
Rasa amarah menyelimuti diri Rama. Rasa kesal karena kelakuan Alina membuat Rama di buat murka. Dia sudah memperingati Alina untuk tidak mengusik kehidupannya, tapi kini Alina tidak mendengarkan setiap peringatannya.
"Rama lo mau kemana? Itu Naina pergi sendirian." Deni khawatir pada istri bosnya. Biasanya seorang wanita butuh perhatian dan pelindung di saat hatinya gelisah.
"Ram, lo jangan berbuat gila. Lebih baik Naina lo kejar supaya dia tidak kenapa-kenapa," kata Rian yang juga ikut menahan Rama. Mereka tahu sikap Rama saat sedang dalam marah. Rama akan berbuat sesuatu yang mungkin bisa membuat musuh menyesal.
"Naina bakalan aman dengan orang-orang yang sudah gue perintahkan untuk melindungi dia. Gue juga yakin kalau Naina bakalan pulang ke rumah. Saat ini yang ahrus gue lakukan adalah memberikan Alina pelajaran tanpa melihat siapa dia." Rama tidak bisa lagi berdiam diri di saat rumahtangganya terusik oleh orang-orang di masa lalu mereka.
Dia segera ke kelasnya dan tiba-tiba menggebrak meja.
Brak!
"Sudah gue katakan untuk tidak mengusik gue dan Naina, tapi lo tidak mendengarkan gue!" sentaknya tanpa peduli siapa Alina dan tanpa peduli orang di sekelilingnya.
"Ra-Rama a-aku ..." Alina tidak pernah melihat Rama marah besar, wajahnya pun mendadak pucat dan bibirnya terasa Kelu sulit berucap.
"Gue tidak butuh pembelaan lo, sialan! Sekarang lo ikut gue!" Rama menarik tangan Alina secara paksa.
"Rama ini masih jam ..."
"Kalian semua diam! Ini urusan gue dengan wanita calon pelakor ini. Masih kecil sudah berusaha menjadi pelakor, gak tahu diri!" Dan seketika teman-teman Rama yang lain bungkam. Mereka takut melihat sorot mata merah yang terpancar dari matanya Rama.
Pria itu juga menendang bangku yang menghalangi langkahnya tanpa sedikitpun berhenti dari langkahnya.
"Aw! Rama sakit." Alina meringis kesakitan ketika cekalan Rama begitu kuat.
*****
Kediaman Devano.
Bruk!
__ADS_1
Rama Todak tinggal diam, dia menghempaskan tangan Alina sampai gadis itu terjatuh ke lantai. Meski Alina menangis sesenggukan ia tidak peduli.
"Ya Tuhan, Alina!" pekik Kania yang kebetulan ada di teras depan sedang merawat taman miliknya.
"Kamu kenapa menangis? Dan kamu Rama, kenapa bisa Alina begini?" Kania bingung, tiba-tiba Alina memeluk Kania.
"Ada apa ini?" Devano yang kebetulan juga belum berangkat kaget Alina menangis.
"Kebetulan Papa dan Mama ada di sini. Saya ingin memberitahukan apa yang telah Alina lakukan. Kali saya tidak akan tinggal diam lagi setelah dia mengusik ketenangan rumah tanggaku!" Rama menunjuk wajah Alina dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Apa yang Alina lakukan pakai kalian? Kenapa juga kamu marah begini?" kata Devan.
"Dia sudah bekerja sama dengan Mario untuk mengusik aku dan Naina." Rama juga menjelaskan semua yang terjadi di sekolah hari ini. "Dan kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi. Maaf Mah, Pah, kalian urus dia dengar benar, kalau perlu pindahkan dia dari sini. Saya sudah muak melihat kelakuan Alina yang sudah keterlaluan ini. Kalau kalian berdua tidak bertindak maka jangan salahkan saya membawa dia ke jalur hukum tanpa peduli siapa Mama dan Papa."
Lalu Rama pergi dari sana setelah memberikan peringatan lagi pada Alina dan kedua orangtuanya.
"Apa benar yang Rama katakan, Al?" tanya Devan terlihat mengepalkan tangannya.
"Mas!"
Devan mengangkat tangannya memberikan kode supaya istrinya tidak ikut campur dulu.
"Hiks hiks hiks, Pah. Alina ..."
"Jawab yang jujur!" sentak Devan mencengkram kuat bahu putrinya.
"Seharusnya aku yang ada di posisi Kak Naina sekarang, seharusnya aku yang memiliki Rama bukan Kak Naina!" jawab Alina dalam Isak tangisnya memberitahukan apa yang ia pikirkan.
Plak!
Satu tamparan keras Kania layangankan pada Sang Putri untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu sudah berbuat salah, Alina. Tindakan mu salah, pantas saja Rama marah besar sama kamu. Kamu mikir dong, apa yang terjadi di dunia ini atas kehendak Tuhan. Rama menikah dengan kakak kamu itu karena mereka berjodoh dan kamu dengan bodohnya mengikuti nafsu syetan kamu itu. Mama kecewa sama kamu Alina, mama kecewa. Mama tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbuat jahat kepada saudaramu sendiri. Mama tidak pernah mengajari kamu mengambil hak orang lain. Tapi kali ini kamu keterlaluan!" Kania sampai meneteskan air mata saking malu atas tindakan yang dilakukan Alina.
"Mah ..." Alina tertegun.
"Apa pernah Naina meminta apa yang kamu miliki? Apa pernah Naina egois? Dia selalu mengalah kepadamu bahkan dia selalu merelakan apapun yang dia miliki demi kamu. Dan apa yang kamu lakukan, kamu selalu saya menginginkan apapun yang kakak kamu miliki. Kamu egois, kamu serakah, kamu tidak pernah memikirkan perasaan kakak kamu. Dia yang tidak lahir dari rahimku selalu mengerti kota semua dan selalu berbuat baik terutama pada kamu. Tapi kamu, kamu yang lahir dari rahim mama memiliki sifat seperti ini. Apa salah mama sampai kamu memiliki sikap jahat? Apa salah mama? Kalau sampai kakak kamu meminta bercerai dari Rama, demi Tuhan mama marah sama kamu dan mama tidak mau menganggap kamu anak mama lagi!" Kania memarahi Alina habis-habisan. Ia tidak bisa percaya kalau dia telah melahirkan anak yang sangat jauh dari apa yang ia inginkan. Sifat Alina bertolakbelakang dengannya dan dengan keluarga suaminya. Kania merasa gagal mendidik putrinya sendiri.
Duarr!
Alina terhenyak, orang yang ia sayang bicara seperti itu. Dia tidak percaya atas apa yang barusan ia dengar. "Mah, a-aku ... Hiks hiks hiks maaf."
"Kali ini Papa juga tidak bisa diam lagi. Papa akan memindahkan kamu ke desa terpencil, jauh dari kota. Papa akan mengungsikan kamu ke tempat nenek buyut mu."
"Tidak, aku tidak mau. Tolong maafkan aku, Pah, Mah. Alina minta maaf." Alina bersujud di depan kedua orangtuanya. Ia tidak mau di ungsikan ke tempat terpencil. Ia juga menyesal telah membuat mamanya marah dan ini pertama kalinya kedua orangtuanya marah besar.
Namun keputusan Devan tidak akan bisa di ubah. Jika Devan sudah berkata maka tidak akan ada perubahan.
*****
Lain halnya dengan Naina yang sedang menangis tersedu dalam pelukan neneknya.
"Aku merasa jahat, Nek. Alina begitu karena aku, karena aku yang sudah merebut Rama. Seharusnya aku tidak menerima pernikahan ini, Nek. Aku salah, aku telah menyakiti adikku sendiri. Aku egois, Nek." Naina merasa bersalah mengenai sikap Alina. Ia juga menceritakan semua yang terjadi pada Neneknya.
"Nai, ini bukan salah kamu. Ini adalah salah Alina sendiri dan ini adalah ujian untuk pernikahan kalian berdua. Jangan pernah merasa bahwa kamu yang salah. Kamu tidak melakukan apapun, kamu hanya menerima garis takdir. Ini semua cobaan buat hubungan kamu dan juga. Jangan menangisi sesuatu yang sedang dah terjadi, Nai." Erna yang mendengar curhatan hati cucunya merasa geram. Ia tidak menyangka kalau Alina akan melakukan hal ini pada kakaknya sendiri. Sungguh Erna tidak pernah mendidik cucunya perbuatan jahat.
"Tidak Nek, ini salah aku. Seandainya aku tidak menikah dengan Rama maka tidak akan banyak hati yang terluka."
"Lalu kalau kamu tidak menikah denganku maka semuanya akan baik-baik saja? Aku juga tidak yakin tidak ada yang terluka," kata Rama yang sudah ada di sana. Naina melepaskan pelukannya, ia langsung menunduk dan masih terisak.
Rama berjongkok di hadapan Naina, lalu ia menggenggam tangan Naina. "Dengarkan aku! Meskipun kamu tidak menikah denganku akan ada hati yang terluka juga. Dan hubungan kamu dengan Mario pun tidak akan mungkin bahagia, tentu hal itu akan ada yang terluka yaitu Kamu, keluargamu bahkan kita semua. Ini sudah jalan takdir kita yang memang harus begini."
"Tapi aku tidak bisa menyakiti hati Alina lagi. Dia sangat mencintaimu," lirih Naina.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan ku yang sudah terlanjur mencintaimu?"