat dulu."


*****


Sepanjang jalan menuju lokasi, Naina terus kepikiran Alina yang akan mencari seseorang. "Kalau mereka bertemu apa yang akan mereka lakukan, ya? Aku jadi penasaran."


"Nai, bagaimana kelanjutan hubungan kamu dan Mario? Katanya dia mau melamar kamu, tapi kapan? Kok sampai sekarang Mario belum juga membawa orangtuanya ke rumah."


"Nai juga tidak tahu, Pah." Sebenarnya malas membahas Mario si pengkhianat itu. "Apa aku harus jujur sama Papa tentang hubunganku dan Mario?"


"Kok tidak tahu?" Devan menoleh pada Naina lalu kembali menatap ke depan sambil menyetir mobil.


"Aku juga bingung, Mario tidak memberitahukannya. Hmm Pah, kalau seandainya Naina putus dengan Mario bagaimana?"


Devan tidak terlalu serius mendengarkan Naina karena matanya melihat sosok yang ia kenal.


"Pah, Nai ..."


"Itu Mario 'kan?" Devan memberhentikan mobilnya menunjuk Mario. Naina pun ke mana arah mata Papanya tertuju.


"Dia ..."


"Akhirnya kepergok juga," batin Naina.

__ADS_1


__ADS_2