
Kediaman Devano.
"Mas, kamu mau kemana pagi-pagi gini udah rapi?" tanya Kania melihat suaminya sudah rapi dengan jaket jeans yang di kenakannya.
"Pagi ini Mas mau ke daerah Kuningan, mau melihat toko yang ada di sana. Sekalian juga mau mengambil uang yang ada di brangkas. Nantinya uang itu mau aku sumbangkan ke panti."
"Harus pagi ini juga? Kan bisa besok siang kesannya. Ini baru saja adzan subuh." Kania khawatir pada suaminya.
"Iya, Pah. ini masih pagi banget. Mana papa sendirian lagi. Alina juga khawatir."
"Mending kamu ikut sama papa saja, Na. Temani papa," kata Kania.
"Tidak usah. Mas bisa sendiri."
"Alina ikut papa saja. Siapa tahu nanti papa capek nyetir dan Alina bisa ngantiin papa."
"Iya, Mas. Alina benar juga. Kami pergi malam ini dan Alina ikut kamu." Kania tidak ingin suaminya pergi sendiri.
"Ya sudah, Alina boleh ikut sama papa."
*****
Keesokan harinya di rumah Deni.
"Selamat pagi, Tante, om." Rama menyapa ibunya Deni yang sedang memberikan kopi kepada om Arman.
"Pagi, tumben sekali pagi-pagi begini sudah keluar kamar." Padahal waktu masih pukul lima pagi hari, tapi Rama sudah bangun lebih dulu sedangkan kedua temannya masih saja tidur.
"Iya, Om. Rama mau pamit pulang dulu. Mau memberitahukan perihal nanti sore." Sekalipun orangtuanya tidak akan datang, tapi Rama tetap akan memberitahunya dan sekalian meminta izin juga buat balapan. Tapi bukan balapan liar ya, balapan resmi antar kecamatan.
Papa dan mamanya Deni tersenyum lembut. "Semoga papa kamu mau datang, ya. Kami hanya bisa berdoa buat kebaikan kamu."
"Makasih, Tante, om. Kalau gitu Rama permisi dulu." Rama pun mencium tangan kedua orangtuanya Deni, kemudian berpamitan pergi.
*****
Di tempat yang berbeda.
Ckiiit...
Devano terkejut kala mobilnya di hadang oleh seseorang yang entah siapa.
"Astaghfirullah!" Alina yang ada di dalam mobil sampai terbentur ke depan saking kencangnya rem dadakan itu.
__ADS_1
"Ya Allah Alina, kamu tidak apa-apa kan?"
"Pah, Alina tidak apa-apa. Tapi mereka mau apa?" Alina memperhatikan orang-orang yang memakai penutup wajah turun dari motor. Kebetulan tempat yang mereka lewati begitu sepi dari keramaian dan perumahan.
"Papa juga tidak tahu. Kamu tunggu di sini, ya."
"Pah jangan ..." Namun, Devano sudah lebih dulu keluar mobil.
"Mau apa kalian?" tanya Devan pada orang yang menghalangi jalannya.
"Serahkan uang kalian!" pinta orang itu yang ternyata begal di pagi hari.
"Tidak akan!"
*****
Sepanjang jalan, Rama berharap kali ini ayahnya mau datang mendukung. "Mudah-mudahan papa mau melihatku bertanding."
Tetapi, pas di perjalanan pulang tepat di jalanan sepi yang ia lewati. Rama melihat sebuah mobil di cegat oleh kendaraan lain dan orangnya sedang di todong menggunakan senjata tajam.
"Minggir kalian! Aku tidak akan memberikan uang ku."
"Maka jangan salahkan kita menghajar mu." Dua orang menyerang satu orang dan berusaha untuk mengalahkan pemilik kendaraan mobil. Pria itu tersungkur kalah dengan luka di tangan terkena sebetan pisau.
"Ini tidak bisa di biarkan." Dan Rama segera memarkirkan motornya, lalu berlari ke arah mereka.
"Woy, berhenti kalain!"
Bug ... Bug.
Rama menerjang salah satu pria yang hendak membuka pintu mobil dan yang hendak memukul Devan mendongak
"Brengsek, siapa lo anak kecil? Beraninya mengganggu kegiatan kita."
"Gue bukan siapa-siapa, Bang. Tapi apa yang lo lakukan salah, jadi jangan salahkan gue jika gue ikut bertindak." Rama membantu orang itu untuk duduk. Ia terbelalak saat mengetahui siapa orangnya.
"Om! Om kan papanya Alina?" ujar Rama penuh keterkejutan.
"Kamu.." Devan ingat jika pria ini yang mengantarkan Alina pulang.
Lalu, Rama membantu Devan berdiri. Dan ia berdiri lagi di hadapan para dua orang yang sedang mengincar.
"Kalian pasti begal kan?" ujar Rama.
__ADS_1
"Halah, banyak bacot lo ...." Dan kedua orang itu menyerang Rama karena tidak terima kegiatannya di halangi oleh Rama.
Alina juga terkejut ada Rama di sana dan menolong papanya. "Rama," lirihnya teringat kembali pada kejadian yang memaksa mereka menikah.
Rama berusaha mengelak, ia membungkukkan tubuhnya lalu meninju salah satu perut dari pria yang ingin meninjunya. Dia juga menendang orang satunya lagi.
Bug ... bug.
Satu lawan dua, bukan pertandingan seimbang. Namun, bukan Rama namanya jika tidak bisa mengalahkan dua orang saja. Setelah beberapa saat perkelahian terjadi, kedua orang itu terkapar lemah jatuh tersungkur.
"Sialan, kau. Ayo kabur!" ucap salah satu darinya sambil memegangi perutnya. Lalu, kedua orang itu pun kabur begitu saja karena tidak bisa mengambil harta berharga milik Devan.
Rama segera berlari mendekati Devan yang sedang berdiri memegangi pangkal lengan yang berdarah.
"Om, om tidak apa-apa?" Rama pun mencoba mencari sesuatu untuk menutupi luka sayatan dari senjata tajam. Karena tidak menemukannya, Rama melepaskan kemejanya dan merobeknya. Lalu, ia lilitkan ke lengan Devan agar darahnya tidak keluar terus.
Alina langsung keluar menghampiri papanya.
"Pah, Alina takut." Alina memeluk papanya terisak kecil.
Rama melihatnya, ia kaget Alina ada di sana. Ia pikir tidak ada Alina, istrinya.
"Om tidak apa-apa, anak muda. Terima kasih sudah mau menolong Om. Jika kamu tidak datang tepat waktu, pasti barang berharga kami sudah di ambil mereka." Balas Devan sambil memperhatikan wajah Rama, tapi tangan mengusap lembut pundak putrinya.
"Papa tidak apa-apa sayang," ucap Devan menenangkan putrinya.
"Tidak apa-apa bagaimana, Pah. Papa terluka."
"Papa gak apa-apa, ini hanya luka kecil saja."
"Lagian aku heran, kenapa pagi-pagi begini ada begal segala? Mana ini tempatnya sepi."
"Om juga tidak tahu sama sekali jika tempat ini ada begalnya. Tapi sekali lagi makasih sudah membantu om."
"Sama-sama, Om. Aku senang bisa membantu Om. Lain kali hati-hati, Om." Rama memperingati Devan untuk hati-hati. Ia yang sering kali melewati sana memang sering melihat para begal beraksi, untungnya Rama memiliki ilmu bela diri yang tinggi. Jadi, memudahkan baginya untuk melindungi diri.
"Ok, sekali lagi Om berterima kasih." Devan mengakui kepandaian Rama dalam berkelahi. Meski terlihat masih muda, tapi Rama begitu kuat dan juga ramah.
Namun, di saat seperti ini, ada mobil tiba-tiba berhenti tak jauh darinya. Rama maupun Devano dan Alina memperhatikan mobil itu, mobilnya pun terlihat seperti mobil polisi. Meski mereka heran, keduanya nampak santai agar tidak terlihat panik.
"Permisi, kami dapat laporan adanya begal di sekitar sini. Dan Anda, kami tangkap atas kasus kekerasan." Orang itu tiba-tiba mencekal lengan Rama.
Rama mengerutkan keningnya, Alina dan Devan terbelalak, mereka tidak mengerti kenapa jadi Rama yang di tuduh begini.
__ADS_1
"Pak, Bapak salah paham. Saya bukan begalnya, Pak. Begalnya sudah lari jauh."