
"Rama kamu tidak apa-apa?" tanya Devan.
"Tidak apa-apa Om." Rama menatap Devan dan tersenyum. "Ah, Om, maaf. Mentimunnya jadi rusak gara-gara Rama." Rama merasa bersalah dan ia mencoba mengambil karung berisi mentimun dari sawah untuk di pindahkan ke jalan.
"Tidak apa-apa, ini juga masih bagus dan masih terlihat baik-baik saja," balasnya sembari memperhatikan mentimunnya.
"Sebagai gantinya, Rama bantu Om memetiknya lagi yang baru." Karena merasa bersalah telah menghancurkan barang milik orang lain, Rama berniat menggantinya. Rama ingin kembali ke kebun, tapi di cegah.
"Tidak perlu, Rama. Jangan di ganti!"
"Tidak apa-apa, Rama yang salah tidak hati-hati berjalan sampai menghancurkan mentimun yang Om beli. Rama tahu jika ini untuk di jual lagi, kalau di biarkan pastinya nanti akan cepat rusak." Rama segera berlari.
"Rama jangan di ganti, Rama!" Namun Rama tidak mendengarkannya. Pria muda itu berlari mendekati ladang kakeknya.
Sedangkan Rama, pria itu menghampiri Kakeknya yang masih memetik sayuran. "Aki, aku gak sengaja menjatuhkan mentimunnya, Rama mau ganti dan ini uangnya." Rama mengambil uang merah dalam saku celananya dan memberikannya ke kakeknya sendiri.
"Buat apa?" Kakek Soleh yang hendak naik dari sawah yang di tanami mentimun mendongak heran.
"Buat ganti ruginya, Aki. Rama tahu kalau Om Devan membeli mentimun ini untuk ia jual ke orang-orang. Nah, karena Rama tidak sengaja menjatuhkan satu karung mentimun, Rama mau menggantinya dengan yang baru. Ini, Aki ambil ya, Rama mohon." Rama memaksa dan memberikan dua lembar uang merah ke tangan Kakeknya.
Apa yang Rama lakukan di perhatikan oleh dua pasang mata wanita beda generasi. Naina yang tak jauh dari sana sedang memegangi daun tersentuh hatinya melihat rasa tanggung jawab Rama terhadap sesuatu hal yang kecil.
"Dia menggantinya," batin Naina memperhatikan Rama.
"Anak itu, masih saja seperti dulu." Mak Ijah tersenyum bangga pada cucunya. Dia merasa jika Rama memiliki sifat murah hati meski penampilannya urakan.
Naina menoleh, "Nek, emangnya dia cucu nenek?" tanya Naina sambil berjalan ke saung dan duduk dulu di sana sambil memperhatikan Rama dan Kakek Soleh memetik mentimun.
"Dia cucu kedua kakek dan Nenek. Kamu belum kenal ya, sama dia. Kalau ke sini, Rama memang jarang keluar rumah. Jadi banyak orang tidak tahu mengenai dia."
__ADS_1
"Oh, cucu nenek. Asli, Nek. Pria itu ngeselin banget. Masa dia nyalahin aku saat motorku tak sengaja hendak mendambakannya. Padahal ya, tadi itu dia jalan melawan arah menghalangi jalan yang seharusnya di lewati motor, eh dia gak terima karena katanya aku yang salah. Mana aku jatuh tidak di tolongin, eh dia malah ngatain. 'Kan ngeselin, Nek." Naina sudah mengenal nek Ijah, tapi dia tidak mengenal cucu-cucunya. Baru sekarang ia tahu jika Rama cucu Nenek Ijah.
"Jadi kalian sudah bertemu?" tanyanya dan diangguki oleh Naina.
"Oalah, itu artinya kalian berjodoh."
Naina terdiam. "Berjodoh? Apa aku dan Rama memang berjodoh? "
"Nenek berharap kamu jodohnya Rama," balas Nek Ijah tersenyum jahil.
"Naina pulang dulu, Nek. Assalamualaikum." Dan Naina pun berpamitan lalu beranjak pergi. Namun, matanya terus tertuju pada Rama yang juga sempat meliriknya.
Setelah selesai mengumpulkan satu karung mentimun sebagai ganti, Rama pulang dulu dan membersihkan dirinya. Dia mengganti pakaiannya dan mengambil mobil milik kakeknya. Sedangkan sang Kakek dan Neneknya masih di ladang sedang panen.
"Kek, Rama mengantarkan mentimunnya dulu, ya." Rama sudah menaikkan karungnya ke mobil pick up.
"Kamu tahu Villa di mana?" tanya Mak Ijah.
"Villanya ada di ..." Kakek Soleh memberitahukan tempat tinggal Naina.
*****
"Bang bagaimana motornya sudah?" tanya Naina kembali lagi ke bengkel motor. Naina memperhatikan motor metiknya.
"Sudah, semuanya sudah beres. Sudah bagus pula. Makasih ya Bang, maaf merepotkan."
Seperti perjanjian awal, Naina memberikan uang sebagai gantinya.
"Abang mah senang-senang saja, tentu tidak merepotkan kamu." Tentu saja orang itu senang bisa dekat dengan gadis yang ia taksir.
__ADS_1
"Kalau gitu Naina pulang dulu." Dan ia pun pamit pergi.
*****
Gala sudah sampai di Villa yang di maksud. "Sepertinya ini Villanya." Dia pun turun dan ingin mengucap salam. Namun Naina berteriak dari atas motor.
"Hei, lo ngapain ke sini? Apa lo ngikutin gue hah?" Naina kesal dan mengira Rama ngikutin dia. "Sumpah gue malas ketemu lo."
"Lo kenapa sih dari tadi marah-marah mulu? PMS lo kak? Dan apa lo bilang? Gue ngikutin lo kesini? lihat tuh mobil pick up gue! Gue kesini karena gue harus nganterin ini semua." Rama menunjuk mentimun yang ada di atas mobil pick up agar Naina melihat kalau dia datang membawa satu karung plastik mentimun.
Pun dengan Naina yang juga melihat ke arah mobil pick up nya. "Oh, mau ganti rugi atas mentimun yang lo jatuhin. Simpan di sana saja!" Naina menunjuk ke depan rumahnya dan ia hendak masuk.
"Lo mau kemana?" Rama mencekal tangan Naina.
"Bukan urusan lo!" sentak Naina.
"Gue mau bicara sama lo, ayo ikut gue!" Rama menarik tangan Naina dan mengajaknya pergi dari sana tanpa peduli pada kedua orangtuanya.
"Lo mau ngapain sih Ram? Lepasin gue! Gue tidak mau ikut dengan lo!" Naina memberontak enggan ikut dengan Rama. Tapi Rama tidak peduli, ia menaiki motor Naina.
"Mana kunci motornya dan lo ikut gue!"
"Enggak mau! Jangan maksa dong, gue mau masuk."
"Lo nurut apa kata gue atau gue bilang sama kedua orangtua lo kalau kita sudah nikah?" Rama memberikan ancaman kecil dengan harapan Naina mau menurut.
"Lo ngancam gue?"
"Menurut lo?"
__ADS_1
"Ish nyebelin, kalian para cowok sama saja, sama-sama nyebelin!" pekik Naina sambil mengambil kunci motornya dan memberikan paksa pada Rama. Wajah Naina terlihat murung, matanya berkaca-kaca dan itu tidak luput dari pandangannya Rama.
"Gue tidak tahu apa yang terjadi sama lo, makanya gue mau ngajak lo pergi ke suatu tempat." Rama pun menjalankan motornya dan Naina ia bonceng.