Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 67 - Melarikan Diri


__ADS_3

Erna melakukan pertemuan dengan Rama di jalan.


"Kenapa bisa Naina belum pulang? Dari rumahku pagi-pagi sekali pulangnya dan bilang mau pulang ke rumah. Malah Naina pulang saat aku masih tidur." Rama tidak mengerti dengan situasi ini. Rasanya mustahil Naina begitu saja hilang tanpa jejak.


"Nenek juga tidak tahu, Ram. Masalahnya sampai saat ini Nain sebelum pulang ke rumah. Ponselnya pun tidak aktif."


"Apa semua teman-temannya, sanak saudara, tempat yang sering Naina kunjungi sudah kalian tanyakan dan cari?"


"Sudah, dan tidak ada satupun dari mereka yang tahu, dan Naina tidak ada di satupun tempat yang sering Naina kunjungi."


Rama yang sedang berdiri di dekat motornya berpikir keras. "Kira-kira kemana? Tidak mungkin juga kalau bertemu mantannya?"


Erna seketika langsung menoleh. "Mario! Apa Naina bersama Mario?"


"Maksud Nenek gimana? Tidak mungkin juga Naina bersama dia?"


"Masalahnya Mario tidak terima di putuskan. Ada kemungkinan dia mengincar Naina. Dan ada kemungkinan juga dia bersama Naina karena tidak terima di putuskan begitu saja. Setahu nenek, Mario itu suka nekat, makanya Naina bertahan dengan dia karena takut nekat, melakukan hal yang tidak terduga." Entah dapat pemikiran dari mana, namun Erna merasa itu mungkin saja terjadi.


"Kalau gitu nenek hubungi Mario. Kalau di angkat kita lacak keberadaan Mario dan aku akan kesana." Rama semakin di buat gelisah dan khawatir.


Erna mengangguk. Ia pun segera menghubungi no Mario. "Nomornya aktif."


( "Hallo nenek, apa kabar? Tumben menelpon ku?" )


Erna menutup ponselnya. "Di angkat." Rama mengangguk dan ia melakukan hal yang di luar dugaan, melacak keberadaan ponsel Mario.


"Terus bicara sama dia dan kalau bisa bujuk supaya Mario mau menemui Nenek.


( "Kabar nenek baik, Mario. Nenek hanya ingin bertanya tentang Naina, apa kamu bersama Naina?" )


Belum ada jawaban dari sebrang sana, padahal Nek Erna menunggu jawabannya. Rama menggerakkan tangannya memberikan kode untuk terus bicara.


( "Padahal kalau Naina ada di sana, Nenek mau menikahkan kamu. Nenek merasa tidak ada yang lebih baik daripada kamu, Mario." )


Barulah Mario bersuara. ( "Emangnya kalau Mario menikahi Naina, nenek setuju dan akan menjadi saksi?" )


( "Tentu saja akan datang. Nenek yakin kamu yang terbaik dan nenek yakin Naina itu akan bahagia bersama kamu. Jadi apa Naina ada di sana?" )

__ADS_1


( "Sebenarnya ..." )


( "Oh iya, sekalipun Devan menolak, nenek akan membela kamu dan membiarkan kamu membawa Naina pergi dari sini. Kasihan Naina suka nangis kepikiran kamu. Sepertinya dia masih cinta sama kamu." )


( "Naina ada di sini, Nek. Kalau nenek mendukungku datang saja ke ..." ) Dan dengan mudah Mario bisa di bohongi sampai memberikan alamat tempat dia berada. ( "Cepat datang kesini karena aku akan menikahi Naina saat ini juga. Aku butuh restu nenek." )


( "Apa! Menikah hari ini? Ah maksud nenek, nenek akan kesana sekarang juga." )


Rama yang mendengar pekikan Erna di buat terkejut. "Aku harus cepat ke sana." Rama segera menaiki motornya kemudian memakai helm. Ia tidak mungkin membiarkan Naina menikah disaat sudah menjadi istrinya. Rama segera meluncur supaya pernikahan itu tidak terjadi. Bagaimana jadinya kalau terjadi di saat mempelai wanita sudah punya suami? Apa kata dunia dan agama? Begitu pikir Rama.


Dia juga menghubungi teman-temannya sambil menjalankan motornya. ( "Datang ke jalan mawar, komplek no 9 no rumah 25. Naina ada di sana, ini darurat." )


Erna segera mematikan sambungan teleponnya. Dan juga segera masuk mobil, tidak lupa juga menghubungi Kania dan Devan kalau Naina sudah di temukan.


*****


Di tempat Mario.


"Ini kabar baik, jadi Nenek Erna setuju dengan pernikahan ini. Itu artinya pernikahan ini akan berjalan begitu mudah." Mario tertawa senang rencananya akan berjalan lancar. Ini keinginannya untuk menikahi Naina, wanita yang ia cinta namun juga telah ia khianati sedemikian rupa.


"Baik Pak." Orang-orang yang Mario sewa secara paksa menurut begitu saja karena takut dicelakai olehnya.


"Bagus." Mario kembali berkeliling dan kali ini menyambut kedatangan penghulu yang akan menikahkan mereka.


"Permisi," sapa dua orang pria berpakaian batik sambil membawa tas kerja di ketiaknya.


"Ah bapak penghulu. Mari silahkan masuk, saya senang kalian datang tepat waktu." Mario terlihat ramah mempersilahkan penghulu itu masuk.


"Terima kasih, Pak. Tapi apa bisa acaranya dipercepat? Saya harus segera ke lain tempat karena ada waktu yang juga sama-sama harus menikahkan klien saya."


"Cepat-cepat? Apa tidak bisa menunggu dulu? Soalnya keluarga dari calon istri saya belum datang ke sini. Tunggu saja dulu, sepuluh menit saja."


Bapak penghulu itu nampak mempertimbangkannya. "Baiklah, saya akan menunggu sekitar dua puluh menit lagi."


"Itu ide yang bagus."


Merasa semuanya sudah siap, Mario ingin melihat Naina di kamar yang di sediakan untuk menyekap Naina. Dengan langkah lebarnya dan senyum terus menyelimuti bibirnya, Mario melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Setibanya di kamar itu. "Naina sayang,.kamu sudah siap belum?" Mario membuka pintunya, tapi ia tidak melihat keberadaan Naina. Yang ada hanya periasnya saja.


"Naina kamu dimana?" matanya ia edarkan, tapi tak bisa melihat sosok Naina.


"Dimana calon istri saya?" tanyanya pada perias.


"Dia ..."


"Dimana calon istri saya, hah!" sentaknya membuat perias itu terlonjak kaget.


"Dia ... dia ... kabur, Pak." Ujarnya sambil menunjuk jendela yang ternyata sudah terbuka.


Mario mendekati jendelanya, rahangnya mengeras dengan mata melotot merah. "Brengsek, beraninya dia kabur dariku. Dan kau, dasar bodoh biarkan dia pergi begitu saja."


Mario segera berlari keluar kamar ingin mencari Naina sebelum jauh dari sana. Ia yakin kalau Naina belum jauh. Mario tergesa mengambil mobilnya supaya bisa cepat mengejar Naina.


"Beraninya kamu kabur dariku, Nai. Tidak akan pernah ku biarkan kamu pergi dariku. Kamu hanya milikku dan akan menjadi milikku." Mario menjalankan mobilnya dalam kecepatan cukup tinggi. Matanya terlihat jelas sangat marah dengan urat di tangan menonjol menahan amarah.


Sedangkan Naina, ia tengah berlari menjauhi rumah itu. Sekuat tenaga ia kabur dari sana untuk menjauh dari rumah Mario yang di yakini pria itu akan mengejarnya.


Naina menengok kebelakang berharap Mario belum ada. "Ya Allah tolong aku. Aku tidak mau menikah dengannya." Kebaya yang ia kenakan mempersulit langkahnya sehingga Naina harus menaikan sedikit kain rok batik yang ia kenakan. Kabur tanpa alas kaki berpakaian pengantin membuat orang-orang menatap heran.


"Taksi, aku harus mencari taksi." Di daerah yang hanya kebanyakan komplek perumahan jarang sekali ada taksi di sana. Mau tidak mau, Naina harus terus berlari tanpa alas kaki di jalan aspal yang terasa membakar kakinya.


Tiiidd ... tiidd ...


Naina menoleh kebelakang, matanya terbelalak menyadari suara klakson itu dari mobil yang ia kenali. "Mario."


Tiidd ... tiiid ....


"Aku harus pergi!" Naina kembali menatap ke depan sambil berlari sesekali menoleh ke belakang. Hingga ia menyadari adanya motor dari arah depan dalam kecepatan tinggi menghampiri dirinya.


Matanya semakin terbelalak sempurna seakan ingin copot dari tempatnya. Naina memejamkan mata dan menutup kedua telinganya.


"Aaakkkhhh...."


Ckiiiiiitttt....

__ADS_1


__ADS_2