
"Ahhh" Briana puas setelah berhasil keluar. Bibirnya tersenyum sambil melihat sosok lelaki keturunan bule yang ada dilayar monitornya.
Setelah berhasil mencapai puncak Briana segera mengambil handuk dan akan segera menemui makluk yang ingin ditemui pertama kali.
Tuti segera menyiapkan baju untuk Briana dan memakaikan seperti seorang ratu.
Sebelum baju melekat ditubuhnya Tuti juga membalurkan lotion di sekujur tubuhnya.
Asisten lain membawakan sarapan dan menyuapinya. Briana selalu bersikap arogant dan semena-mena setiap kali Morgan tak ada di rumah.
Briana juga tak segan memarahi atau menampar wajahnya jika mereka bersikap tidak sesuai harapan.
Para asisten ingin pulang kampung, tapi hutang di keluarga Morgan sudah terlalu tinggi. Terpaksa mereka memeras tenaganya dengan bekerja di mansion Morgan.
"Cepat sedikit Tuti, atau aku akan memukulmu."
"Baik Nona, maaf aku kurang enak badan."
"Apa? pergilah aku khawatir kau membawa virus," titah Briana begitu mendengar Tuti sakit.
***
Morgan berusaha menghubungi Nayara karena ada satu dokumen yang belum dipahami.
Tut! Tut! Tut!
'Ah, kenapa ponsel Nayara mati, tidak biasanya dia mematikan ponselnya seperti ini. Apa mungkin dia bersama Belvan dan tidak mau diganggu olehku. Tapi ini dokumen yang sangat penting.'
"Pak Morgan, anda terlihat gelisah, Apakah meting tadi tidak berjalan lancar?"
"Tidak, metingnya berjalan lancar, tapi entah kenapa firasat ku merasakan kalau telah terjadi sesuatu dengan Nayara."
"Apa anda mulai merindukan Nayara, Pak." Andre tersenyum sambil mengekor dibelakang Morgan lalu duduk di kursi yang ada di depan kursi kebesaran direktur.
"Aku tidak tahu, Andre jika sampai aku menaruh hati pada Nayara bukankah itu salah." Morgan berulang kali masih mencoba menghubungi Nayara.
Andre diam, dia tahu itu salah, tapi manager itu juga tahu kebiasaan sang istri yang mengambil uang nyaris tiada henti, dan tak jarang bertemu diluar bertingkah seperti wanita malam.
"Aku tidak tahu, Pak. Semua tergantung Anda dan Nayara."
Morgan tersenyum. "Jika aku menikah lagi. Klien juga akan mempertanyakan kesetiaan ku, mereka akan ragu bekerja sama denganku."
__ADS_1
"Anda benar," ujar Andre.
"Manager Andre tolong handle semua pekerjaanku hari ini, aku akan menemui Nayara, ponselnya masih saja mati."
"Iya, baiklah. Hati hati, Pak."
Manager Andre segera mengambil alih pekerjaan Morgan.
Morgan terpaksa kembali ke apartemen untuk ke sekian kalinya, lelaki itu berfikir kalau Nayara dan Belvan akan melakukan sesuatu yang melanggar norma, lelaki lajang dan gadis belia bisa saja terjebak dalam cinta gila, apalagi mengingat kemarin dia telah menghabiskan waktu berdua di pantai.
Entah perasaan karena butuh Nayara disisinya sebagai sekretaris, atau perasaan cemburu pada Belvan, yang jelas Morgan makin hari makin kepikiran Nayara. Dia terus saja menatap pada kaca samping saat Tomi sibuk mengemudi.
Sampai di Apartemen, Morgan masih menghubungi Nayara, tapi hasilnya masih sama, Morgan dengan cepat naik lift, kebetulan siang hari lift tidak begitu antri membuat dia bisa leluasa menggunakannya.
Morgan melihat apartment Nayara sangat sepi, tidak ada Belvan atau siapapun di Balkon.
Morgan berpikir mungkinkah mereka ada di dalam, atau sedang bermesraan, Pikiran buruk semakin mengganggu jiwanya, mengingat dia juga pernah tidur sekamar dengan Nayara.
"Nay!" Suara keras morgan sambil membuka pintu apartement, Dia ingin membuat Nayara atau Belvan terkejut andai dia sedang bermesraan.
"Tuan!" Yang terlihat hanya Bi Nunik yang sangat panik.
"Bi, ada apa? Dimana Nayara?"
"Bibi, pasti bercanda?" Mata Morgan membesar, mencengkeram bahu bibi yang hanya setinggi dada. "Siapa yang menculiknya?"
"Yang menculiknya saya tidak tahu tuan, saya tidak kenal mereka."
"Tomi, lekas antarkan aku ke suatu tempat, kita ikuti kemana Briana pergi" ujar Morgan yang sudah menyalakan
"Siap Tuan."
"Bibi, tolong hati hati, jaga semua barang Nayara, aku akan mencari Nayara sampai ketemu."
"Baik Tuan. Tuan, tolong temukan Nona, aku tidak mau nona mengalami nasib buruk."
Morgan mengangguk, menuruni lift dengan langkah lebar, emosi begitu kentara di wajahnya, Morgan mencurigai Briana cemburu dan melakukan ini semua untuk memberi hukuman padanya, karena sudah mengabaikan dirinya beberapa hari ini.
***
Briana tengah menuju gudang, dia terlebih dahulu menemui Nayara dan akan sedikit memberinya pelajaran.
__ADS_1
"Nyonya, wanita ini terlihat lapar, tubuhnya lemas, apakah sebaiknya kita beri dia makan dulu?" Ketua preman melapor mengingat Nayara belum makan apapun selama sehari.
"Aku bilang jangan, jika kamu memberinya makan, Lalu buat apa kita menculik wanita itu" ujar Briana dengan tatapan membunuh, saat baru turun dari mobil.
Mereka semua diam, dan mengekor di belakang Briana. Briana melangkah masuk dan tersenyum kala melihat Nayara dalam kursi kumuh dengan tangan dan kaki terikat.
"Nayara! Apa kabar?" Briana berkata lemah lembut, wanita yang kini memakai sepatu hak tinggi itu berjalan dengan langkah gemulai mendekati Nayara.
Nayara yang mulutnya dilapban hanya bisa menatap Briana dengan mata berkaca. Nayara berusaha untuk tetap menunjukkan sisi tegar. tidak merengek atau memohon.
"Nayara, kamu tahu kenapa ada disini?" Briana membungkuk sambil tersenyum.
Nayara menggeleng, pertanda tidak tahu.
"Tidak tahu!!" ujar Briana pura pura masang ekspresi terkejut.
"Masa tidak tahu? jangan bohong Nayara." Briana menarik dagu Nayara kasar hingga wajah adik tirinya mendongak keatas.
"Jika kamu tidak tahu, aku akan memberi tahu. Dengarkan baik baik."
Briana meminta cambuk pada salah satu preman yang ditugasi membawa benda laknat itu.
Jedarr!
Briana melayangkan cambukan pertamanya tepat pada punggung Nayara untuk pertama kali.
"Issshh." Nayara mendesis kesakitan, matanya reflek mengeluarkan air mata karena menahan sakit.
"Kamu tahu cambukan pertama itu untuk apa?" Briana kembali menarik dagu Nayara hingga dia bisa melihat Nayara yang menangis.
"Ayo menangislah, cambukan pertama itu untuk kamu yang telah berani mendekati Morgan."
"Kamu tahu, Morgan sangat berarti buat aku, dia hidupku, jangan harap aku akan membaginya dengan siapapun. Termasuk sekretaris murahan sepertimu."
Jedarr!!
Briana kembali memukul punggung Nayara untuk yang kedua kalinya.
Kali ini Nayara benar-benar menangis, rasa sakit yang ditimbulkan dari tiap pukulan cambuk itu sangat luar biasa, Nayara menggelengkan kepalanya tidak tahan lagi dengan sakitnya.
"Sakit ya?" Briana menarik rambut Nayara hingga rambut yang biasanya bergerak indah sesuai irama langkahnya itu rasanya nyaris copot dari akarnya. "Tentu sangat sakit, itu balasan untuk wanita yang namanya disebut oleh Morgan ketika kami sedang berhubungan.
__ADS_1
'Morgan menyebut namaku saat memadu kasih dengan Briana, tidak mungkin Briana pasti salah dengar, aku dan morgan jelas tidak ada hubungan apa-apa, kenapa harus mengingatku.' Nayara sekarang tahu kenapa Briana begitu membencinya.