
Rasa yang sudah ada dalam hati Rama membuatnya tidak mungkin bisa melepaskan Naina begitu saja. Rasa yang memang mudah ia tumbuhkan untuk wanita halalnya kini bersemayam di relung hati. Tak bisa di pungkiri kalau dia mencintai Naina, istri tercintanya. Ya, Rama sudah terlanjur mencintai jodoh pilihan Tuhan.
"Aku tidak tahu," lirih Naina melepaskan genggaman tangan Rama dan ia kembali terisak kecil. Hatinya pun sama sudah menerima Rama dalam hidupnya, tapi ia juga memikirkan perasaan Alina yang juga terluka karena.
"Apa kamu pikir dengan merelakan aku pada adikmu kita bakalan bahagia? Apa kamu pikir dengan kamu ingin membuat aku dan Alina kembali semuanya akan baik-baik saja? Aku rasa tidak, Nai. Semuanya sudah berbeda, perasaanku, cintaku, kamu, aku Alina, semuanya sudah berbeda. Tidak akan mungkin bisa seperti dulu lagi."
"Tapi ..."
"Baiklah." Rama berdiri dari jongkoknya. "Aku tidak akan dulu mengganggu kamu. Pikirkan baik-baik ini semua karena apa yang kamu inginkan belum tentu bisa membahagiakan semua orang. Akan banyak hati yang terluka karena keputusan kamu. Untuk sementara waktu, aku akan menjauh dari kamu dan di saat aku tidak kembali pikirkanlah dengan baik. Namun hal yang harus kamu ketahui bahwa sesungguhnya aku telah mencintaimu. Kamu dan Nenek tinggal di sini, biar aku yang keluar dulu. Kita akan pisah ranjang sampai kamu sadar kalau kita tidak mungkin mengorbankan perasaan kita hanya untuk satu orang saja." Perlahan Rama mundur, ia pergi lagi dari sana.
"Rama ... Nek, Rama." Naina kaget kalau Rama meminta pisah ranjang. Hatinya teriris sakit kala tubuh tegap sang suami menjauh pergi. Apa ada yang salah dengan keputusannya? Apa ini sangat keterlaluan?
"Sabar sayang, Rama hanya memberikan kamu waktu untuk memikirkan semuanya. Dia tidak mau memaksakan semuanya disaat pikiran kalian tengah kacau. Namun, kamu harus tahu jika Rama tidak mungkin melakukan hal yang kamu inginkan. Pernikahan bukan mainan, Rama juga sudah berjanji dan memiliki prinsip untuk meringkas satu kali dalam hidupnya. Dia tidak mungkin udah melepaskan kamu begitu saja. Dan jika Rama gabungkan keinginan kamu, apa hatimu ikhlas? Apa hatimu bahagia melihat pria yang mungkin saja sudah kamu cintai bersama wanita lain dan itu adalah adikmu sendiri? Pikirkan diri kamu sendiri, Nai. jangan terus memikirkan orang lain sedangkan kamu terus saja tersiksa dan mengalah hanya karena satu orang yang selalu membuatmu mengalah. Tidak dengan rumah tanggamu, tidak dengan suamimu, pertahankan dia!"
Naina mendengarkan dalam Isak tangis pilunya. Ia bingung harus berbuat apa di saat hati dan pikirannya bertolak belakang.
*****
Bruuummm... Bruuummm...
Motor yang dikendarai Rama membelah jalan, tujuannya saat ini adalah bertemu pria yang sudah membuat kekacauan dalam rumah tangganya. Dia tidak akan mudah menyerah meski harus berhadapan dengan hukum. Demi memberikan pelajaran pada pria itu, Rama bertekad menemui rumahnya.
Masih dalam balutan seragam sekolah, Rama terus menjalankan motornya begitu cepat. Ia sudah menemukan Di mana alamat rumah Mario karena mudah baginya untuk mencari informasi tentang pria itu.
Sampai tiba di depan rumah bernuansa klasik, lalu Rama memarkirkan sembarang motornya. Dia turun kemudian bergegas menekan bel pagar rumah.
Ting .. Tong ...
__ADS_1
Berkali-kali dirinya menekan bel, dan barulah ada respon dari dalam rumah.
"Kamu siapa menekan bel begitu nyaring ganggu kenyamanan orang yang ada di rumah saja," kata wanita terlihat tua mungkin itu adalah ibunya Mario karena penampilannya terlihat cukup modis.
"Mana Mario, saya mau bicara sama dia!" Rama menerobos masuk tanpa dipersilahkan dulu. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu pria yang membuatnya darah tinggi.
"Hei! kalau bertamu ke rumah orang yang sopan. Ini rumah saya jadi kamu tidak boleh seenaknya masuk." Wanita itu marah, dia menghalangi Rama.
"Saya tidak peduli. Mario keluar Kau!" Rama berteriak memanggil Mario.
"Mau apa kamu mencari anak saya?"
"Untuk memberikan dia pelajaran karena sudah mencoba menghancurkan dan sudah menyebarkan sebuah fitnah terhadap keluarga saya."
"Apa? Jangan aneh-aneh kalau ngomong. Anak saya tidak mungkin begitu." Mamanya Mario tidak mempercayainya.
"Mungkin Anda akan shock ketika mengetahui perbuatan tercela anak Anda." Rama mengambil berbagai macam foto yang berada di dalam sakunya dan memberikannya kepada ibunya.
Mamanya Mario tercengang atas foto-foto tidak senonoh milik anaknya. Salah satunya adalah seorang wanita tua yang ada di kota B.
"Tidak mungkin ini anak saya? Dia itu anak baik, tidak mungkin melakukan ini."
"Mario, keluar kau!" Rama kembali menerobos masuk ke dalam rumah mencari sosok yang ingin Ia cari.
"Siapa yang sudah berteriak memanggil namaku?" ujar Mario menuruni anak tangga.
"Gue!" kata Rama langsung mendekati anak tangga ketika mendengar suara melihat orang yang ia cari sedang menuruni tangga.
__ADS_1
"Lo! Ngapain lu berada di rumah gue?"
Namun Rama sedikit berlari dan menerjang tubuh Mario. "Brengsek! Sudah gue katakan jangan pernah lagi mengusik kehidupan Naina, tapi lo tidak pernah mendengarkan apa yang gue katakan."
Bug.. Bug..
Rama memukul Mario tanpa api pun mengeluarkan segala macam amarah yang ingin Ia keluarkan dari tadi.
"Ini tidak seberapa dibandingkan atas fitnah yang lo lakukan terhadap Naina. Kali gue akan pastikan lo lama mendekam di penjara. Tidak akan ada kata ampun untuk manusia seperti lo. Mungkin kemarin lo bisa bebas kita jaminan dan perilaku baik lo selama di penjara, tapi kali ini gue akan pastikan kalau lama di penjara."
"Apa maksud semua ini, Mario?" pekik mamanya melemparkan foto-foto yang ia pegang tempat mengenai wajahnya Mario yang sedang berdiri di anak tangga dengan wajah babak belur.
Mario tercengang wajah dan beberapa wanita yang pernah ia puaskan berada di tangan mamanya. "Mah ini ..."
"Ck, lo tidak akan bisa berkutik lagi atas skandal yang lo perbuat. Lo pikir gue tidak tahu pekerjaan lo itu apa, seorang gigolo yang tugasnya memuaskan para wanita jal lang. Lo juga seorang penjual wanita." Rama menyeringai, ia tidak main-main lagi. Mungkin kemarin hanya diam dan mertuanya yang bergerak, tapi kali ini dirinya ikut bergerak mengumpulkan semua kejahatan Mario termasuk perdagangan manusia.
"Jadi ini kelakuan kamu, hah?" sentak Mamanya.
"Ini tidak benar, Mah." Mario mengelak, ia tidak menyangka kalau Rama bisa menemukan semua bukti-bukti yang pernah ia lenyapkan.
"Maaf Tante, saya terpaksa harus kembali mengusut kasus ini karena saya tidak terima dia mengusik lagi Naina. Dan saya pastikan kali ini dia bakalan di penjara dalam jangka waktu yang lama."
Mario mengepalkan tangannya dengan sorot mata tajam.
"Brengsekk!" Mario ingin memukul wajah tengil Rama, tapi Rama menghindarinya sehingga Mario tersungkur ke rantai.
"Saudara Mario." Tiba-tiba ada polisi datang ke sana.
__ADS_1
"Apa Anda yang bernama saudara Mario? Kami harus membawa anda ke kantor polisi."
"Gue tidak bersalah, sialan!"