Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 82 - Di Pecat


__ADS_3

Gilang tidak percaya kalau orang itu malah menuduh dirinya. Dia memang berkutat dalam mengatur keuangan, tapi bukan berarti dirinya sampai berniat menggelapkan uang perusahaan. Sekalipun dirinya bandel di belakang orangtuanya, tapi tidak pernah ada niatan untuk korupsi pada uang kantor. Dia berusaha bekerja dengan jujur sesuai kemampuan yang miliki meskipun itu terpaksa. Namun kali ini dirinya mendapatkan sebuah tuduhan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Manajer keuangan memang seorang spesialis yang mengelola fungsi keuangan suatu organisasi. Seorang manajer keuangan juga akan menyusun laporan keuangan, mengelola kegiatan investasi, dan membuat strategi jangka pendek atau jangka panjang demi mencapai tujuan perusahaan. Namun beda lagi tugasnya dengan staf payroll yang mengelola seluruh gaji karyawan. Bisa saja uang yang seharusnya di terima oleh karyawan di korupsi oleh beberapa orang. Begitu pikiran Gilang saat ini, tapi ia belum bisa membuktikan kecurigaannya itu.


"Gilang, selama ini kamu sudah sering banget izin tidak masuk ke kantor dan itu bisa saja karena kamu banyak menikmati uang yang kamu gelapkan. Saya tahu pasti kalau kamu itu anak baru kemarin yang di angkat jadi manager, pastinya kamu memanfaatkan jabatan yang kamu punya untuk menggelapkan uang kamu. Kamu pikir saya tidak tahu kegiatan kamu selama ini?" kata Pak Broto yang semakin menyudutkan Gilang untuk mengakui tindakan yang tidak pernah pernah dilakukan oleh Gilang sendiri.


"Kalau Bapak bilang begitu, lalu buktinya apa jika memang akulah yang sudah mengkorupsi uang karyawan?" Gilang yakin kalau dirinya tidak melakukan apapun. Jadi dia tidak akan pernah takut meskipun nantinya penjara yang akan ia hadapi.


"Semua laporan yang kamu keluarkan sebagai buktinya. Jelas-jelas dalam laporan tertulis kalau pengeluaran kita di bulan ini sangat banyak termasuk gaji untuk para karyawan, tapi kenyataannya uang kami tidak sesuai yang di tuliskan secara UMR, lalu kemana sebagian yang itu? Pasti kamu yang telah mengambilnya."


"Pak ini ..."


"Bos, dia itu anak baru, anak kemarin sore. Jadi bisa saja dia gelap mata melakukan semua ini. Apa Bos percaya sama saya yang sudah bekerja selama tiga tahun di sini? Apa pernah kita mengalami masalah? Tapi sejak dia diangkat jadi manager keuangan beberapa bulan ini sudah ada kekacauan terjadi di sini. Apa ini tidak aneh?" Broto semakin memprovokasi Bosnya untuk percaya pada dia.


Namanya juga hidup, selalu ada saja yang tidak suka dengan keberhasilan seseorang. Ada yang iri, ada yang ikut senang, ada yang suka ada pula yang tidak suka. Kadang kalau ada yang tidak suka selalu saja melakukan hal supaya orang lain itu sengsara. Kadang juga kalau yang ikutan senang ikut merangkul dan mengucapkan kata-kata motivasi buat mereka.

__ADS_1


"Pak, jangan percaya sama tuduhan dia. Saya tidak pernah melakukan tindakan korupsi di kantor ini. Kalau Bapak tidak percaya kita periksa saja ruangan ku dan Bapak buktikan sendiri semua ucapannya." Gilang membela dirinya sendiri.


"Tidak perlu, saya tidak akan repot-repot memeriksanya karena saya sudah percaya sama Pak Broto. Jadi sekarang dengan tidak hormat maka saya memecat kamu!" kata Bosnya yang lebih percaya pada ucapan Pak Broto.


"Apa! Di pecat? Bapak percaya begitu saja pada orang yang mungkin saja bisa berbicara bohong."


"Apa yang Pak Broto bicarakan ada benarnya, Gilang. Kamu itu anak baru yang bisa saja gelap mata. Ini sudah seringkali saya alami dan saya tidak akan memelihara seorang penipu di kantor saya ini. Lebih baik kamu keluar dari sini dan segera bereskan seluruh barang-barang kamu!"


"Baik, saya akan keluar dari sini karena percuma bekerja dengan orang-orang yang tidak pernah bisa menghargai kerjaan orang. Semoga setelah saya keluar, Bapak bisa menemukan siapa sosok yang suka korupsi yang sebenarnya. Permisi." Daripada memohon untuk tetap di pertahankan, Gilang lebih baik pergi saja dari sana dan mencari kerjaan baru yang jauh lebih nyaman buatnya. Karena memang ia ingin bekerja atas kemauannya sendiri.


Toko Bangunan.


"Apa? Kamu di pecat? Dasar anak bodoh, kenapa bisa sampai di pecat segala sih, hah? Kalau kerja itu yang benar dong! Itu kerjaan bagus buat kamu, tapi kamu malah di pecat. Kalau kerja yang becus, Gilang. Bikin papa malu saja. Sudah capek-capek papa carikan kerjaan bagus buat kamu, eh malah malah disia-siakan." Restu marah mendengar Gilang di pecat dari kerjaan yang menurutnya sangatlah bagus. Ya, Gilang bicara tentang pemecatan yang ia alami pada papanya. Gilang juga mampir ke toko bahan bangunan milik papanya. Namun yang ia dapatkan bukannya sebuah solusi, tapi malah makian.


"Bukan tidak becus, Pah. Tapi Gilang di fitnah orang. Daripada terus bertahan di sana, mendingan Gilang keluar saja. Masih banyak kerjaan yang akan Gilang dapatkan. Mungkin termasuk jaga toko milik Papa."

__ADS_1


"Heh! Papa menyekolahkan kamu tinggi itu supaya kamu sukses. Sekalipun perusahaan bahan bangunan kita besar, tapi Papa ingin kamu bekerja di tempat lain dan mencari pengalaman sendiri supaya nanti kamu punya bekal ketika mengelola usaha papa ini. Tapi semuanya kacau gara-gara tindakan bodoh kamu itu."


"Pah! Untuk apa aku kerja di tempat orang lain kalau di tempat papa saja masih bisa kerja? Mendingan di sini bantu papa daripada harus kerja di tempat orang dengan hidup di bawah tekanan orang. Seharusnya Papa senang kalau Gilang mau mengurus usaha Papa, bukan malah marah gini." Gilang tidak habis pikir oleh pikiran papanya yang terkadang sulit di mengerti.


"Justru kalau kamu bekerja dan mendapatkan posisi yang tinggi bisa membuat orang lain melihat potensi kamu yang luar biasa. Kalau hanya kerja seperti papa ini, mana ada luar biasanya. Papa hanya ingin kamu di pandang orang dengan kerja kamu yang bagus itu, bukan jadi seperti adikmu yang juga sulit di atur itu."


"Justru Gilang amu seperti yang yang bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Bebas melakukan apapun sesuai keinginan dia tanpa harus Papa kekang dan suruh-suruh. Aku juga memiliki keinginan sendiri, Pah. Aku capek kalau harus mengikuti semua keinginan Papa. Aku memang ingin menjadi orang sukses, tapi dengan cara ku sendiri dan memiliki usaha sendiri, bukan sukses berada di bawah telunjuk orang." Gilang berdiri menyerukan segala keinginannya yang selama ini ia pendam sendirian. Rasa lelah yang seringkali di suruh mengikuti setiap keinginan papanya membuat Gilang berani mengeluarkan segala macam beban pikiran yang ia hadapi seorang diri.


"Jadi sekarang kamu berani melawan papa seperti Rama? Apa kamu juga akan jadi anak berandalan macam Rama?"


"Kalau perlu iya biar aku bebas melakukan apapun sesuai keinginan ku!" jawab Gilang tegas sambil berlalu pergi dari sana.


"Pergi sana! Ikuti semua keinginan kalian itu. Kita lihat apa ku dan Rama akan mampu hidup tanpa bantuan Papa?"


Gilang menoleh kebelakang. "Gilang akan buktikan kalau aku akan mampu menjadi orang sukses dengan caraku sendiri. Mulai saat ini, Gilang tidak mau lagi mengikuti semua keinginan Papa."

__ADS_1


__ADS_2