
Sebagaimana seorang pembalap yang bisa menguasai motor, dalam keadaan jalan ramai pun Rama mampu mengatasi laju setiap kendaraan yang cukup padat. Dengan gaya yang selalu meliukkan tubuh dan kuda besinya, Rama menyalip setiap kendaraan.
Rasa ingin segera sampai ke tempat Naina, lebih mendominasi daripada apapun lagi. Takut tidak datang tepat waktu membuat Rama tidak ingin ada kejadian yang menimpa Naina. Di dalam perjalanannya, Rama terus berdoa untuk keselamatan semuanya. Keselamatan dia, Naina, dan hubungan yang baru terjalin diantara keduanya.
"Tidak akan ku biarkan siapapun melakukan hal yang tidak terduga padamu. Aku akan datang, Nai." Tangan Rama semakin menarik gas motornya.
Sesuai arah jalan yang dapatkan dari petunjuk jalan, Rama berhasil menemukan titik terang mengenai Naina. Dari jauh ia bisa melihat seorang wanita tengah berlari ketakutan dan ia merasa itu adalah Naina.
Semakin dekat, semakin jelas pula wajah yang ia cari. Di belakang Naina juga terdapat mobil berwarna silver sedang mengejar Naina. Rama melakukan aksi yang luar biasa, ia menambahkan kecepatan motornya menghadang mobil yang ingin mengejar Naina. Dia memalangkan motornya dalam sekali gerakan, kaki yang begitu cepat menurunkan standar motornya.
Ckiiiiiitttt...
"Aakkhh..." jerit Naina.
"Ramaaa!" teriakan Deni dan Rian jelas menggema di sekitarnya. Keduanya juga berhasil menemukan titik keberadaan Naina sesuai alamat yang Rama berikan.
Rama sendiri segera turun dan menarik Naina ke pinggir karena ia tahu jika mobil itu tidak akan terkendali. Dan benar saja, motor Rama terhantam mobil, barulah mobil yang di kenakan Mario terhenti.
Nafas Naina begitu memburu dalam dekapannya Rama. Ia masih syok dengan kejadian barusan yang di luar dugaannya.
"Kamu tidak apa-apa? Apa dia melakukan tindakan kasar sama kamu?" Rama menangkup kedua pipi Naina, menatap intens bola mata bening itu. Reaksi Naina sungguh tak terduga. Wanita itu justru memeluk erat tubuh pria yang ia harapkan datang menyelamatkannya.
"Aku takut, dia ... dia mau menikahi ku. Aku tidak mau."
"Tidak akan ada yang bisa mengambil kamu dariku." Rama kembali memeluk Naina.
"Kalian tidak apa-apa?" Deni dan Rian menghampiri keduanya. Rama menggelengkan kepalanya.
"Brengsek! Beraninya kau memeluk calon istriku." Mario tidak terima, dia tiba-tiba memukul Rama tanpa di ketahui oleh mereka saking fokusnya pada Naina.
Bug!
"Akkhhh." Naina kembali menjerit. Rama tersenyum sinis, ia mendelik tajam.
"Lo yang apa-apaan hah!" Deni dan Rian mencekal kedua tangan Mario.
"Lepaskan gue! Tidak akan ku biarkan kalian membawa Naina pergi! Lepaskan!" Mario berontak dari Deni dan Rian.
__ADS_1
"Heh! Kita tidak akan melepaskan lo. Enak saja mau lepas setelah mencoba menculik Naina. Emangnya lo siapa? Cuman mantan!" kata Rama.
"Ada pepatah mengatakan buanglah mantan pada tempatnya. Jadi mantan itu tempatnya di tong sampah," kata Rian.
"Dan lo sudah tidak ada urusan lagi sama Naina, wahai mantan!" kata Deni.
"Kalian semua jangan ikut campur! Ini urusan gue dan Naina itu calon istri gue. Jadi gue berhak melakukan apapun kepadanya termasuk membawa kabur dari sini! Lepaskan gue!"
Naina yang ada di sana menunduk dengan tubuh gemetar takut. Ia kembali teringat perkataan Mario yang sudah menjelajahi tubuhnya.
"Jadi kamu yang sudah menculik Naina?" ucap seseorang. Mereka menoleh, itu adalah Devan, Kania dan Erna. Mereka tiba secara bersamaan dan melihat Mario sedang di cekal.
Mario mendorong Deni dan Rian sekuat tenaganya. "Om, aku tidak pernah ada niatan menculiknya. Aku hanya ingin menikah dengannya."
Naina menghambur memeluk Kania dan Erna. Dia menangis dalam dekapan kedua wanita beda usia itu.
"Kamu gila, ya? Saya tidak akan pernah menyetujui Naina dengan pria seperti kamu!"
"Sayangnya aku tidak peduli!"
"Brengsek!" seru Rama ingin memukul Mario, tapi Devan merentangkan kedua tangannya menghalangi Rama.
"Kalau tidak saya yang menikahinya tidak akan ada pria yang mau menikahinya." Mario tersenyum menyeringai.
Deg.
Naina tertegun, ia menggelengkan kepalanya menolak keras kalau dia pernah di sentuh.
"Apa maksud mu bicara seperti itu?" tanya Kania.
"Asal kalian tahu, Naina sudah tidak suci lagi, aku sudah menyentuhnya dan tidak akan ada pria yang mau sama dia hahaha, tidak akan ada!" kata Mario membuat suasana menegang.
Devan terdiam dengan pikiran kacau, hati yang sakit, dan juga tidak percaya. Namun dua hari tidak pulang membuat pikirannya berpikir negatif.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" pekik Naina histeris. "Kau berbohong!"
Rama mengepalkan tangannya tersulut emosi. "Jaga mulut sampahmu itu, sialan!" sentaknya masih menahan diri untuk tidak memukul Mario atas halangan yang dilakukan Devan.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong, Naina sayang. Kamu ingin lihat buktinya?" Mario mengeluarkan ponselnya dia menunjukan sebuah foto.
"Lihatlah, ini adalah kita!" Dia tersenyum menyeringai menunjukan foto dia dan Naina yang berada dalam satu selimut yang sama. Dimana Naina sedang terpejam.
"Ya Tuhan!" Kania membekap mulutnya, Erna terbelalak. Dan Naina merasa hancur melihatnya. Hidupnya merasa tidak berguna lagi, ia pun menatap Rama yang juga menatapnya. Naina menggelengkan kepalanya seraya menangis.
Tapi Deni dan Rian malah diam merasa tidak percaya.
"Gue yakin ini hanya trik dia saja. Kalau Naina sudah tidak suci, jalannya bakalan terpincang-pincang macam pinguin," kata Rian berbisik ke Deni.
"Diam kau! Kita lihat saja apa yang akan di lakukan Rama. Gue yakin Rama tidak sebodoh itu."
"Betul, kita percaya sama pilihan si Bos tidak akan salah."
Terlihat amarah Rama semakin memuncak. Secepat kilat ia mengambil ponselnya Mario dan melemparkannya hingga ponsel itu hancur!
"Bajingann! Beraninya lo menyakiti dia!"
Bug! Bug!
Dia pukulan mendarat sempurna di wajah Mario sampai pria itu tersungkur ke lantai.
"Apa urusanmu, hah? Kau menghancurkan ponselku. Kau itu hanya orang asing. Dan sekalipun kalian semua memukul ku, itu tidak akan pernah menghilangkan kenyataan kalau akulah pria yang sudah menggauli Naina.
"Diam!" Rama menerjang dada Mario dengan amarah yang terlihat jelas. Hal itu membuat Devan terhenyak penuh tandanya.
"Mulut sampah mu tidak pantas menyebut nama Naina. Seharusnya lo di seret ke penjara, tapi sayang, ku tidak akan melakukan itu, tapi di belakang ..." Rama menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. "Lo akan habis!"
"Percuma kau bicara karena tidak akan ada yang mau menikahi wanita ternoda sepertinya selain aku."
"Pasti ada!" Jawab Devan begitu tegas. "Akan da pria yang mau menikahi putriku yang tidak sempurna itu, tapi bukan kamu."
"Siapa om? Siapa yang mau sama wanita tanpa mahkota seperti Naina? Yang ada semua pria yang mau menikahinya berpikir kembali."
"Aku yang akan menikahinya!" jawab Rama terdengar tegas dan juga yakin seakan tidak ada keraguan dalam dirinya untuk menerima segala kekurangan Naina.
Deg.
__ADS_1
"Rama!"