Secret Marriage ( Rama & Naina )

Secret Marriage ( Rama & Naina )
Bab 94 - End


__ADS_3

Kabar kehamilan Naina di sambut Suak cita oleh keluarga. Kedua orangtuanya Naina sangat senang dan juga ikut terharu atas kehamilan Naina. Berulangkali Kania, Erna dan Devan mengucapkan selamat, memeluknya serta memberikan wejangan untuk tidak stress memikirkan banyak hal.


"Sekarang jangan banyak pikiran lagi, ya. Jangan banyak nangis lagi karena sekarang Rama ada di sini bersama kamu. Mungkin cobaan kemarin adalah cobaan dimana kalian akan mendapatkan momongan. Dan Allah telah menunjukan jalan kalau kalian harus bersama," kata Devan bijak. Melihat bagaimana Rama bertanggungjawab atas diri Naina meskipun usianya terbilang muda, tapi Devano bisa melihat kedewasaan dan juga tanggungjawab yang luar biasa. Tidak ada kata lain selain merestui hubungan Naina dan Rama.


"Iya, Pah. Makasih sudah sayang sama Naina." Naina tersenyum sambil memeluk lengan papanya yang ada di sebelah kiri dan Rama yang ada di sebelah kanannya.


Namun berbeda dengan Restu yang berwajah murung karena ia baru tahu kalau ternyata Rama seseorang yang sukses tanpa dirinya. Dia baru tahu rumah Rama yang sekarang, dia juga baru tahu kalau Rama memiliki perusahaan game dan itu sangat mencengangkan bagi dirinya yang hanya seorang penjual bahan bangunan. Jika dibandingkan dengan penghasilan Rama per bulan, Rama lah yang paling sangat banyak.


"Papa minta maaf." Tidak ada kata gengsi dan keras kepala lagi yang Restu pikirkan. Hidupnya yang terus merasa sedih dan juga kesepian memilih untuk tidak egois demi kebahagiaan mereka bersama.


"Tidak apa-apa, Pah. Lupakan semua itu kita harus mementingkan masa depan daripada masa lalu yang belum tentu bisa kembali di masa depan. Semuanya sudah berubah dan semuanya harus menata hidup di masa depan. Rama mungkin sering bandel dan terkadang suka kasar, tapi dalam hati Rama begitu menyayangi papa dan juga keluarga. Rama hanya kurang suka di paksa saja."


"Sekali lagi Papa minta maaf." Restu benar-benar merasa bersalah. Dia tidak akan lagi mengulangi perbuatannya untuk menjalin hubungan lebih baik lagi dengan kedua anaknya. Apalagi sekarang ada menantu dan juga calon cucu yang mungkin saat ini akan menambah bahagianya.


******


Tiada hal yang Rama inginkan selain hidup tenang bersama keluarga kecilnya. Permasalahan dalam hidupnya mulai ia bereskan satu persatu meski terkadang yang namanya masalah pasti akan ada sana.


Namun, sejak Rama di keluarkan dari sekolah, Rama memilih fokus pada keluarga kecilnya dan juga pekerjaannya. Tapi ia juga berencana untuk mengambil paket C untuk mendapatkan ijazah sekolah menengah atas. Keluarganya mempercayakan setiap keputusan pada Rama karena mereka yakin kalau Rama mampu melewatinya dan mampu mengatasinya.

__ADS_1


Untuk Alina, gadis itu berada di pondok pesantren yang ada di sebuah desa kecil dan tidak di perbolehkan pulang sebelum orangtuanya yang menjemput.


Kehidupannya bersama Naina juga lebih baik dan selalu terlihat romantis dan juga tidak seperti dua orang yang beda usia. Namun mereka justru terlihat seperti pasangan yang ideal dan juga sama-sama serasi karena terlihat seumuran.


Rama merasakan pergerakan tubuh seseorang. Ia yang tadinya terpejam membuka matanya mendapati sosok wanita yang sedang gulang-guling tidak bisa tidur.


"Kamu kenapa belum tidur?" Rama memeluk pinggang Naina dan mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Hmmm aku menginginkan sesuatu," lirih Naina ragu-ragu untuk mengatakan keinginannya. Namun ia tidak bisa menahan gejolak rasa yang ia rasakan dari tadi bersama suaminya.


"Mau apa? Bilang sama aku nanti aku belikan."


Rama mengernyit, ia menekuk sikutnya dan menggerakkan tubuh Naina menjadi terlentang.


"Lalu mau apa? Katanya kamu mau sesuatu."


Tapi Naina mendadak malu meski demikian sangat menginginkannya. Dia menggigit bibir bawahnya dengan sorot mata yang memancarkan kerinduan.


"Mau apa, sayang?"

__ADS_1


"Aku .. Aku .. Aku kangen kamu," lirihnya.


Rama diam sejenak, dia mencerna setiap kata yang keluar dari bibir istrinya. "Sama, aku juga kangen kamu."


"Bukan hanya itu, ah kamu mah tidak peka." Naina memberenggut manyun sambil memalingkan wajahnya.


Rama tersenyum. Ia mengusap lembut pipi Naina, memegang dagunya dan mengarahkan padanya hingga kini mata mereka saling beradu pandang.


Rama tidak banyak bicara, ia malah memberikan sebuah kecupan mesra untuk istrinya. Dia memberikan apa yang Naina mau karena iapun sama-sama merindukan Naina.


Tiada kata untuk menggambarkan sebuah perasaan mereka, tiada satupun yang mereka lewati, dan tidak ada yang menginginkan menyurati setiap sentuhan memabukan. Dua sejoli ini kembali berkarya dalam lautan cinta penuh damba meski mereka tidak akan tahu apa yang terjadi esok hari.


Tapi, yang namanya kehidupan akan terus berjalan dan akan terus banyak rintangan menghadang. Namun, mereka sudah berkomitmen satu sama lain untuk selalu menyelesaikan segalanya dalam kepala dingin. Yang namanya kehidupan tidaklah mulus. Akan ada hambatan, Lika liku, sepak terjangnya sesuai ujian yang Tuhan berikan.


Baik Rama dan Naina akan menjalani kisah rumah tangga mereka versi mereka sendiri. Dan keduanya pun kini hidup bahagia bersama keluarga dan juga calon anaknya.


TAMAT...


Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Tanpa kalian semua aku bukanlah apa.

__ADS_1


__ADS_2