
Amora terlihat sangat cantik dengan balutan busana pengantin yang panjangnya menjuntai ke belakang hingga bermeter-meter. Bagian atasnya memiliki belahan dada yang lumayan rendah, menampakkan lekuk indah milik Amora. Amora yakin gaun yang dipakainya harganya pasti ratusan juta. Semua terasa begitu nyaman ketika menempel di badan, menambah rasa percaya diri Amora semakin tinggi.
"ck ck, Kau memang sangat cantik Nay, tapi sayang kamu murahan. Aku kira kamu akan lari dari kamar ini dan kabur bersama selingkuhan mu itu, tapi nyatanya kamu tidal melakukannya," ledek Flora sambil menatap Amora dari pantulan cermin.
Amora lega wanita yang ada di belakangnya tidak mengenali dirinya. Itu artinya yang lain juga tidak akan mengenalinya karena cadar yang menutupi wajahnya.
Saat Aunty dan Uncle tiba Amora tidak menyapa, tentu Amora tidak kenal, setelah malam Belvan menyapanya dan berbicara panjang lebar Amora baru mengerti, akan tetapi Aunty maklum, mengira keponakannya sedang nervous saja.
Amora berjalan keluar kamar diapit dengan calon ibu mertua dan calon Kakak ipar. Flora pura-pura tersenyum kepada semua orang tapi di dalam hati dia sungguh kesal pernikahan ini tetap saja terjadi.
Melihat Amora turun menapaki tangga. Belvan segera menghampiri calon istrinya. Belvan tak henti hentinya tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya keinginan untuk memenangkan Nayara berhasil.
Belvan mengulurkan tangan dan segera disambut oleh Amora yang sedang menjadi Nayara. Belvan dan Amora berjalan pelan menapaki tangga satu persatu.
__ADS_1
"Nay, aku bahagia sekali hari ini akhirnya tiba." Belvan meremas tangan Amora di genggamannya.
Amora diam, tak sepatah kata pun menjawab karena takut suaranya akan dikenali oleh Belvan.
Belvan menatap sorot mata Amora yang dirasa sedikit berbeda dengan Nayara. Akan tetapi Belvan yakin ini pasti pengaruh riasan dan bulu mata yang dipakai Nayara terlalu berlebihan.
"Nayara duduk di sebelah Belvan. Prosesi pernikahan segera berlangsung singkat padat dan hikmat. Para tamu undangan duduk rapi tak ada yang berani bergeming ketika ucapan ijab berlangsung.
Setelah ijab selesai Belvan segera mencium kening Amora dan hendak melepas cadarnya. Tapi Amora segera menahan tangan Belvan. Amora menggelengkan kepala tanda nanti saja.
Mereka memberi kesempatan malam yang panjang untuk kedua mempelai berbahagia.
"Nay, aku sudah tak sabar." Bisik Belvan ditelinga Amora.
__ADS_1
Amora tersenyum membuat Belvan lega. Belvan mengira Nayara juga sama dengannya. Tidak sabar untuk ritual yang satu itu.
Padahal Amora sungguh gusar menghadapi malam ini. Tapi sekali lagi dia menguatkan hatinya kalau ini keinginannya, dia yang memutuskan sendiri tanpa berunding dengan siapapun. Dia yang merencanakan Nayara untuk kabur dan tidak akan pernah kembali tepat waktu. Dia juga merencanakan akan membuat Belvan yang sangat dia benci itu akan jatuh cinta padanya. Dan dia juga yang ingin Morgan dan Nayara bersatu.
"Amora tamu sudah habis, apa sebaiknya kita langsung menuju acara inti."
'Dasar lelaki mesum.' batin Amora.
Amora mengangguk dan Belvan segera menggendongnya. "Aaaaa." Amora memekik.
Amora segera menutup mulutnya. Suaranya yang keras dan melengking terdengar sampai telinga Belvan.
"Honey, kenapa suaramu." Tanya Belvan.
__ADS_1
"Ehm, ehm …. Tidak apa-apa. Aku hanya flu." Amora mulai meniru gaya bicara Nayara.
****